Sang Penyelamat dengan Keterbatasannya
ADA kabar positif yang nyaris luput dari gonjang-ganjing pemberitaan yang didominasi oleh kasus politik dan korupsi. Dan ini layak untuk diapresiasi karena ada perjuangan heroik di sana. Yakni apa yang dilakukan oleh Basarnas di perairan Masalembo dalam mencari korban tenggelamnya KM Virgo Transport 8.
Di tengah arus bawah laut yang ganas dan jarak pandang nyaris nol di dasar Laut Jawa, Tim Penyelam Basarnas Special Group (BSG) bersama Kopaska TNI Angkatan Laut terus menunjukkan dedikasi mereka yang tak kenal lelah. Mereka menembus lambung KM Virgo itu demi satu tujuan: memberikan kepastian bagi keluarga korban.
Meski umumnya keluarga korban sudah pasrah bahwa tidak ada harapan korban ditemukan selamat – betapa pun kita percaya adanya mukjijat – kepastian itu sangatlah penting. Untuk itu keluarga korban masih setia menunggu di Pelabuhan Banjarmasin mau pun di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, asal mula kapal berlayar.
Perjuangan itu membuahkan hasil. Hingga operasi hari ke-14, Minggu 27 September 2026 pukul 20.00 WITA, Basarnas mencatat sebanyak 172 orang telah ditemukan dari total 243 orang dalam manifes, penumpang dan awal kapal. Rinciannya: 108 orang selamat, 64 orang meninggal dunia, dan 71 orang masih dalam pencarian. Setiap hari ditemukan korban dan itu membuat operasi pencarian korban sudah dua kali mengalami perpanjangan.
Ini bukan operasi biasa. Lokasi kecelakaan berada di Laut Jawa sekitar Masalembo, namun korban ditemukan menyebar hingga Kalimantan Tengah, ratusan mil jaraknya. Di bangkai kapal itu sendiri, Basarnas memprioritaskan metode penyelaman langsung karena diduga masih banyak korban terjebak di kabin. Tragedi tenggelamnya kapal itu terjadi dini hari di saat penumpang umumnya tidur lelap. Dalam keadaan alarm bisu dan listrik padam begitu kapal tenggelam, sulit penumpang meraih pelampung. Dan mereka pun diduga terjebak di dalam kamar-kamar kapal. Penyelam harus memecahkan kaca kamar kapal sebelum menyusuri pencarian korban.
"Arus bawah laut di lokasi kejadian sangat riskan dan berisiko tinggi. Jika arus tiba-tiba membesar, kami tidak bisa memaksakan penyelaman demi keselamatan personel," kata Kepala Kantor Basarnas Banjarmasin I Putu Sudayana. Tantangan ini membuat tak mudah untuk menemukan korban.
Tidak hanya di dalam kapal, korban juga ditemukan hanyut terbawa arus sejauh 248,36 mil laut atau sekitar 459 kilometer hingga perairan Sukamara, Kalimantan Tengah. Untuk korban yang ditemukan di Kalimantan Tengah kabut asap bahkan sempat menghambat penggunaan helikopter sehingga sebagian jenazah harus dibawa 16 jam melalui jalur darat menuju RS Bhayangkara Banjarmasin untuk proses DVI.
Catatan apa yang bisa dipetik dari musibah ini selain apresiasi kepada Basarnas? Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii pernah mengakui di depan rapat kerja dengan DPR: "Jika ditanya apakah fasilitas kami sudah mencukupi? Jawabannya tentu masih sangat jauh dari cukup," katanya. Mohammad Syafii tidak mengeluh sebagaimana para Menteri lain yang merasa anggarannya tidak memadai. Kepala Basarnas ini hanya mengungkapkan fakta di lapangan untuk dimaklumi bersama.
Yang pertama, Basarnas kekurangan alat-alat canggih. Basarnas belum memiliki alat sonar yang memadai untuk mencari titik kapal tenggelam. Alat yang ada hanya bisa dipakai setelah lokasi ditemukan. Bagaimana menyelamatkan korban jika tenggelamnya kapal tidak diketahui posisinya? Arus laut yang deras bisa menghanyutkan kapal ke tujuan yang sulit diprediksi. Contoh terakhir adalah hilangnya kapal boat yang mengangkut lima jurnalis peliput erupsi gunung AnakKrakatau di Selat Sunda. Berhari-hari Basarnas menyusuri laut itu, hasilnya nihil sampai operasi dihentikan. Tiba-tiba satu korban awak kapal ditemukan di Pantai Bengkulu, betapa jauhnya dari Selat Sunda, sesuatu yang tak pernah diperkirakan. Korban lain tetap saja misteri. Belum dimilikinya alat sonar yang memadai ini adalah sebagian kecil dari peralatan canggih yang harus dimiliki Basarnas.
Yang kedua masalah personel. Basarnas sebagai lembaga di bawah langsung presiden idealnya punya 29.000 personil. Namun saat ini, menurut Kepala Basarnas, hanya punya 5.462 personel yang tersebar di 45 kantor SAR. Idealnya pula satu kabupaten ada satu kantor SAR. Nyatanya, satu kantor SAR harus melayani beberapa kabupaten. Contoh satu kantor seperti di Sumatra Barat harus meng-cover 18 kabupaten/kota.
Keterbatasan ketiga, masalah klasik, soal anggaran: Pagu 2025 yang awalnya Rp 1,497 triliun dipangkas menjadi Rp 1,011 triliun. Dalam APBN 2026 Basarnas hanya dapat Rp 1,4 triliun, padahal kebutuhan Renstra 2025-2029 mencapai Rp 15,2 triliun. Angka yang terlalu kecil dibandingkan, misalnya, anggaran untuk proyek Makan Bergizi Gratis.
Memang seringkali kita menghadapi dilema dalam menentukan anggaran yang menyangkut musibah, apakah itu bencana alam atau bencana dari kelalaian yang kita buat. Anggaran terlalu besar seolah ada kesan bahwa kita memang mengundang datangnya musibah – sesuatu yang mengaa-ada. Namun anggaran yang kecil seringkali pula membuat kita kelabakan jika musibah itu terjadi. Padahal sangatlah sulit memprediksi kapan musibah itu datangnya.
Dalam berbagai upaya yang bisa kita lakukan adalah mencegah sedini mungkit musibah itu terjadi kecuali hal-hal yang tak bisa kita prediksi kapan datangnya, seperti gempa bumi, misalnya. Namun teknologi memberikan kita pelajaran bahwa ada suatu tempat yang rentan musibah dan kita bisa lakukan antisipasi. Teknologi memberitahu di mana lempeng bumi yang bisa menggetarkan sehingga terjadi gempa, lalu kita antisipasi dengan menghindari bangunan yang mudah roboh jika tanah bergoyang.
Begitu pula dengan ganasnya laut. Sebagai negara kepulauan dengan jutaan kilometer persegi berupa lautan, kita harusnya siap bagaimana memanfaatkan dan menggunakan laut itu untuk kesejahtraan, bukan membiarkan terjadi malapetaka. Kita tahu, laut di Masalembo dengan ombak yang tinggi dan arus bawah yang dasyat, harusnya bisa antisipasi kapal sejenis apa yang boleh lewat. KM Virgo yang tenggelam dan terbalik adalah kapal jenis roro yang sudah tua, baru dua bulan didatangkan dari Jepang. Usianya 37 tahun dan di negeri asalnya kapal jenis itu sudah harus pensiun di usia 30 - 35 tahun. Nah, kenapa kapal motor jenis itu harus menghubungkan Surabaya dan Banjarmasin? Kenapa tidak ditaruh di selat yang pendek saja, misalnya cukup beroperasi di Selat Bali antara Gilimanuk – Ketapang.
Begitu pula menyangkut keselamatan penumpang. Di mana letak pelampung, bagaimana cara menggunakannya, alarm yang berfungsi baik, termasuk manifes yang akurat tentang penumpang dan barang yang dimuat truck, haruslah tertib. Barangkali perlu ada peragaan kepada penumpang bagaimana menggunakan alat-alat keselamatan itu seperti halnya yang dilakukan di pesawat terbang.
Semua itu kelihatannya remeh tapi akan terasa dampaknya kalau musibah terjadi. Tentu yang paling utama adalah kebijakan yang bersifat nasional bagaimana kita mulai investasi jangka panjang. Yakni dengan modernisasi armada laut, bukan hanya mengandalkan kapal bekas yang bisa dibeli dengan murah. Beli kapal baru. Kalau di darat kita bisa menghadirkan kereta api cepat Whoosh – padahal jarak Jakarta dan Bandung tak seberapa panjang dan banyak alternatif angkutan – di laut harusnya ada kapal lebih moderen dan nyaman selain aman.
Kecelakaan KM Virgo mengingatkan bahwa keselamatan bukan hanya tanggung jawab nakhoda atau cuaca, melainkan seluruh ekosistem: regulator, operator, pelabuhan, dan pengguna. Tanpa perbaikan menyeluruh, maut akan terus mengintai untuk kesalahan dan kelalaian yang sudah kita ketahui. Masih syukur kita punya Basarnas dengan semboyannya yang tangguh: Avignam Jagat Samagram – Selamatlah Manusia dan Alam Semesta.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar