Esai

Jantung

SW60Plus.com, 05 Oktober 2026, 07:11 WIB
Edhy Aruman
Edhy Aruman
· 7x dilihat

MARYA Sklodowska sejak kecil mempunyai kebiasaan yang kelak menentukan hidupnya: ia ingin memahami sesuatu sampai ke jantungnya. Hidup tidak memberinya jalan yang mudah, tetapi rasa ingin tahunya seperti pohon yang keras kepala—semakin sempit ruang tumbuhnya, semakin kuat akarnya mencari jalan.


Ketika keluarganya mengalami kesulitan ekonomi, Marya ikut mengerjakan pekerjaan rumah sambil tetap belajar. Pendidikan tinggi bahkan belum terbuka baginya di Polandia, sehingga ia bekerja sebagai pengasuh dan tutor, menabung untuk membantu kakaknya kuliah kedokteran di Paris, sebelum akhirnya menyusul ke Prancis dan belajar di Sorbonne.


Di sana kemampuannya mulai terlihat. Dua tahun kemudian ia menjadi yang terbaik di kelas fisika, lalu memperoleh gelar dalam matematika dan masuk semakin jauh ke dunia penelitian.


Kita kemudian mengenalnya dengan nama yang lebih terkenal: Marie Curie.
Bersama Pierre Curie, mitra peneliti yang kemudian menjadi suami Marie, ia meneliti fenomena yang kelak dikenal sebagai radioaktivitas. Pekerjaan itu membawanya meraih dua Nobel dalam dua bidang berbeda—fisika dan kimia—tetapi yang menarik dari Curie bukan hanya apa yang ia temukan di laboratorium, melainkan kemampuannya melihat untuk apa sebuah pengetahuan dapat digunakan.


Ketika Perang Dunia I pecah, Curie melihat tentara yang terluka memenuhi medan perang. Dokter harus menangani peluru dan serpihan yang bersarang di tubuh manusia, sering kali tanpa mengetahui persis letaknya.


Curie melihat sesuatu yang mungkin tidak dilihat orang lain. Teknologi sinar-X bukan lagi sekadar objek penelitian; ia bisa dibawa mendekati medan perang untuk membantu dokter melihat ke dalam tubuh korban tanpa harus menebak-nebak.
Ia bersama putrinya, Irène, mengembangkan penggunaan radiografi dan mendorong ambulans dilengkapi peralatan sinar-X. Curie bahkan melatih sekitar 150 teknisi untuk mengoperasikannya.


Ia berhasil melihat jantung persoalan.


Namun kehidupan Curie menyimpan paradoks yang menyakitkan. Perempuan yang begitu tajam memahami kekuatan radioaktivitas dan membantu membuka jalan bagi radiologi modern justru tidak sepenuhnya memahami bahaya paparan radiasi terhadap tubuhnya sendiri.


Ia bekerja dekat dengan material radioaktif tanpa perlindungan yang memadai. Kesehatannya akhirnya memburuk dan pada 1934 ia meninggal pada usia 66 tahun.
Ada pelajaran yang terasa tidak nyaman di sana. Kita bisa sangat tajam membaca dunia, tetapi tetap mempunyai titik buta ketika membaca diri sendiri.


John C. Maxwell menyebut kemampuan menemukan akar persoalan itu sebagai discernment. Bukan sekadar kecerdasan, dan bukan pula firasat mistis yang membuat kita mendadak menatap jendela ruang rapat sambil berkata, “Perasaan saya mengatakan sesuatu.”

Pemimpin hebat tidak selalu melihat lebih banyak; mereka melihat yang terpenting.

Discernment bekerja ketika pengalaman, logika, dan intuisi bertemu. Maxwell mengutip pemikiran Henry Mintzberg bahwa efektivitas organisasi lahir dari perpaduan logika yang jernih dengan intuisi yang kuat.


Ini penting bagi seorang manajer karena kehidupan organisasi jarang memberikan informasi yang lengkap. Kita harus mengambil keputusan ketika laporan belum selesai, pelanggan belum menjawab, angka bulan depan belum tersedia, dan seseorang tetap bertanya, “Jadi kita putuskan apa, Pak?”


Masalahnya, semakin banyak informasi tidak selalu membuat kita semakin memahami persoalan. Kadang kita memiliki dashboard lengkap, rapat tiga jam, 48 slide PowerPoint, dan tetap pulang tanpa mengetahui apa sebenarnya yang sedang kita selesaikan.


Di sinilah discernment dibutuhkan. Pemimpin yang tajam tidak hanya memotong ranting masalah yang terlihat; ia mencari akar yang membuat ranting itu terus tumbuh kembali.
Maxwell memberi contoh menarik tentang industri jam Swiss. Selama puluhan tahun, Swiss begitu dominan dalam pembuatan jam sehingga pada 1940-an mereka menghasilkan sekitar 80 persen jam dunia.


Kemudian, menurut kisah yang diceritakan Maxwell, pada akhir 1960-an muncul rancangan jam dengan cara kerja yang berbeda. Perusahaan-perusahaan Swiss menolaknya, sementara gagasan tersebut akhirnya menemukan jalan ke Jepang dan Seiko.


Ironinya sulit dilewatkan. Mereka sangat ahli memahami jam yang sudah ada, tetapi keahlian itu tidak otomatis membuat mereka mampu melihat jam yang akan datang.
Pengalaman memang bisa menumbuhkan intuisi. Tetapi pengalaman juga bisa berubah menjadi cermin: kita merasa sedang melihat masa depan, padahal yang terlihat hanyalah pantulan masa lalu.


Karena itu, ketika masalah datang ke meja kita, mungkin jangan langsung bertanya, “Apa solusinya?” Tahan sebentar dan tanyakan pertanyaan yang lebih sederhana: “Apa sebenarnya masalah yang sedang kita coba selesaikan?”


Pisahkan gejala dari akar persoalan. Dengarkan data, tetapi beri tempat bagi pengalaman dan intuisi; kemudian uji kembali intuisi itu dengan fakta, karena firasat yang tidak pernah diuji mudah berubah menjadi prasangka yang memakai jas.
Dan sesekali periksa diri sendiri. Tanyakan apakah keputusan kita lahir karena memang melihat persoalan dengan jernih, atau karena kita terlalu lama melihat dunia dengan cara yang sama.


Marie Curie mengajarkan bahwa penemuan besar dimulai dari keberanian masuk lebih dalam. Kisah industri jam Swiss mengingatkan bahwa pengalaman panjang sekalipun tidak menjamin kita selalu menemukan apa yang tersembunyi di bawah permukaan.


Mungkin itulah pekerjaan paling sunyi seorang pemimpin. Di tengah data, target, rapat, keluhan pelanggan, dan berbagai jawaban yang menuntut keputusan cepat, ia harus terus menggali sampai menemukan jantung persoalan.
Sebab sebuah organisasi tidak selalu tersesat karena pemimpinnya kekurangan jawaban. Kadang ia tersesat karena semua orang sibuk menjawab sesuatu yang sejak awal bukan persoalan sebenarnya.


Dan mungkin kegagalan paling berbahaya seorang pemimpin bukan memberikan jawaban yang salah, melainkan memberikan jawaban yang sangat benar untuk pertanyaan yang salah.

Edhy Aruman
JAM 6 TENG—enam menit untuk membaca, seharian untuk merenung.

RUJUKAN

Maxwell, J. C. (2010). The 21 indispensable qualities of a leader. Thomas Nelson

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000