28 Tahun Reformasi - Dari 21 Mei 1998 Sampai Hari Ini
Duapuluh delapan tahun lalu, pagi hari di tanggal 21 Mei 1998 itu saya berjingkrak girang menonton tayangan siaran langsung televisi dari Istana Merdeka. Hampir tak percaya, tapi nyata: Presiden Soeharto yang 32 tahun bertahta, dengan suara berat tanpa senyum, mengumumkan pengunduran dirinya.
Malam sebelumnya, beberapa sms dari teman-teman mengabarkan bahwa “orang tua itu” – ada yang menyebutnya oudeheer, ada yang memanggilnya Pakde ..pokoknya yang dimaksud adalah Soeharto, sang penguasa Orde Baru itu - “..akan lengser besok”. Meski dalam hati berharap, bahkan sempat ikut turun ke jalan dan ditembaki aparat di sekitar Semanggi dan Senayan, saya belum yakin betul pada info itu.. Situasi memang makin mencekam sejak terjadinya kerusuhan sosial sepuluh hari sebelumnya.
Dan ternyata pagi itulah puncak gelombang yang menuntut reformasi berhasil menumbangkan Orde Baru. Saya bersorak ketika sobat Jus Sumadipradja, ex wartawan Kompas, berteriak melalui telepon, “Si Babe turun, bro…”. Kami masing-masing melihat di layar televisi, Soeharto ditemani putrinya Tutut pulang ke Cendana. Padahal orang ini pula yang pada awal tahun 1966 kami – para mahasiswa – dukung untuk menumbangkan Orde Lama, tak peduli berondongan peluru Cakrabirawa.
Tanggal 21 Mei 1998 adalah salah satu penanda zaman. Runtuhnya kekuasaan Soeharto bukan sekadar pergantian pemimpin, melainkan akhir dari sebuah cara mengelola negara. Selama lebih tiga dekade Orde Baru berdiri di atas fondasi stabilitas. Ketika krisis ekonomi menghantam, fondasi yang tampak kokoh itu retak dan akhirnya rontok. Dari sana kita seperti membuka gerbang bernama reformasi.
Tapi reformasi itu datang seperti ledakan. Semua bergerak cepat, bahkan kadang terlalu cepat. Pers mendadak bebas, partai politik bermunculan dan suara publik menemukan ruangnya. Konstitusi diperbaiki, masa jabatan presiden dibatasi dan daerah diberi otonomi lebih luas. Pembangunan berjalan, ekonomi tumbuh …
Di saat yang sama korupsi terasa semakin kasat mata. Ia tak lagi bersembunyi di balik tembok kekuasaan tetapi muncul dalam berbagai kasus yang silih berganti. Reformasi yang bertujuan memberantas korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang subur di masa Orba, lama-lama tidak terasa lagi.. Hampir di seluruh lini pemerintahan, praktik itu bisa ditemukan. Dari Pusat sampai ke daerah, dari menteri, ketua partai, gubernur, bupati sampai kepala desa, bahkan sampai petugas pajak dan tukang parkir.
Kalau boleh dibilang 21 Mei 1998 kita menang melawan rezim, hari ini kita kalah melawan diri sendiri oleh korupsi, nepotisme, apatisme, dan lupa. Reformasi akan mati kalau cuma dikenang, bukan dirawat. Karena itu jangan berhenti bersuara, dukung jurnalisme investigatif. Korupsi tumbuh karena dianggap biasa. Mari ajarkan integritas sejak dini.
Reformasi pada akhirnya bukanlah sekadar peristiwa yang selesai pada satu tanggal. Ia adalah proses yang terus berjalan. Apakah sesudah 1966, 1998... kini, kita harus kembali turun ke jalan lagi dan… diberondong peluru lagi ?. Rasanya sudah cukuplah….
ltevquokvgmzpqixloidpouvujsszl
Tulisan mas Renville ini mengingatkan saya pada peristiwa 1998. Kini, 28 tahun lalui, situasi tampaknya tak berubah.
Terimakasilh Bung Redaktur semoga warga SWS60+ sebagai saksi sejarah tetap kritis walau sudah senior alias tuaa...