Renungan Malam Tentang Rais Am
JABATAN ini terdengar megah di telinga awam. Namun sejatinya sebuah jalan sunyi yang penuh dengan air mata dan kesepian spiritual. Dialah Rais Am, posisi yang layak menjadi pusat perhatian, tatkala Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Abdul Hakim Mahfudz, atau Gus Kikin, mengumumkan susunan pengurus PBNU masa bakti 2026-2031, Rabu, 30 September 2026 lalu.
Tersebab posisi Rais Am bukanlah hadiah. Siapatah dia, termasuk tokohnya sekarang, Kiai Miftachul Akhyar, sejatinya sedang menempuh laku pengorbanan yang merenggut ketenangan masa tuanya. Ketika badai zaman menghantam umat akibat polarisasi, dan hilangnya pegangan hidup, pandangan jutaan pasang mata tertuju pada satu titik yang tersisa dalam diri sosok ini.
Rais Am diharapkan menjadi penawar dahaga bagi hati yang gersang, dan jangkar yang menahan kapal besar NU agar tidak karam dihantam ombak modernitas. Peran ini begitu sakral karena ia memikul warisan para nabi dan menyuarakan kebenaran langit di atas bumi yang kian profan. Ia menjadi pelindung terakhir bagi ketenteraman batin orang-orang kecil di pelosok desa yang bahkan tidak tahu apa itu politik.
Struktur kepengurusan NU tidak dirancang sebagai replika mentah birokrasi sekuler. Posisi Rais Am berada di puncaknya. Ia dituntut punya kedalaman spiritual dan otoritas moral yang tinggi. Jika tanfidziyah (pengurus harian) diibaratkan sebagai tangan yang mengemudikan organisasi, maka syuriyah—dengan Rais Am sebagai poros utamanya—adalah mata air legitimasi, jangkar etis, dan pemegang kompas spiritual.
Namun, di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, posisi yang sakral ini tak luput dari badai realitas politik dan sosial. Menatap peran Rais Aam membutuhkan kejernihan kontemplatif. Suatu ikhtiar penting dalam melihat melampaui riuh rendah berita, guna menemukan kembali hakikat esensial dan ruang-ruang kritik yang perlu direnungkan.
Secara historis dan teologis, Rais Am adalah personifikasi dari konsep ulama sebagai pewaris para nabi (warasatul anbiya) di dalam tubuh NU. Otoritas seorang Rais Am tidak lahir dari surat keputusan atau hasil pemungutan suara belaka. Melainkan dari pengakuan kolektif atas kedalaman ilmu dan kebersihan hati atau kesalehan spiritual sang tokoh.
Di titik inilah peran pentingnya bermula. Ia berfungsi sebagai payung teduh yang menaungi jutaan warga nahdliyin dari kegamangan eksistensial dan moral. Ketika masyarakat dihadapkan pada disrupsi teknologi, polarisasi politik, atau krisis kemanusiaan, dawuh atau ucapan Rais Am diposisikan sebagai pemutus perkara yang menenteramkan.
Peran ini sangat krusial, karena NU bukan sekadar organisasi kemasyarakatan. Tapi merupakan sebuah ekosistem kebudayaan dan keagamaan yang besar. Tanpa adanya figur Rais Am yang kokoh, jam’iyah ini berisiko kehilangan kompasnya dan terombang-ambing menjadi sekadar faksi politik atau lembaga swadaya masyarakat sekuler yang kehilangan ruh spiritualitasnya.
Rais Am juga berperan penting sebagai penjaga gawang faham ahlus sunnah wal jamaah—alias aswaja. Ia kudu memastikan bahwa ijtihad kemasyarakatan yang diambil oleh pengurus tanfidziyah tetap berada dalam koridor sanad keilmuan yang muktabar, yang diakui keabsahannya.
Sejarah tak pernah berjalan di ruang hampa yang steril. Ketika kita merenungkan perjalanan posisi Rais Am dalam beberapa dekade terakhir, muncul sebuah kecemasan kontemplatif. Kedudukan atawa maqam-nya diuji oleh tarikan magnet kekuasaan politik praktis yang begitu kuat. Di sinilah kritik paling mendasar harus diletakkan, bukan sebagai bentuk penghinaan, melainkan sebagai cermin kejujuran.
Dalam praktek keseharian godaan itu kerap terjadi. Ada kalanya batas tegas antara wilayah penuntun moral (syuriyah) dan wilayah eksekutor teknis (tanfidziyah) menjadi kabur. Ketika seorang Rais Am secara langsung atau tidak langsung terseret ke dalam pusaran kontestasi politik elektoral, ada sesuatu yang retak dalam kesadaran spiritual jemaah.
Otoritas moral yang dimiliki seharusnya bersifat universal dan melampaui sekat-sekat kepentingan kelompok. Tapi, seketika bisa saja kemudian berubah menyempit menjadi partisan. Ketika dawuhnya mulai dibaca oleh publik menggunakan kacamata kalkulasi politik—siapa mendapat apa—maka di situlah kesucian posisi tersebut mengalami desakralisasi.
Kita kembali berfikir reflektif jika politisasi itu terjadi. Apakah warga NU gagal menjaga kiainya? Ataukah sistem keorganisasian moderen telah sedemikian rupa menjebak figur puncak ini ke dalam labirin pragmatisme? Bayangkan jika Rais Am terjebak dalam urusan mikro-politik, maka ruang sunyi yang seharusnya digunakan untuk merenungkan masa depan umat menjadi terabaikan. Jemaah kehilangan tempat mengadu yang netral, tempat tatkala kebenaran disuarakan tanpa tendensi insentif kekuasaan.
Tantangan internal ini diperparah oleh dinamika eksternal dunia moderen. Kehadiran media sosial dan budaya instan menuntut segala sesuatu tampil di permukaan secara cepat dan artifisial. Otoritas keagamaan tradisional yang diwakili oleh kiai, ajengan, dan ulama arus utama, kini bersaing dengan "ustadz-ustadz algoritma" yang mahir mengemas pesan singkat namun dangkal.
Di sinilah perenungan berikutnya muncul. Sejauh mana institusi Rais Am mampu menerjemahkan kearifan klasik pesantren ke dalam bahasa zaman yang relevan bagi generasi muda tanpa kehilangan substansinya? Jika ia hanya tampil dalam seremoni formal kenegaraan atau terjebak dalam birokrasi internal yang kaku, maka ia akan semakin berjarak dari realitas akar rumput.
Padahal kerinduan akan sosok Rais Aam yang hadir turut membasuh luka sosial sangatlah dibutuhkan. Tentu saja jika kita tak menginginkan kemiskinan, ketidakadilan ekologis, dan marginalisasi masyarakat adat, menjadi sebuah utopia.
Akan semakin repot jika energi organisasi, sebagaimana diperankan Rais Am, habis terkuras untuk urusan konsolidasi kekuasaan struktural.
Kritik ini harus dimaknai sebagai undangan untuk kembali ke khittah spiritual. Rais Am adalah simbol perlawanan terhadap kedangkalan zaman. Ia tidak boleh ikut-ikutan larut dalam kebisingan publikasi yang narsistik. Sebaliknya, kekuatannya justru terletak pada kesunyian yang kontemplatif, pada doa-doa sepertiga malamnya, pada ketegasan sikapnya yang tak bisa didikte oleh modal --maupun jabatan korporat-- dan tak boleh dikomando oleh kekuasaan.
Merenungkan masa depan NU berarti merenungkan kembali cara menempatkan Rais Am pada maqam-nya yang sejati. Konsep kepemimpinan dalam Islam selalu menekankan bahwa pemimpin adalah pelayan umat (khadimul ummah). Bagi Rais Am, pelayanan tertinggi bukanlah memberikan instruksi organisatoris yang kaku, melainkan memancarkan keteladanan akhlak (ushwah hasanah).
Diperlukan keberanian kolektif untuk memagari posisi Rais Am dari intervensi pihak luar. PBNU harus memastikan bahwa ia tetap independen dan menjadi benteng terakhir tempat kebenaran etis disuarakan. Ketika dunia luar dipenuhi oleh kepalsuan, gempuran manipulasi data, dan retorika politik, dawuh dari Rais Am harus tetap menjadi oasis kejujuran yang murni.
Hal ini hanya bisa dicapai jika kita memperlakukan kritik bukan sebagai ancaman. Melainkan sebagai mekanisme penyucian diri (tazkiyatun nafs) bagi organisasi. Sebaliknya, pengurus tanfidziyah harus memiliki kedewasaan untuk menempatkan diri sebagai pelaksana amanah, bukan penentu arah yang mendikte syuriyah.
Begitu pula dalam urusan politik. Warga nahdliyin juga perlu terus merawat nalar kritis berbasis pada penghormatan (takzim) yang proporsional. Menghormati kiai bukan dengan cara membebek buta pada keputusan politiknya. Melainkan menjaga agar kesucian spiritualitasnya tak ternoda oleh ambisi duniawi yang fana.
Rais Am adalah cermin dari jiwa nahdliyin. Jika cermin itu buram karena debu-debu kepentingan praktis, maka seluruh tubuh organisasi akan kehilangan arah estetik dan etisnya. Sebab peran penting sang Rais Am sebagai jangkar moral bangsa tidak akan pernah tergantikan oleh sistem manajemen moderen secanggih apa pun.
Eksistensi itu hanya akan bermakna jika dirawat dengan kritik yang jujur dan
komitmen yang tak tergoyahkan agar tetap berdiri di atas semua golongan. Misi luhur ini wajib dijalankan demi kemaslahatan umat dan keutuhan kemanusiaan. Di dalam kesunyian spiritual dan keteguhan moral itulah, kharisma sejati seorang Rais Am akan terus bersinar menjadi pemandu di kegelapan zaman.*
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar