Esai

Salah Ucap Mengaburkan Makna

SW60Plus.com, 18 Agustus 2026, 08:24 WIB
Kabul Budiono
Kabul Budiono
· 226x dilihat

RAMAINYA  media sosial serta perbincangan sebagian jurnalis dan pakar mengenai pidato Presiden Prabowo Subianto tentang pendapatan seorang pengupas bawang, mengingatkan saya pada pengalaman ketika meliput pidato kenegaraan Presiden Soeharto pada masanya. 


Ketika menyampaikan pidato kenegaraan di depan DPR, Soeharto selalu menggunakan naskah atau manuskrip yang telah dipersiapkan. Soeharto  membacanya dengan sangat hati-hati. Saya tidak pernah melihat beliau keliru ketika menyampaikan bagian penting dalam naskah, terutama yang berkaitan dengan angka, nama, maupun data. Pada masa Presiden Soeharto, naskah pidato belum dimasukkan dalam tele-prompter di depan kiri dan kanan podium, dan ada pada lembaran kertas yang diletakkan di atas podium. Dalam istilah retorika, cara berpidato membaca naskah dikenal dengan pidato manuskrip (manuscripto). 


Bagi saya, hal itu menarik bukan semata-mata karena cara seorang Presiden membaca pidato. Mengapa? Di balik sebuah manuskrip pidato kenegaraan terdapat proses yang panjang. Naskah dipersiapkan staf Kementerian Sekretariat Negara dengan berbagai masukan dari para menteri dan pihak terkait. Data, kebijakan pemerintah, program pembangunan, serta berbagai persoalan nasional dirangkum dan disusun menjadi sebuah pidato.  


Soeharto  tampak sangat menghargai proses tersebut. Naskah yang telah dipersiapkan tidak diperlakukan sebagai sekadar kertas untuk dibaca, tetapi sebagai hasil kerja banyak orang yang harus disampaikan dengan penuh tanggung jawab. Soeharto hanya melihat ke atas lobby di atas Graha Sabha Paripurna saat menyebut satu persatu para teladan nasional, tanpa ada kekeliruan.


Manuskrip dalam Retorika
Dalam Retorika Modern, Jalaluddin Rakhmat menjelaskan beberapa cara penyampaian pidato, antara lain impromptu, manuskrip, memoriter, dan ekstempore.
Impromptu disampaikan secara spontan tanpa persiapan naskah. Manuskrip dilakukan dengan membaca naskah yang telah dipersiapkan. Memoriter dilakukan dengan menghafalkan naskah, sedangkan ekstempore disampaikan berdasarkan garis besar atau pokok-pokok pikiran sehingga pembicara masih mempunyai ruang untuk mengembangkan uraian.
Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Tidak ada satu metode yang selalu paling baik untuk semua situasi.


Namun, untuk pidato kenegaraan yang sarat dengan angka, data, nama program, kebijakan, nama lembaga, dan berbagai informasi penting, manuskrip mempunyai keunggulan dalam menjaga ketepatan pesan.
Dalam setiap pidato kenegaraan dan acara resmi, Beliau tidak menjadikan spontanitas sebagai ukuran utama keberhasilan pidato. Ia membaca naskah yang telah dipersiapkan dan mempercayai proses yang dilakukan oleh staf serta para menteri yang memberikan masukan.
Bagi saya, itu merupakan bentuk disiplin komunikasi.


Ketika Satu Angka Menjadi Berita
Pengalaman tersebut kembali muncul dalam ingatan ketika potongan pidato Presiden Prabowo Subianto mengenai pendapatan seorang pengupas bawang menjadi ramai di media sosial. Sejauh saya lihat di televisi Presiden Prabowo nampak membaca naskah yang rasanya dapat dilihat di tele-prompter di sisi depan kanan dan kiri. Pada saat itu, Presiden menyebut angka Rp700 ribu per kilogram. Saat itu kamera terarah pada seorang wanita di lobi atas ruang sidang, dan terlihat wajah seorang wanita yang berdiri. Peristiwa dan penyebutan angka tersebut kemudian dipertanyakan dan menjadi bahan perbincangan.


Dari berita yang disiarkan media, ada dua penjelasan dari pejabat yang memang berkompeten menjelaskan. Mensesneg ketika ditanya wartawan, setelah pidato kenegaraan 14 Agustus mengatakan, ‘kita cek dulu datanya’. Sementara Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi Hasan Nasbi tidak menjelaskan soal angka, namun mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak pada satu-dua kalimat. 
Keduanya tentu dapat dianggap benar dari sudut pandang masing-masing. Tetapi bagi saya, atau wartawan senior yang  yang pernah meliput pidato kenegaraan, ada satu pertanyaan yang justru lebih mendasar yaitu bagaimana sebuah angka bisa sampai ke podium Presiden?. Mengapa Mensesneg yang di jaman Soeharto dan Presiden setelahnya mempunyai tugas menyusun pidato kenegaraan, kini malah menyatakan masih akan mengecek dulu datanya.   


Sesungguhnya dalam komunikasi lisan kita mengenal istilah slip of the tongue yaitu kesalahan spontan ketika ucapan yang keluar tidak persis sama dengan apa yang sebenarnya hendak disampaikan. Dan kesalahan seperti itu tentu manusiawi. Tetapi dalam pidato kenegaraan, persoalannya menjadi berbeda. Masyarakat tidak mengetahui apa yang tertulis dalam naskah pidato. Yang didengar publik adalah apa yang keluar dari mulut Presiden.


Karena itu, satu kata atau satu angka yang keliru dapat mengubah makna seluruh pesan. Pun pada kenyataannya, di era digital sesiapun dapat memberikan komentar dan atau memviralkannya. 


Apalagi sekarang, pidato tidak berhenti ketika pembicara meninggalkan podium. Rekamannya dapat dipotong menjadi video pendek, dikutip, dibagikan, dan diperbincangkan melalui media sosial. Satu ucapan dapat menjadi berita besar dan viral.


Prepare, Practice, Practice, Practice
Pentingnya latihan dalam berbicara juga selalu saya tekankan ketika mengajar Academic Speaking di kampus.


Kepada mahasiswa, saya selalu mengingatkan bahwa kemampuan berbicara tidak cukup hanya dengan memahami teori. Mereka harus berlatih mengucapkan apa yang ingin disampaikan, dan tentu melakukan persiapan yang baik.  
Dalam The Art of Public Speaking, karya Dale Carnegie bersama Joseph Berg Esenwein  secara eksplisit membahas bahwa persiapan pidato harus mencakup latihan (practice)
“Practice, practice, practice.” Dalam ungkapan yang lebih populer “Practice makes perfect.”


Untuk seorang pejabat negara sekelas Presiden, perihal latihan tentu dapat dinafikan mengingat sudah memiliki kepiawaian berpidato. Pun tentu para stafnya, dapat saya duga enggan untuk meminta seorang Presiden berlatih.  


Pakar pidato lainnya, John C. Maxwell juga menekankan pentingnya preparation dalam komunikasi. Maxwell menuliskan pentingnya persiapan pada The 16 Undeniable Laws of Communication: Apply Them and Make the Most of Your Message. Di dalam buku tersebut terdapat “The Law of Preparation: You Cannot Deliver What You Have Not Developed.” Maxwell secara khusus membahas bahwa seorang komunikator perlu mempersiapkan isi pesan maupun dirinya sendiri sebelum berbicara. 


Perihal persiapan pidato manuskrip, peran pihak yang mendapatkan amanah menulis konsep pidato kenegaraan dan kemudian menuangkannya pada tele-pompter sungguh sangat signifikan. Bahwa ketika terjadi kontoversi mengenai penyebutan data, Mensesneg menyatakan masih harus mengecek datanya, ini sungguh sesuatu pernyataan yang menarik berkenaan dengan soal persiapan.  


Sebagai wartawan Istana yang saat saat itu menyiarkan langsung pidato kenegaraan Presiden di Graha Sabha Paripurna, dapat saya kemukakan bahwa belum pernah terjadi salah ucap atau salah data.  Pengalaman saya melihat Soeharto membaca manuskrip mengajarkan bahwa pidato kenegaraan merupakan hasil kerja banyak orang. Ada staf yang menyusun, ada menteri yang memberikan masukan, ada data yang harus diperiksa, dan ada naskah yang harus disiapkan. Karena itu, manuskrip bukan sekadar lembaran kertas berisi tulisan pidato tetapi di dalamnya terdapat tanggung jawab. 


Karena itu pula, dalam melihat kasus “Rp700 ribu” kita tentu seharusnya membuat tuduhan tak berdasar. Jika memang terjadi perbedaan antara apa yang hendak disampaikan dan apa yang akhirnya terucap, kita dapat menyebutnya sebagai slip of the tongue. Para staf harus secara tegas menyatakan adanya kekeliruan. Tetapi jika kesalahan sudah terdapat dalam data atau naskah, persoalannya tentu berbeda. Bisa terjadi kesalahan dalam penulisan data, kesalahan penyuntingan, kesalahan membaca, atau kesalahan dalam penyampaian. 


Yang pasti dan ini sering  terjadi,  satu kata dapat mengubah makna. Di era teknologi informasi dan media sosial,s atu angka dapat mengubah persepsi. Satu ucapan dapat menjadi berita sebagaimana ungkapan man makes news yang mencerminkan bahwa ketokohan (prominence ) jika  mengatakan sesuatu, baik yang baru ( new ) maupun yang keliru ( misstatment ) dapat menjadi berita. Ketika  terus berkesinambungan, rasanya dapat menurunkan kredibilitas.*

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000