Jangan Merasa Kuat Jika Satu Lidah Bisa Meruntuhkan Tembok Sabarmu
JUDUL ini dalem banget, guys. Bukan cuma soal "sabar ya, sabar ..." Tapi ini soal bagaimana kita mengatur diri, berhubungan dengan orang, dan InsyaAllah akan senantiasa diikuti kedewasaan.
Sering kita merasa "Saya orangnya sabar kok". Tapi coba kalau ada yang menyindir, ngeledek, atau ngomong pedes sekali saja -- langsung naik darah, langsung kepikiran seharian.
Nah, itu artinya tembok sabar kita masih bolong.
Jadi kuat itu bukan pas kita diem saja enggak marah. Kuat itu pas ada orang nyoba ngatur emosi kita lewat omongannya, tapi kita masih bisa milih: mau nanggepin apa enggak.
"Satu lidah" itu ya omongan orang. Gak pake tangan, tapi bisa menyakitkan. Gak pake senjata, tapi bisa ngerusak hubungan bertahun-tahun.
Masalahnya bukan cuma pada omongan orang yang boleh jadi bersliweran, guys. Tapi pada kita yang ngasih izin ke omongan itu buat ngacak-ngacak ketenangan kita.
Intinya: jangan kasih kekuasaan penuh ke kata-kata orang buat menentukan mood kita hari ini.
Kita semua punya tombol "sensitif". Ada kata tertentu yang kalau denger langsung ke-trigger.
Marah, sedih, merasa direndahkan,
itu manusiawi banget. Bukan berarti lemah.
Yang bikin beda itu prosesnya.
Orang yang sudah lebih dewasa emosinya, polanya begini: denger, sadar, "Oh aku kesel", jeda sebentar. Baru kemudian milih mau merespon secara bagaimana.
Bukan: dengar, langsung meledak.
Jadi kekuatan psikologi itu bukan nahan emosi sampe meledak di dalam. Tapi bisa ngelola emosi tanpa kehilangan kendali diri sendiri.
Pertanyaannya simpel: yang mengendalikan Anda itu Anda, atau omongan orang?
Kalau cuma gara-gara beberapa kata lantas kita bisa marah seharian, berarti tanpa sadar kita sudah menyerahkan remote control emosi kita ke orang lain.
Mirip filosofi Stoik. Kita gak bisa ngatur orang ngomong apa. Tapi kita bisa ngatur bagaimana kita menilainya dan bagaimana kita meresponnya.
Kekuatan beneran itu bukan pas kita bisa ngatur orang. Tapi pas bisa ngatur diri sendiri.
Jadi inti dari kalimat sahabat saya yang saat ini berada di Bangkok untuk tugas kedinasan, yang diposting di beranda Facebook-nya tanggal 4 Juli 2025 sebagaimana saya jadikan judul tulisan ini,
paradoksnya : tembok sabar yang kita bangun bertahun-tahun, bisa roboh cuma gara-gara obrolan 5 detik.
Artinya, jika sabar kita gak dibarengi dengan kesadaran diri, ya rapuh juga.
Orang dewasa itu bukan yang gak pernah kesulut. Tapi yang pas ada orang nyoba meruntuhkan temboknya, dia masih bisa bilang dalam hati:
"Oke aku denger Anda ngomong. Tapi aku gak bakal kasih Anda kendali atas diriku."
Singkatnya :
Kuat itu bukan soal setinggi apa tembok sabar kita, guys. Tapi soal masih pegang kendali apa enggak, pas ada orang yang sengaja mau merobohkan. (*).
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar