Dari Sabang Sampai Merauke : Indonesia Emas Untuk Siapa ?
SETIAP menjelang peringatan Hari Proklamasi biasanya kita akan mendengar lagi lagu “Dari Sabang sampai Merauke”, berkumandang . Lagu sederhana yang kemudian menjadi jargon populer ini sebenarnya menyimpan gagasan yang luar biasa besar bahwa ribuan pulau yang dipisahkan laut adalah satu tanah air, satu bangsa dan satu Indonesia.
Mengacu pada orang Amerika (USA), mereka juga punya lagu serupa, "This Land is My Land". Sebagian liriknya berceita tentang posisi dan lokasi negeri itu … From California to the New York Island - from Redwood forest to the Gulf Stream waters..This is land is made for you and me…
Kita juga bisa begitu. Dengan bangga kita menyanyikan “..dari Barat sampai ke Timur, sambung-menyambung menjadi satu. Itulah Indonesia”. Kini ada lagi tambahan jargon… “..dari Miangas sampai Pulau Rote”.
Tapi beda dengan Amerika, Indonesia memang secara geografis sudah terpisah oleh laut, pulau, gunung dan jarak.. Geografi kita unik, tak satupun negeri yang sama dengan kita. Itu kodrat Indonesia.
Setelah 81 tahun merdeka apakah “Dari Sabang sampai Merauke” sudah benar-benar kita wujudkan ? Atau, masihkah sebatas jargon persatuan yang kita nyanyikan setiap bulan Agustus ? Enak didengar tapi sulit dibuktikan.
Kita tidak yakin apakah seorang anak di Sabang merasa bahwa Merauke adalah bagian dari kehidupannya, atau sebaliknya ? Kita tak bisa menghilangkan kenyataan banwa Indonesia adalah negara kepulauan. Laut memisahkan pulau dengan pulau . Tetapi laut seharusnya hanya memisahkan secara geografis, bukan memisahkan kesempatan.
Karena itu kita memerlukan “jembatan”. Persoalannya adalah bagaimana kita membangun “jembatan” agar laut tidak berubah menjadi jarak. Yang saya maksud bukan hanya jembatan fisik, bukan jembatan beton. Ada bermacam “jembatan”: transportasi jalan, pelabuhan, penerbangan, kapal perintis adalah alat untuk mengubah slogan persatuan itu menjadi kenyataan. Kemerdekaan seharusnya membuat jarak geografis itu tidak menjadi jarak sosial, ekonomi, budaya dan emosional. Apakah persatuan sudah terasa sama kuatnya di seluruh pelosok?
Mungkin yang paling penting adalah jembatan pendidikan. Persatuan akan lebih kuat kalau orang Indonesia saling mengenal bukan hanya saling mengetahui dari buku pelajaran. Sementara bagi sebagian anak-anak di daerah harus menempuh perjalanan sulit untuk sekolah.
Sekarang internet bisa melakukan sesuatu yang dulu mustahil. Mustinya, teknologi bisa menjadi “laut yang tidak lagi memisahkan”.
Indonesia bukan negeri miskin sumber daya. Kita memiliki tambang, hutan, perkebunan, pertanian, energi dan kekayaan alam lainnya. Tapi kemana kekayaan itu mengalir? Seberapa jauh kekayaan tersebut kembali menjadi kesejahteran bagi masyarakat di daerah tempat kekayaan itu berasal?
Persatuan akan terasa lebih nyata kalau hasil bumi seperti batubara, nikel, tembaga, sawit dari satu daerah bisa dinikmati dan memberi manfaat kepada daerah lain. Setiap daerah seharusnya memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang. Bukan tersimpan di brandkas atau villa oknum pejabat.
Kekayaan alam dan bumi hendaknya tidak dihitung dalam ton, hektar atau dollar. Kekayaan alam dan bumi pada akhirnya harus menjadi kekayaan manusia. Ya, ukuran akhirnya adalah manusia. Apakah anak-anak mendapat pendidikan lebih baik? Apakah masyarakat mendapat pekerjaan? Di sinilah muncul pertanyaan lain: bagaimana kekayaan nasional dapat menjadi jembatan pemerataan?
Kalau seorang anak harus berjuang menyeberangi sungai untuk mencapai sekolah sementara kita dengan mudah berbicara tentang Indonesia Emas, bukankah ada jembatan yang belum selesai kita bangun? Kalau Indonesia menjadi semakin kaya tetapi sebagian anak Indonesia tetap tertinggal karena tempat kelahirannya, apakah kita sudah benar-benar mencapai Indonesia Emas?
Kita tak perlu berhenti menyanyikan “Dari Sabang sampai Merauke” tetapi lagu itu harus menjadi pekerjaan rumah bersama. “Dari Sabang, sampai Merauke” bukan sekadar menunjukkan batas geografis Indonesia. Ia harus berarti bahwa pendidikan, kesempatan, kesejahteraan, teknologi dan harapan juga bergerak dari Sabang sampai Merauke.
Kita tak mungkin menghilangkan laut yang memisahkan pulau-pulau Indonesia tapi kita bisa membangun cukup banyak jembatan agar laut tidak memisahkan masa depan anak-anak Indonesia. Sebab Indonesia Emas bukanlah ketika Indonesia hanya menjadi kaya melainkan ketika kekayaan Indonesia membuat semakin banyak rakyat - dari Sabang sampai Merauke - memiliki masa depan yang lebih baik.
Tangerang Selatan, 15 Agustus 2026
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar