Upah Rp700: Ketika Orang Kecil Mendadak Jadi Berita
RAMAINYA pemberitaan mengenai ucapan Presiden Prabowo Subianto tentang upah seorang pengupas bawang mengingatkan saya bahwa sebuah pidato kenegaraan kadang-kadang tidak berhenti pada apa yang disampaikan di podium. Kata-kata yang terucap bisa bergulir menjadi berita, perdebatan, bahkan membawa orang kecil yang disebut di dalamnya ke tengah sorotan publik. Saya sendiri sebelumnya telah menulis esai tentang penyebutan Susanah dan penghasilannya oleh Presiden Prabowo dalam tulisan “Salah Ucap Mengaburkan Makna.”
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Muhammad Qodari sebagaimana diberitakan warta ekonomi online, memberikan klarifikasi. Menurut Qodari, angka yang tertulis dalam naskah sebenarnnya Rp700 per kilogram, bukan Rp700 ribu. Kesalahan terjadi ketika angka tersebut diucapkan. Qodari menyebutnya sebagai slip of the tongue, sesuatu yang manusiawi ketika seseorang berbicara panjang, dan ia menyampaikan permintaan maaf.
Dengan klarifikasi Qodari, persoalan angka s sudah memperoleh penjelasan. Tetapi bagi saya, sebagai orang yang pernah berada di dunia jurnalistik dan meliput berbagai peristiwa kenegaraan, justru muncul pertanyaan lain yaitu “ Apakah persoalannya hanya salah ucap? “
Dalam komunikasi lisan, hal seperti ini memang dapat disebut slip of the tongue. Seorang pembicara dapat keliru menyebut angka, nama, atau kata meskipun telah mempersiapkan materi. Karena itu, saya dapat memahami ketika Qodari menyebut salah ucap sebagai sesuatu yang manusiawi. Kita tentu patut menghargai adanya klarifikasi dan permintaan maaf. Dalam komunikasi publik, ketika terjadi kekeliruan, mengoreksi informasi merupakan bentuk tanggung jawab kepada masyarakat. Salut kepada Kepala Bakom Pemerintahan.
Namun, koreksi angka ternyata belum menyelesaikan seluruh persoalan. Bagaimana jika ternyata Susanah Bukan Pengupas Bawang?
Penelusuran media kemudian menghadirkan informasi lain mengenai Susanah.
Ia ternyata bukan buruh pengupas bawang sebagaimana disebut dalam pidato. Dari penelusuran terhadap kehidupan Susanah, diketahui bahwa ia bekerja membuat atau menjahit kain majun dan juga bekerja di lingkungan dapur proyek Makan Bergizi Gratis (MBG). Berita investigatif Kompas.com yang menelusuri sosok Susanah memberikan informasi yang berbeda dari gambaran yang muncul dalam pidato Presiden. Susanah disebut ternyata bukan pengupas bawang, melainkan karyawan dapur MBG. Penelusuran tersebut juga mengaitkan angka Rp700 dengan pekerjaan lain, yakni pengumpulan kain perca.(https://regional.kompas.com/read/2026/08/17/190530278/bukan-pengupas-bawang-susanah-yang-disebut-dalam-pidato-prabowo-ternyata?page=all )
Jika pekerjaan orang yang disebut dalam pidato ternyata tidak sesuai dengan kenyataan, persoalannya tidak cukup dijelaskan dengan istilah slip of the tongue. Presiden Prabowo, telah mendapatkan masukkan yang keliru mengenai latar belakang pekerjaan Ibu Susanah.
Pertanyaan selanjutnya kalau ia bukan pengupas bawang, mengapa ia dihadirkan dan diperkenalkan demikian dalam pidato Presiden ?
Sepanjang pengalaman saya mengikuti dan meliput kegiatan kenegaraan, kehadiran seseorang di ruang kehormatan bukan sekadar persoalan tempat duduk.
Pada masa sebelumnya, orang-orang yang ditempatkan di ruang kehormatan dalam acara kenegaraan biasanya memiliki prestasi, keteladanan nasional , jasa, atau kisah perjuangan yang dianggap layak ditampilkan kepada publik. Di masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono RRI menghadirkan dua pahlawan devisa (TKW) penulis cerpen terbaik untuk Voice of Indonesia, serta reporter di daerah perbatasan dengan dedikasi dan liputan terbaik.
Ada yang perlu diperhatikan setelah adanya kontroversi mengenai pekerjaan dan penghasilan ibu Susanah. Setelah namanya disebut Presiden dan menjadi viral, rumah Susanah didatangi wartawan. Muncul pemberitaan mengenai adanya garis kuning yang disebut-sebut sebagai “garis polisi”.
Namun polisi kemudian mengklarifikasi bahwa tidak ada police line yang dipasang polisi di rumah Susanah. Kantor Berita Kemanusiaan (KBK) memberitakan bahwa menurut keterangan petugas keamanan, pembatas tersebut diberitakan sebagai upaya lingkungan setempat mengendalikan kerumunan media dan menjaga ketenangan keluarga
Ketika Orang Kecil Menjadi Berita
Selain mengharapkan kalangan Istana dan DPR RI agar lebih cermat dalam memilih dan menghadirkan warga masyarakat hadir di lobi Grahasaba Paripurna, perhatian juga perlu diberikan kepada Ibu Susanah.
Susanah yang sebelumnya mungkin tidak dikenal banyak orang, dalam hitungan hari berubah menjadi perhatian nasional. Namanya disebut Presiden. Pekerjaannya diberitakan. Penghasilannya diperbincangkan. Rumahnya didatangi wartawan. Kehidupan pribadinya tiba-tiba masuk ke ruang publik.
Di sinilah saya kira jurnalis dan kantor berita yang menugasinya perlu berhenti sejenak dan bertanya kepada dirinya sendiri: apakah kita sedang memberitakan Susanah, atau sedang membuat Susanah menjadi berita? Ataukah, tanpa kita sadari, pemberitaan itu justru menimbulkan beban psikologis bagi Susanah?
Jurnalisme memang mempunyai tugas mencari berita. Tetapi jurnalisme juga mempunyai tanggung jawab kepada orang yang diberitakan. Apalagi jika orang tersebut bukan pejabat, bukan selebritas, dan bukan tokoh publik, melainkan orang awam atau rakyat kecil yang tiba-tiba menjadi perhatian nasional.
Saya bisa membayangkan kebingungan seorang Ibu Susanah. Semula ia mungkin datang ke upacara kenegaraan dengan perasaan bahagia dan bangga karena mendapat kesempatan hadir di sebuah momentum penting negara. Tetapi setelah itu, kehidupannya berubah. Namanya menjadi bahan perbincangan. Pekerjaannya dipertanyakan. Penghasilannya diperbincangkan. Rumahnya didatangi banyak wartawan.
Saya jadi ingat prinsip Jurnalisme yang beretika dan tidak hanya mengejar kebaruan dan kecepatan, dengan berhitung click bites, tetapi juga memegang teguh prinsip "Do No Harm" dengan memastikan bahwa proses kerja jurnalistik tidak memperburuk kondisi psikologis dan kehidupan sosial narasumber yang rentan. Antaralain dengan mempedomani prinsip empati dan menghormati martabat (Humanity & Dignity), serta kesetaraan posisi dan bahasa (Level Playing Field).
Betapa gugupnya seseorang yang dalam kesehariannya mungkin hidup sederhana dan tidak terbiasa menjadi pusat perhatian, kemudian harus berhadapan dengan banyak orang yang datang membawa berbagai pertanyaan, sementara kamera terus menyorot dirinya. *
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar