Esai

Dari Luar ke Dalam Istana: Rocky Gerung, Kresna, dan Semar

SW60Plus.com, 05 Oktober 2026, 05:47 WIB
Kabul Budiono
Kabul Budiono
· 27x dilihat

ROCKY Gerung, yang selama ini dikenal sebagai intelektual yang kerap menyampaikan pandangan kritis terhadap kekuasaan, kini  masuk ke dalam lingkar kekuasaan. Pada 2 Oktober 2026, Presiden Prabowo Subianto melantiknya sebagai salah satu anggota Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia (Wantimpres), bersama 25 anggota lainnya. Perubahan posisinya itu mengundang perhatian masyarakat. Media sosial banjir komentar mengenainya.  


Wacana dan beda pendapat di ruang publik muncul disebabkan oleh pandangan, bagaimana seorang intelektual yang selama ini dikenal kritis dan bebas menggunakan diksi tolol, goblok atau dungu, dapat tetap menjaga sikap kritisnya setelah masuk ke dalam lingkar kekuasaan? 


Sebelum membahas lebih lanjut, siapapun tentu perlu paham apa sebenarnya tugas Wantimpres? 


Pasal 16 UUD 1945 menyebutkan bahwa Presiden membentuk suatu dewan pertimbangan yang bertugas memberikan nasihat dan pertimbangan kepada Presiden, yang selanjutnya diatur dalam undang-undang. Ketentuan tersebut menjadi dasar konstitusional Wantimpres. Pasca gerakan reformasi yang mendorong amandemen UUD 45 mengubah nama kelembagaan dari Dewan Pertimbangan Agung menjadi Dewan Pertimbangan Presiden. ( Wantimpres ).

Pengaturannya terdapat dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2006 tentang Dewan Pertimbangan Presiden, yang kemudian diubah melalui Undang-Undang Nomor 64 Tahun 2024. UU tersebut pada dasarnya menempatkan Wantimpres sebagai lembaga yang memberikan nasihat dan pertimbangan kepada Presiden. Aturan perundangan undangan itu menyatakan bahwa Wantimpres bukanlah lembaga yang mengambil keputusan menggantikan Presiden. Presiden tetap pengambil keputusan. Wantimpres memberikan pertimbangan.


Di sinilah saya melihat sesuatu yang menarik dengan memahami bahwa memberikan pertimbangan sesungguhnya membutuhkan sikap kritis. 


Setelah pelantikan, Rocky sendiri mengatakan bahwa Wantimpres bertugas bersikap “kritis terhadap kebijakan”. Ia membedakan antara mengkritik dan bersikap kritis. Menurutnya, tugas Wantimpres adalah melihat persoalan secara mendalam, menggunakan kepekaan etis, membaca perkembangan masyarakat, kemudian memberikan pertimbangan sebagai bahan bagi Presiden dalam mengambil keputusan. 
Lantas apa bedanya di luar dan di dalam. Selama berada di luar lingkar kekuasaan, seorang intelektual mempunyai jarak. Dan jarak itu sungguh berguna. Dari kejauhan seseorang dapat melihat sesuatu secara lebih bebas. Ia dapat mempertanyakan kebijakan, mengkritik keputusan, membaca reaksi masyarakat, dan menyampaikan pandangan tanpa harus terlibat langsung dalam proses pengambilan keputusan.
Tetapi berada di dalam juga mempunyai keuntungan. Orang yang berada di dalam dapat mengetahui persoalan secara lebih dekat. Ia dapat memahami proses yang tidak selalu terlihat dari luar. Ia dapat menyampaikan pertimbangan langsung kepada pengambil keputusan.
Karena itu, perpindahan Rocky dari luar ke dalam sebagai sesuatu yang otomatis membuat sikap kritisnya hilang. Mengapa? Yang berubah adalah ruangnya. Dahulu kritik disampaikan di ruang publik. Kini pertimbangan dapat disampaikan langsung kepada Presiden. Jika sebelumnya Ricky berbicara mengkritik mengenai kekuasaan. Kini ia memiliki kesempatan untuk berbicara kepada kekuasaan.  


Kresna sebagai Cermin
Dalam dunia pewayangan, ada satu tokoh yang menurut saya menarik untuk dijadikan cermin, yaitu Kresna. Kresna bukan raja Pandawa. Ia bukan orang yang duduk di singgasana Yudhistira. Tetapi pengaruh Kresna terhadap perjalanan Pandawa sangat besar.
Mengapa? Karena Kresna mampu melihat persoalan lebih luas. Ia memahami keadaan, membaca karakter manusia, memperhitungkan risiko, mempunyai kebijaksanaan dan kemudian memberikan nasihat.
Kresna mengajarkan kepada kita bahwa seseorang tidak harus menjadi penguasa untuk ikut menentukan arah perjalanan kekuasaan.Ia dapat memengaruhi kekuasaan dan melalui pikiran dengan pertimbangan pertimbangan berupa nasihat. 
Dalam konteks pewayangan ini, seorang Kresna  mempunyai posisi yang tidak hanya menarik, tetapi penting bahkan strategis. Kresna seakan mengajarkan dekat dengan kekuasaan boleh, tetapi jangan kehilangan kemampuan untuk melihat kekuasaan secara jernih serta berpikir dengan nalar yang kritis. 
Ada sosok dalam pewayangan  yang bahkan lebih dekat dengan filosofi kehidupan yang selama ini sering saya renungkan dan pernah saya tuliskan, yaitu Semar.
Semar bukan dari kalangan elite seperti Kresna. Ia dari kalangan rakyat jelata dengan penampilannya ora mitayani, alias tidak meyakinkan dan sangat sederhana. Namun, ia menjadi pamomong para ksatria, mendampingi, mengingatkan, dan  memberi nasihat. Dan yang paling penting, Semar tidak pernah kehilangan keberanian moral hanya karena ia berasal dari kalangan rakyat namun berada dekat dengan para penguasa.
Di sinilah saya menemukan pelajaran yang  penting. Kedekatan tidak harus berubah menjadi ketundukan. Seseorang dapat dekat dengan penguasa tanpa harus kehilangan suara.
Idealnya, dan sesuatu aturan yang mendasarinya Anggota Wantimpres, dan Rocky yang menjadi perhatian besar dari publik, tentu dapat berlaku seperti Kresna dan Semar. 
Dapat membantu pemerintah melakukan telaah kritis dan nasehat  tanpa harus membenarkan seluruh kebijakan pemerintah. Dan yang pasti dilakukan secara etis tanpa menggunakan kata kasar yaitu dungu, atau goblok.  
Pertanyaannya adalah  apakah Rocky Gerung akan tetap menjadi Rocky Gerung setelah masuk Wantimpres?
Yang saya maksud tentu bukan gaya bicaranya. Bukan pula apakah ia akan tetap nyampaikan kritik di depan kamera seperti sebelumnya. Yang saya maksud adalah apakah ia tetap mempertahankan kemerdekaan berpikirnya?
Sebab sikap kritis tidak berarti seseorang harus selalu mengatakan “tidak”. Sikap kritis bukan berarti harus selalu berseberangan dengan pemerintah. Kemampuan untuk menguji sebelum menyetujui.
Kemampuan untuk mengatakan ada yang perlu diperbaiki ketika memang ada sesuatu yang perlu diperbaiki. Atau kemampuan untuk mengatakan bahwa sesuatu memang baik ketika memang baik. Karena itu, seorang intelektual tidak kehilangan sikap kritis hanya karena ia berada di dalam lingkar kekuasaan.  
Dalam hal Wantimpres, Yang Diuji Bukan Hanya Rocky, tetapi semua anggota. Bahwa yang menjadi sorotan adalah Rocky Gerung, tentu karena ia begitu terkenal, dengan gaya yang sering kontroversial.  
Dan penetapan ketua dan anggota Wantimpres juga memberikan isyarat bahwa kekuasaan juga sedang diuji. Apakah kekuasaan benar-benar memberikan ruang bagi penasihat untuk menyampaikan pandangan yang berbeda? Apakah pertimbangan yang diberikan boleh berbeda dengan keinginan penguasa? Apakah kritik dapat diterima sebagai bagian dari proses memperbaiki kebijakan? Yang pasti dalam UU No. 64 Tahun 2024 diatur bahwa  “ nasihat dan pertimbangan wajib diberikan, baik diminta maupun tidak diminta oleh Presiden; nasihat dan pertimbangan dapat disampaikan secara perorangan oleh anggota Wantimpres; atau dapat disampaikan sebagai satu kesatuan nasihat dan pertimbangan seluruh anggota Dewan. 
Jadi, secara hukum, seorang anggota Wantimpres tidak harus menunggu Presiden bertanya terlebih dahulu. Ia punya kewajiban memberikan nasihat dan pertimbangan dalam lingkup tugasnya. 
Dalam dunia pewayangan selalu digambarkan para Raja dan Ksatrian selalu terbuka telinga dan pikirannya mendengar nasehat dari  Kresna dan Semar. Para penonton pun dapat mengetahuinya karena menjadi bagian cerita. 
Pertanyaannya bagaimana dalam kesunyatan negara Indonesia ? Apakah pemegang mandat kekuasaan dan pemerintahan mau mendengarkan masukan kritis dan nasihat dari Rocky Gerung yang sudah ada di dalam lingkaran mereka ? 
Aturan perundangan menegaskan bahwa   dalam menjalankan tugas dan fungsinya, anggota Wantimpres tidak dibenarkan memberikan keterangan, pernyataan, dan/atau menyebarluaskan isi nasihat dan pertimbangan kepada pihak mana pun. 
Nah dari sini publik sangat sulit mengetahui nasehat apa yang diberikan, dan apakah Presiden mau mendengarkan dan menerima nasehat itu. 


Yang pasti Rocky Gerung tak bisa sembarangan bicara terbuka, menjawab pertanyaan secara perorangan  dengan gaya serta kemeja singlet seperti sebelumnya. Jadi, time will tell.  *

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000