Olahraga Tetap Anak Tiri Bangsa...
ERWIN RAHMAT ABDULLAH (26), kembali mempersembahkan medali emas, Asian Games, 2026, cabang angkat besi, kelas 75 kg, Bukan hanya itu, Erwin asal Makassar juga mampu mencetak rekor dunia dengan total angkatan 160 kg (snach) dan 206 kg (clean and jerk). Di Asian Games XIX, China, Erwin juga mempersembahkan medali emas untuk kelas 73 kg.
Sebelumnya bukutangkis beregu putra, juga mempersembahkan medali emas. Dengan begitu, target yang dicanangkan Kementerian Pemudan dan Olahraga, 4 medali emas, tinggal sesaat lagi (per Senin, 28/9/2026) untuk bisa dicapai. AG XIX, Hangzhou, China, 2022, Indonesia menempati posisi ke-13 dengan perolehan 7- 11- 18. Emas yang diraih oleh: Muhammad Sejahtera DP (2 emas dari cabor menembak), Harris Hiratius (Wushu), Ameliya Nur Sifa (Balap sepera BMX/Women), Rahmat Erwin Abdullah (Angkat Besi/Mens 73 kg), Desak Made Rita JD (Panjat Tebing/Women speed), dan Maizi Riyonda dan tim (Perahu Naga), persis sesuai target 7 medali emas.
Bagi saya, apa pun hasil akhir yang akan dicapai kontingen Indonesia di Asian Games ke -20, Aichi-Nagoya, Jepang 2026, wajib saya apresiasi. Target Kemenpora 4 medali emas. Mengapa? Tolong catat, hingga hari ini Pemerintah baik pusat maupun daerah, sama-sama masih menganggap olahraga sebagai anak tiri. Olahraga masih jadi beban bagi keuangan negara. Padahal, olahraga adalah satu-satu alat yang dapat menyatukan anak bangsa.
Tengoklah sepakbola, Bulutangkis, Basket, dan Voli yang memiliki penggemar paling banyak di negeri ini. Ketika cabor-cabor manggung, orang bersatu. Mereka meninggalkan perbedaan politik, perbedaan junjungan, dan strata kelas. Di cabor, tak ada kodok dan tak ada buaya, tak ada Termul dan tak ada Terminal. Semua satu: Indonesia.
Tak Punya Rumah
Tahun 1930, Ir.Soeratin mendeklarasikan PSSI (Persatoen Sepakraga Seloeroeh Indonesia) padahal Indonesia belum lahir. Tahun 1938, Panpel Piala Dunia ke-3, Perancis mengundang PSSI -saat itu belum ada istilah babak kualifikasi. Tuan rumah boleh mengundang negara mana saja). Karena terkendala secara politis, PSSI tak bisa berangkat, digantikan oleh tim NIVU (Nederlandsch Indische Voetbal Unie), Persatuan Sepakbola Hindia-Belanda. Tetapi beruntungnya Soeratin sebagai pribadi mengizinkan delapan pemain lokal, untuk diikutsertakan.
Tahun 1948, saat Indonesia ditolak partisipasi Olimpiade London, Bung Karno menjawab drngan menggelar PON-I, Surakarta. Indonesia juga membuat pesta olahraga negara-negara berkembang, Ganesfo, 1963. Akibatnya Indonesia sempat dikeluarkan dari PBB.
Sebelumnya, Bung Karno juga yang atas bantuan Uni Soviet membangun komplek keolahragaan, 1958-62 yang diberi nama Gelora Bung Karno, seluas 278,1 hektar. Bahkan untuk menunjukkan pada dunia soal Timor Timur, 1975, yang bergabung ke Indonesia, atas biaya negara, PSSI selama setahun berlatih di Brasil, negara terbesar yang pernah dijajah Portugis.
Bung Karno sendiri memiliki semboyan: Membangun Olahraga, Membangun Bangsa, 1962, yang digelorakan saat pembukaan GBK. GBK sendiri adalah jawaban untuk perdana Soviet Nikta Khruschev. "Apa yang akan engkau tinggalkan untuk rakyatmu nanti? Para pendahulumu sudah meninggalkan candi-candi yang indah?" saat BK ke Moskow 1957.
Lalu 9 September 1984, Pak Harto menggelorakan Mengolahragakan Masyarakat dan Memasyarakatkan Olahraga, dicanangkan di Solo sekaligus menjadikan Hari Olahraga Nasional.
Baik Bung Karno maupun Pak Harto sadar betul bahwa olahraga adalah gerbang terdepan untuk satu bangsa. Ya, hanya ada dua adegan di mana Merah-Putih dikibarkan serta Indonesia Raya dinyanyikan: Saat presiden disambut di luar negeri dan ketika atlet meraih medali emas di multi event: Olimpiade, Asian Games, dan Sea Games. Tentu juga saat internasional single cabor seperti Kejuaaraan Dunia, Asia, dan Asean.
Nah, persoalannya, Kemenpora, kementerian yang bertanggung jawab atas segala sesuatu terkait olahraga, sesuai UU no11/2022 menggantikan UU No5/2005, adalah kementerian klaster C. Sudah begitu, di klaster tersebut Kemenpora pun berada paling bawah. Akibatnya anggarannya superminim. Jika tidak keliru 2026 ini, Kemenpora hanya diberi Rp 1, 150 triliun. Untuk operasional kantor saja sudah lebih dari separuh.
Yang lebih miris, kantor Kemenpora di jl. Gerbang Pemuda, Senayan berdiri di atas HPL TVRI. Artinya, jika TVRI membutuhkannya, maka demi hukum Kemenpora harus pindah.
Selain itu, 279,1 hektar lahan di GBK hak kelolanya ada di Setneg, padahal Kementerian itu tidak ada tupoksinya untuk mengurusi dunia olahraga. Malah, kalau Kemenpora ingin memakai fasilitas di sana untuk.kepentingan olahraga statusnya sama dengan pihak lain, mengajukan surat dan membayar sewa.
Dengan kondisi itu maka saya tak ragu menyebut olahraga adalah anak tiri bangsa. Dielu-elukan saat sukses, tetapi saat berjuang untuk mencapai prestasi yang mengharumkan bangsa, dunia olahraga dibiarkan sendiri dalam sepi.
Di sini, hanya pembina-pembina yang gila saja yang bisa memajukan cabornya, tanpa itu, atlet dan cabor seolah hidup segan, mati tak mau.
Di cabor Angkat Besi misalnya, ada dua orang gila yang berada di sana, Rosan Perkasa Roeslani dan Mayjen TNI (purn) Djoko Pramono. Tanpa keduanya Angkat Besi tak akan bisa seperti ini. Hebatnya Roeslan sudah mengurus Angjat Besi jauh sebelum dia jadi pejabat negara.
kedua orang gila itu tidak pernah memanfaatkan cabornya sebagai ajang Panjat Sosial, apalagi mencari keuntungan finansial.
Begitulah dunia olahraga Indonesia, Anak Tiri yang dielu-elukan saat berjaya, setelah itu hilang tanpa jejak . Padahal saat Prabowo terpilih jadi Presiden, ada secuil harapan bahwa olahraga akan memasuki masa keemasan.
Prabowo adalah pengurus cabor Pencak Silat dan praktisi atlet berkuda. Artinya dia paham betul kebutuhan dunia olahraga. Proses panjang sebelum mencapai prestasi, butuh biaya besar. Tahun 2019, jelang pilpres saat diskusi singkat Prabowo dengan Pak Amien Rais dan Jendral purn. Djoko Santoso, Kemenpora sudah akan digeser jadi Kementerian Olahraga saja (kepemudaan sudah diurus 27 kementerian), hak pengelolaan GBK akan ada di bawah Menor. Dan dana yang dibutuhkan sekitar Rp 10 triliun. Tapi saat ini olaharga sungguh harus mencari jalan sendiri.
Kita tunggu saja apa yang akan dilakukan kedepan......
* * *
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar