Jangan Keburu Menganggap Merdeka
BELAKANGAN, jelang Hari Kemerdekaan ke-81 RI, saya sering menjumpai sekian kalimat atau semacam kutipan di media sosial yang intinya: Jangan merasa merdeka jika kemiskinan dan ketidakadilan masih ada di mana-mana".
Kalau dibikin versi sederhana, mungkin begini : jangan keburu bilang 'merdeka !' kalau masih banyak tetangga kita yang hidupnya serba susah. Perspektifnya, merdeka itu bukan cuma soal pasang bendera, upacara 17-an, apalagi lomba balap karung.
Tapi cobalah tengok kanan-kiri. Kalau masih ada yang perutnya kosong, anak nggak bisa nerusin sekolah lantaran ortunya susah biaya, atau ada orang diperlakukan nggak adil cuma karena 'bukan siapa-siapa' -- berarti PR kita belum selesai.
Mari kita tengok ke belakang, cobalah maknai tetes darah dan keringat para patriot.
Nelson Mandela pernah mengingatkan: bebas itu bukan cuma lepas dari rantai yang membelenggu, tapi memastikan orang lain ikut bebas juga. Jadi merdeka itu kerja bareng, sejahtera bareng.
Dalam konteks potongan kalimat alinea teratas "jangan merasa merdeka", itu teguran halus. Jangan euforia dulu.
Sementara soal "kemiskinan" adalah manakala menganggap sudah merdeka, tapi celaka masih banyak yang bingung bagaimana cara nebus obat, masih banyak yang mikir besok makan apa. Dan bejibun orang stres lantaran uang kontrak kamar bulanan mesti dibayar pakai alokasi dana mana lagi.
Dan "ketidakadilan" itu kalau hukum tajam ke bawah, tumpul ke atas -- akses sama namun kesempatan nggak rata.
Dan kata "di mana-mana" berarti masalahnya bukan satu dua kasus. Itu sistemik. Jadi, ini semua urusan kita.
Terkait itu, teman saya yang dua orang anaknya berprofesi sebagai dokter, pernah bilang lewat postingan Facebooknya 18 Mei 2025 sebagaimana kutipan kalimatnya saya cantumkan di esai saya berjudul "Kebenaran Selalu Muncul ke Permukaan" yang dimuat di portal berita SW60+ 10 Agustus 2026 :
"Sedalam apapun kebenaran ditenggelamkan, dia akan menemukan jalan untuk muncul ke permukaan."
Versi praktisnya: selama keadilan belum merata, selama kebenaran masih ditutup-tutupi -- kita belum bisa teriak 'merdeka!' dengan tenang, guys. Ibarat rumah sudah dicat bagus, tapi atapnya masih saja bocor.
Tentang kemerdekaan, Thomas Jefferson menulis begini: semua orang punya hak buat "hidup, bebas, dan mengejar bahagia". Kalau pemerintahnya zalim, rakyat berhak mengkoreksi.
Bung Karno lebih komplit lagi. Beliau bilang merdeka itu ada tiga poin: merdeka politik 1945; merdeka ekonomi biar tidak miskin di negeri sendiri; merdeka mental biar tidak jadi bangsa kacung.
BK juga mengingatkan sebagaimana sering kita dengar : "Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah. Tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri."
Lantas apa kata Che Guevara : "Jika kamu gemetar karena marah melihat setiap ketidakadilan, maka kita adalah kawan."
Jadi kesimpulannya begini.
Mandela : merdeka bareng-bareng.
Jefferson : mengingatkan pemerintahan yang serong.
BK : merdeka politik, ekonomi, mental.
Che : ketidakadilan adalah musuh bersama.
Maka kalimat, "Jangan merasa merdeka jika kemiskinan dan ketidakadilan masih ada di mana-mana", bukan buat bikin kita pesimistis. Itu cambuk, setidaknya bertolak dari etos perjuangan empat patriot di atas.
Selama masih ada yang tertindas, tugas kita buat ngebenahin negeri ini belum selesai,.(*).
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar