Esai

Puisi Mbeling dari Gurun Pasir

SW60Plus.com, 04 Oktober 2026, 08:34 WIB
Ahmadie Thaha
Ahmadie Thaha
· 8x dilihat

JEMPOL manusia zaman digital rupanya lebih lincah dari lidahnya. Di layar ponsel, sebuah meme bisa menertawakan kebijakan yang dirumuskan berbulan-bulan. Sebuah utas X bisa membongkar kejanggalan dengan bahasa warung kopi. Sementara di Instagram, Instapoetry menyulap pengalaman pribadi menjadi beberapa baris kalimat di atas latar minimalis.

Lain lagi di panggung stand-up comedy, seorang komika bisa membuat satu ruangan tertawa terbahak-bahak, lalu beberapa detik kemudian menyadarkan penonton bahwa yang mereka tertawakan sebenarnya kehidupan mereka sendiri. Humor pun menjadi pisau yang diberi sarung plastik.

Fenomena itu bukan sekadar soal orang modern makin malas membaca. Ada perubahan cara masyarakat memproduksi dan menyebarkan kritik. Bahasa resmi cenderung berjalan memakai sepatu dinas. Ia rapi, lambat, dan kadang terlalu hati-hati. Bahasa meme justru berlari tanpa alas kaki.

Bahan digital ini tidak selalu indah, tetapi cepat. Tidak selalu mendalam, tapi langsung mengenai sasaran. Di situlah kita menemukan semangat yang mirip dengan apa yang dahulu dikenal sebagai "puisi mbeling": menggoyang kemapanan dengan permainan bahasa, kelakar, ironi, dan keberanian melanggar kebiasaan.

-000-

Puisi mbeling sendiri bukan anak kandung internet. Ia sudah lahir ketika komputer pribadi masih terdengar seperti barang dari planet lain. Sekitar 1972, Remy Sylado memperkenalkan rubrik “Puisi Mbeling” di majalah Aktuil.

Remy memberi tahu, kata mbeling berasal dari bahasa Jawa, kira-kira berarti nakal, sukar diatur, atau suka memberontak. Rubrik di majalah asuhannya membuka ruang bagi kreativitas anak muda yang merasa pintu sastra terlalu sempit dan aturan estetika terlalu banyak.

Yang menarik, Aktuil bukan majalah sastra dalam pengertian konvensional. Ia majalah musik dan budaya populer. Justru di sanalah puisi mbeling menemukan rumah. Penelitian tentang Aktuil mencatat bahwa rubrik itu menarik begitu banyak kiriman pembaca sehingga pernah disebut menerima ratusan puisi setiap bulan.

Jadi, Remy tidak sekadar menciptakan gaya puisi. Ia telah menciptakan sebuah ruang publik sastra alternatif. Baginya, mbeling tidak berarti asal ngawur. Dalam rumusan yang kemudian berkembang, kenakalan itu justru memiliki kesadaran. Ia boleh mempermainkan kata, bentuk, bunyi, dan tipografi, tetapi permainan itu dapat membawa kritik sosial.

Badan Bahasa mencatat bahwa gerakan tersebut hendak mendobrak anggapan bahwa bahasa puisi harus selalu tunduk pada stilistika baku. Bahasa sehari-hari pun sah menjadi bahan puisi, selama ia mampu menggugah kesadaran dan memberi manfaat sosial.

Remy tentu bukan sendirian. Nama Jeihan Sukmantoro ikut terkait dengan gerakan mbeling di Bandung, sementara Yudhistira A.N.M. Massardi kemudian menjadi salah satu tokoh penting puisi lugu atau mbeling. Sajak-Sajak Sikat Gigi karya Yudhistira terbit pada 1983 dan menjadi salah satu penanda penting perkembangan gaya ini.

Dalam pemetaan sejarah puisi Indonesia, Badan Bahasa bahkan menempatkan puisi lugu atau mbeling sebagai salah satu dari lima kecenderungan utama perpuisian Indonesia periode 1970–1990.

Darmanto Jatman dan Sutardji Calzoum Bachri juga sering berada dalam pembicaraan mengenai eksperimen puisi era itu, meskipun masing-masing mempunyai corak estetika sendiri. Ini penting dicatat supaya kita tidak memasukkan semua penyair eksperimental ke dalam satu karung. Sastra bukan pasar swalayan yang setiap barang harus ditempeli label harga yang sama.

Contoh puisi mbeling Remy memperlihatkan bagaimana permainan sederhana bisa menyimpan kritik. Dalam puisi “Belajar Menghargai Hak Asasi Kawan”, ia bermain dengan pasangan kata seperti mahasiswa-mahasiswi, saudara-saudari, pemuda-pemudi, sampai permainan “kawan-kawin”.

Di permukaan, saat membaca puisi tadi, kita seperti melihat anak sekolah sedang bermain teka-teki kata. Tetapi di bawahnya terdapat sindiran terhadap cara masyarakat memandang relasi laki-laki dan perempuan.

-000-

Nah, di sinilah cerita menjadi lebih menarik. Ketika beberapa minggu lalu saya mendengar kembali lagu berbahasa Arab, Lamiyyat al-'Arab dalam video YouTube, saya seperti menemukan wajah lama yang tiba-tiba muncul di layar baru. Kebetulan anak saya bernama Lamya.

Video kanal ليالي شهرزاد itu pada 13 September 2026 telah ditonton lebih dari 93 ribu kali. Judulnya menyebut Lamiyyat al-'Arab, karya al-Shanfara. Dia penyair kuna gurun Arab yang sangat terkenal dalam tradisi ṣaʿālīk. Dalam sejumlah sumber, disebutkan nama lengkapnya: Tsabit ibnu Aws al-Azdi.

Seketika saya langsung teringat masa belajar di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Madura. Dulu di sana, untuk mata pelajaran Ilmu Balaghah, saya pernah belajar syair-syair para ṣaʿālīk.

Kami di pondok mengenal istilah itu dalam bentuk Arabnya: syu'arā' al-ṣaʿālīk, para penyair ṣaʿālīk. Terus terang, waktu itu saya tidak benar-benar memahami apa yang terkandung di balik istilah tersebut. Yang saya tahu, ada nama-nama yang harus dibaca, syair yang harus dihafalkan, dan ustadz yang menjelaskan.

Sebelum ada meme, sudah ada penyair yang “unfollow” kabilahnya. Namanya Al-Shanfara.

Kini, setelah melihatnya dari sudut pandang lain, saya baru tersenyum sendiri. Jangan-jangan saya dulu sedang belajar “puisi mbeling” versi gurun padang pasir tanpa mengetahui bahwa itulah namanya.

Istilah ṣuʿlūk (yang kata jamaknya ṣaʿālīk) memang tidak sesederhana “penyair pembangkang”. Dalam sumber-sumber klasik, kata itu berkaitan dengan kemiskinan, pengembaraan, perampokan, dan kehidupan di pinggir struktur kesukuan.

Para penyair ṣaʿālīk Arab tidak merupakan satu kelompok homogen. Sebagian terusir dari kabilah, sebagian hidup di luar struktur suku, dan sebagian mempertahankan hubungan dengan kelompok asalnya.

Karena sumber biografis tentang mereka datang dari masa kemudian, para sarjana juga mengingatkan bahwa sejarah mereka tidak selalu mudah dipisahkan dari legenda.

Tokoh-tokohnya, antara lain, al-Shanfara, Ta'abbata Syarran, dan 'Urwa ibnu al-Ward. Mereka sering disebut penyair ṣaʿālīk, tetapi karakter dan sikap mereka tidak identik.

Karena itu, menyebut semuanya sebagai “Robin Hood Arab” memang mengasyikkan, tetapi terlalu sederhana. Mereka hidup dalam dunia yang keras: kemiskinan, konflik antarkabilah, pengembaraan, perburuan, dan kekerasan menjadi bagian dari kehidupan mereka. Puisi mereka memantulkan dunia itu.

-000-

Al-Shanfara adalah contoh paling terkenal. Dalam Lamiyyat al-'Arab, ia membuka puisi dengan seruan yang nyaris seperti pengumuman pengunduran diri dari grup keluarga: _“Aqīmū banī ummī ṣudūra maṭiyyikum” —“Wahai kaumku, siapkan tunggangan kalian.” Lalu ia menyatakan bahwa dirinya akan memilih kaum lain.

Beberapa baris kemudian muncul kalimat yang terdengar sangat modern: “Wa fī al-arḍi man'an lil-karīmi 'ani al-adzā” —di bumi masih ada ruang bagi orang mulia untuk menjauh dari gangguan.

Itu bukan puisi patah hati. Itu puisi unfollow sebelum ada tombol unfollow. Bedanya, Al-Shanfara tidak meninggalkan grup WhatsApp. Ia meninggalkan dunia sosial kabilah dan memilih gurun, bahkan menyebut binatang buas sebagai “keluarga” pengganti. Dalam puisinya, serigala, macan tutul, dan hyena menjadi metafora tentang kesetiaan yang ia tidak temukan pada manusia.

Penyair lainnya, Ta'abbata Syarran, bahkan mempunyai nama julukan yang terdengar seperti judul film laga: “orang yang membawa kejahatan di bawah ketiaknya”. Ia termasuk penyair ṣuʿlūk yang puisinya menggambarkan perang antarkelompok, kerasnya kehidupan gurun, keterasingan, dan keberanian menghadapi maut. Karya-karyanya kemudian masuk ke dalam antologi awal seperti Mufaddaliyat dan Hamasah.

Sementara itu, penyair 'Urwa ibnu al-Ward sering dikenang sebagai tokoh penting tradisi ṣaʿālīk. Dalam berbagai riwayat sastra, ia tampil dengan corak yang berbeda. Ia bukan hanya sosok pengembara dan pejuang, tapi juga figur yang dekat dengan kaum miskin.

Karena itu, tradisi ṣaʿālīk sebenarnya memiliki spektrum luas, dari individualisme dan pembalasan dendam sampai solidaritas terhadap orang yang kekurangan.

-000-

Di sinilah persamaan dengan puisi mbeling Indonesia menjadi menarik, tetapi jangan kita paksa menjadi hubungan sejarah. Remy Sylado tentu tidak sedang menyalin Al-Shanfara. Meme di X juga bukan cicit biologis Lamiyyat al-'Arab.

Kesamaannya terletak pada fungsi sosialnya. Ketika bahasa resmi terasa terlalu sempit, orang mencari celah. Ketika pintu utama dijaga satpam estetika, kreativitas masuk lewat jendela.

Namun ada perbedaan besar. Seorang penyair ṣaʿālīk menghadapi risiko fisik yang nyata. Gurun bukan kolom komentar. Salah langkah bisa berarti lapar, terluka, atau mati. Sementara itu, puisi mbeling Indonesia bermain di medan kebudayaan, sedangkan meme dan komika modern bermain di medan perhatian.

Karena itu, kita tidak boleh menyamakan pemberontakan estetika dengan perampokan. Yang satu bisa menjadi kritik; yang lain tetap merupakan tindakan kriminal.

Maka saya lebih suka menyebut ṣaʿālīk sebagai salah satu leluhur jauh dari "semangat mbeling", bukan sebagai “puisi mbeling” dalam pengertian sejarah sastra Indonesia.

Mereka menunjukkan bahwa manusia sejak dahulu memiliki kebutuhan untuk berdiri agak menjauh dari kawanan, lalu berbicara dengan suara yang tidak biasa. Remy melakukan itu dengan permainan kata. Al-Shanfara melakukannya dengan gurun. Komika melakukannya dengan panggung. Warganet melakukannya dengan meme.

Yang berubah hanya senjatanya. Dahulu pedang, tombak, dan syair. Kemudian mesin cetak, tinta, dan tipografi. Sekarang kamera ponsel, keyboard, tombol, dan algoritma. Tetapi satu perkara tetap sama: manusia tidak betah hidup terlalu lama di bawah bahasa yang sudah disetrika sampai licin.

Masalahnya, mbeling juga bisa kehilangan taring ketika terlalu cepat menjadi mode. Meme yang kemarin menggigit hari ini bisa menjadi template iklan. Satire yang awalnya mengguncang bisa berubah menjadi konten sponsor. Komika yang dulu mengejek kemapanan bisa menjadi wajah kemapanan setelah memiliki jutaan pengikut. Bahkan pemberontakan pun dapat dijual dalam paket bundling.

Karena itu, mbeling yang sehat bukan sekadar berkata “saya berbeda”. Ia harus berani bertanya: berbeda untuk apa? Kalau hanya menghasilkan tawa, ia menjadi hiburan. Kalau hanya menghasilkan kemarahan, ia menjadi keributan.

Tetapi jika ia membuat orang melihat kebiasaan lama dengan mata baru, menunjukkan masalah yang nyata, lalu membuka kemungkinan perbaikan, di situlah kelakar memperoleh martabat.

Mungkin itulah pelajaran paling menarik dari perjalanan panjang ini: dari ṣaʿālīk di gurun Arabia, Remy Sylado di Aktuil, sampai pembuat meme di layar ponsel, manusia selalu membutuhkan sedikit kenakalan agar bahasa tidak berubah menjadi pagar beton.

Sebab kadang-kadang kebenaran tidak membutuhkan pengeras suara. Ia hanya membutuhkan seorang pembelot kecil yang berani berkata, sambil tersenyum: “Lho, sejak kapan begini dianggap normal?”

Cak AT - Ahmadie Thaha

Ma'had Tadabbur al-Qur'an, 4/10/2026

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000