Hebat atau Beruntung ?
MICHAEL Lewis, penulis Amerika yang dikenal lewat Liar's Poker, Moneyball, dan The Big Short, memiliki kisah karier yang bermula dari sebuah pertemuan tak terduga saat makan malam.
Suatu malam, ia menghadiri jamuan makan. Kebetulan, kursinya berada di sebelah istri seorang petinggi Salomon Brothers, perusahaan investasi besar di Wall Street. Mereka mengobrol, lalu dari pertemuan tersebut terbuka kesempatan bagi Lewis untuk bekerja di sana.
Ia masuk ke dunia keuangan pada saat yang menarik. Wall Street sedang mengalami perubahan besar. Lewis berada cukup dekat untuk menyaksikan bagaimana uang, ambisi, kecerdikan, dan keserakahan saling bertemu.
Pengalaman itulah yang kemudian ia tuangkan dalam Liar's Poker, buku yang terbit pada 1989 dan mengantarkannya menjadi penulis terkenal.
Lewis memang mempunyai kemampuan menulis. Ia juga jeli membaca perilaku manusia. Tetapi, apakah dia bisa menghasilkan karya Liar’s Poker seandainya malam itu ia tidak datang? Atau datang, tetapi duduk di meja berbeda?
Boleh jadi ia tetap sukses. Namun, jalan yang membawanya ke sana hampir pasti tidak sama.
Lewis sendiri mengakui besarnya peran keberuntungan dalam perjalanan kariernya. Pengakuan yang menarik, sebab orang yang telah berhasil biasanya lebih mudah mengingat kerja kerasnya daripada kebetulan yang ikut menolongnya.
Cerita Robert H. Frank bahkan lebih mengejutkan.
Pada awal karier akademiknya di Cornell University, Frank sedang menghadapi masa yang tidak mudah. Perkawinannya berakhir. Ia harus mengurus dua anaknya, sementara produktivitas penelitiannya tertinggal. Untuk ukuran dosen muda yang berharap memperoleh jabatan tetap, keadaan itu cukup mengkhawatirkan.
Lalu datang Ned Gramlich, ekonom senior yang tertarik pada gagasan-gagasannya. Gramlich mengajak Frank menulis makalah untuk sebuah buku akademik.
Frank menyambut kesempatan itu. Ia mengerjakan makalahnya dengan serius dan menyerahkan naskah yang menurutnya cukup baik.
Tak lama kemudian, kabar buruk datang. Proyek bukunya dibatalkan.
Dalam situasi seperti itu, orang bisa saja kehilangan semangat. Tapi, Frank justru mencoba jalan lain. Makalah yang gagal masuk buku tadi dikirimkannya ke Econometrica, salah satu jurnal ekonomi paling bergengsi.
Dua perjalanan sukses membuktikan bahwa nasib sering bekerja melampaui rencana manusia.
Hasilnya di luar dugaan. Makalah tersebut diterima dengan cepat, tanpa tuntutan revisi besar. Beberapa penelitian berikutnya juga berhasil menembus jurnal-jurnal terkemuka.
Rangkaian keberhasilan itu memperkuat posisinya di Cornell. Karier akademik yang sebelumnya tampak terancam akhirnya berlanjut.
Frank kemudian mengakui bahwa keberuntungan ikut menentukan hasil tersebut.
Dalam tahun-tahun berikutnya, ia justru lebih sering menghadapi penolakan dan proses penilaian jurnal yang panjang.
Ada ironi yang sulit diabaikan. Lewis memperoleh kesempatan karena sebuah pertemuan yang tidak direncanakan. Frank memperoleh kesempatan baru setelah rencana yang diharapkannya gagal.
Yang satu beruntung karena bertemu orang yang tepat. Yang lain beruntung karena sebuah penerbitan dibatalkan.
Dari dua pengalaman itu, Frank mengembangkan gagasan penting dalam bukunya, Success and Luck: Good Fortune and the Myth of Meritocracy.
Ia tidak mengatakan bahwa kerja keras tak berguna. Justru sebaliknya. Orang yang berhasil umumnya memiliki kemampuan dan kesungguhan luar biasa. Masalahnya, banyak orang lain juga memiliki kualitas serupa, tetapi tidak menikmati hasil yang sama.
Mengapa?
Salah satu jawabannya adalah kesempatan.
Dalam psikologi dikenal istilah hindsight bias. Setelah mengetahui hasil suatu peristiwa, kita cenderung merasa hasil itu memang sudah dapat diduga sejak awal.
Begitu seseorang sukses, perjalanan hidupnya tampak masuk akal. Kita melihat keputusan-keputusannya sebagai bukti kecerdasan, kegagalannya sebagai latihan mental, dan keberhasilannya sebagai buah ketekunan.
Padahal, ketika semua itu sedang berlangsung, masa depannya belum jelas. Ada banyak kemungkinan yang bisa membawa cerita ke arah berbeda.
Persoalannya bukan sekadar bagaimana kita memahami orang sukses. Cara berpikir ini juga memengaruhi penilaian kita terhadap mereka yang belum berhasil.
Kita terlalu mudah berkata, “Kalau mau bekerja keras, pasti bisa.”
Tapi, apakah sesederhana itu?
Bagaimana dengan orang yang sama tekunnya, tetapi tidak memiliki akses pendidikan, jaringan pertemanan, atau kesempatan menunjukkan kemampuan? Apakah kegagalannya selalu membuktikan bahwa ia kurang berusaha?
Kisah Lewis dan Frank mengingatkan bahwa hidup bukan perlombaan dengan garis awal yang sama.
Lantas, apakah kita sebaiknya menyerahkan semuanya kepada nasib? Tentu tidak.
Kita tetap perlu belajar, bekerja sungguh-sungguh, menjaga hubungan baik, dan berani mencoba ketika rencana pertama gagal. Lewis tidak akan menulis buku yang berhasil tanpa kemampuan. Frank pun tidak mungkin menembus jurnal bergengsi dengan penelitian seadanya.
Keberuntungan bukan pengganti usaha. Tetapi usaha juga bukan jaminan bahwa keberuntungan akan datang.
Mungkin pelajaran terpenting justru muncul setelah seseorang berhasil: jangan merasa telah mencapai semuanya sendirian.
Ada orang yang pernah memberi kepercayaan. Ada lingkungan yang menyediakan kesempatan. Ada keputusan orang lain yang tanpa sengaja mengubah jalan hidup kita.
Mengingat semua itu tidak membuat keberhasilan menjadi kurang berharga. Sebaliknya, kita belajar mensyukurinya tanpa merendahkan orang yang belum sampai.
Dan barangkali, ketika memiliki kesempatan, kita bisa menjadi orang yang membuka jalan bagi orang lain. Seperti seseorang yang memberi Lewis pekerjaan. Atau Gramlich yang melihat potensi Frank ketika kariernya sedang sulit.
Sebab, siapa tahu, kesempatan kecil yang kita berikan hari ini kelak mengubah kehidupan seseorang.
Dan di balik semua itu, ada pertanyaan yang lebih mengusik dan mungkin tidak nyaman dijawab.
Jika kita dilahirkan dalam keluarga berbeda, tumbuh di lingkungan berbeda, dan tidak pernah bertemu orang-orang yang membantu kita, apakah kita masih akan sesukses sekarang?
Kalau jawabannya belum tentu, mungkin sudah waktunya berhenti menganggap setiap orang yang tertinggal sebagai orang yang kurang berjuang.
Bisa jadi mereka telah bekerja sama kerasnya. Hanya saja, kehidupan belum pernah menyediakan kursi kosong di meja yang tepat.
Edhy Aruman
JAM 6 TENG — enam menit untuk membaca, seharian untuk merenung
RUJUKAN
Robert H. Frank. (2016). Success and Luck: Good Fortune and the Myth of Meritocracy. Princeton University Press.
Kisah Michael Lewis: Preface, hlm. xii–xiv. Kisah Robert H. Frank: Bab 2, hlm. 25–29. Pembahasan hindsight bias: Bab 2.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar