Merah Putih di Istana, Merah Putih di Hati Rakyat…
SETELAH menonton anak-anak se-RT berlomba makan kerupuk dan lari karung dalam perayaan yang sederhana, saya kembali ke depan televisi. Bangga dan haru saya melihat upacara Hari Kemerdekaan ke-81, 17 Agustus 2026 di Istana Merdeka.
Bangga melihat pasukan dari berbagai angkatan dan polri berbaris gagah. Komandan upacara, pada acara Detik-detik Proklamasi di pagi hari, seorang perwira yang bersuara lantang, dari nama di dadanya, terbaca berasal dari Jawa, dan pada sore hari dari Sulawesi Utara.
Lebih membanggakan melihat pasukan paskibraka. Mereka adalah putra-putri pilihan dari 38 provinsi di seluruh Nusantara. Pemudi yang menerima benders dari tangan Presiden pada pagi hari berasal dari Kalimantan Barat dan pada upacara penurunan bendera berasal dari Papua. Sementara para pemuda yang mengerek tali Sang Saka tampaknya dari Nusa Tenggara Barat, Jambi, dan DI Yogyakarta. Mereka diiiringi oleh pasukan pemuda-pemudi dari Papua Pegunungan, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat dan lain-lain. Saya merasa pasukan ini “sangat Indonesia”. Semua ini memberi semangat persatuan kepada kita.
Kita seperti melihat Indonesia dalam bentuk paling indah. Berbeda suku, berbeda daerah, berbeda latar belakang tetapi berdiri dalam satu barisan. Perbedaan itu seolah mencair. Kita semua adalah Indonesia.
Namun di tengah kebanggaan itu muncul juga sebuah pertanyaan yang mengusik. Apakah menjadi bagian dari Indonesia itu sudah dirasakan sama kuatnya oleh seluruh rakyat, terutama mereka yang tinggal jauh dari Istana?
Mungkin juga simpati saya pada daerah dan orang-orang dari tempat-tempat yang jauh dari pusat pemerintahan itu timbul karena sering membaca bagaimana wilayah-wilayah “pinggir” itu selalu tertinggal dalam aspek sosial ekonomi, pendidikan dan pembangunan dibanding daerah-daerah lain di tanah air.
Di Aceh dan Papua misalnya, kita mendengar kabar tentang aksi-aksi yang bahkan sampai menurunkan atau mengganti Merah Putih. Apapun latar belakang dan tuntutan mereka, fenomena itu mestinya tidak hanya kita lihat sebagai persoalan keamanan atau politik. Mungkin ada suara kekecewaan yang memang perlu didengar.
Di Nusa Tenggara Timur, masyarakat juga sedang menghadapi bencana. Di berbagai daerah lain, rakyat masih bergulat dengan kemiskinan, keterbatasan infrastruktur dan pendidikan serta kesempatan yang belum merata. Padahal sebagian daerah tersebut justru merupakan sumber kekayaan negeri ini.
Di sinilah kita patut bertanya kemana sebenarnya mengalir hasil kekayaan bumi yang mereka miliki? Apakah masyarakat di daerah penghasil sudah merasakan manfaatnya?
Pertanyaan ini semakin terasa menyakitkan ketika pada saat yang sama kita masih mendengar berita tentang pejabat yang korup, memperkaya diri sendiri atau menyalahgunakan kekuasaan. Jangan sampai kekayaan Indonesia yang seharusnya menjadi berkah bagi rakyat justru berubah menjadi sumber kesenjangan dan kekecewaan.
Kemerdekaan tentu bukan sekadar upacara yang berlangsung khidmat di Istana. Bukan pula hanya parade, paskibraka atau kibaran Merah Putih. Bukan pula peragaan pesawat tempur canggih atau defile pasukan kuda yang gagah perkasa. Kemerdekaan seharusnya berarti bahwa setiap anak bangsa di mana pun ia berada, merasa diperhatikan, dihargai dan menjadi bagian yang utuh dari republik ini.
Karena itu saya justru semakin bangga melihat keberagaman paskibraka dan prajurit kita di Istana. Mereka memberi kita gambaran tentang Indonesia yang kita cita-citakan. Indonesia yang bersatu dalam perbedaan.
Tugas kita adalah memastikan gambaran itu tiidak hanya berhenti di halaman Istana. Merah Putih harus berkibar dengan kebanggaan yang sama di Aceh, Papua, NTT, Maluku, Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, Jawa dan seluruh pelosok negeri. Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote. Sebab pada akhirnya kemerdekaan bukan hanya soal bagaimana kita mengibarkan Merah Putih. Kemerdekaan adalah ketika seluruh rakyat merasa bahwa Merah Putih itu benar-benar milik mereka.
Tangerang Selatan, 18 Agustus 2026
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar