Esai

Fondasi

SW60Plus.com, 05 Agustus 2026, 08:11 WIB
Edhy Aruman
Edhy Aruman
· 17x dilihat

PADA 2010, dunia berdecak kagum kepada Yelena Baturina. Majalah Forbes menobatkannya sebagai perempuan terkaya di Rusia sekaligus perempuan terkaya ketiga di dunia. 
Perusahaan konstruksi miliknya, Inteko, tumbuh bak gedung pencakar langit yang seolah menembus langit tanpa batas. Dari luar, kisah itu tampak seperti dongeng klasik tentang kerja keras, kecerdasan, dan keberanian seorang pengusaha perempuan yang berhasil menaklukkan dunia bisnis. 
Namun, seperti banyak bangunan megah, orang lebih sibuk memotret fasadnya daripada memeriksa fondasi yang menopangnya.
Tidak banyak yang bertanya mengapa Inteko hampir selalu memenangkan proyek-proyek pembangunan terbesar di Moskow. Tidak banyak pula yang mempertanyakan mengapa perusahaan itu melesat jauh meninggalkan para pesaingnya. Jawabannya ternyata tidak berada di ruang rapat direksi, tidak pula di laboratorium inovasi atau lini produksi yang lebih efisien. 
Pondasi kejayaan Inteko sesungguhnya berada beberapa kilometer dari kantor pusatnya: Balai Kota Moskow, tempat Yuri Luzhkov—suami Baturina—menjabat sebagai wali kota dengan kekuasaan yang sangat besar atas anggaran pembangunan kota. 
Selama bertahun-tahun, proyek bernilai miliaran dolar mengalir ke perusahaan milik istrinya. Pasar tetap terlihat bekerja, tetapi kompetisi perlahan berubah menjadi sekadar dekorasi dalam demokrasi ekonomi.
Lalu datanglah hari yang mengubah segalanya. Ketika Presiden Rusia memecat Yuri Luzhkov pada 2010 karena kehilangan kepercayaan publik, tidak ada gedung Inteko yang ambruk. Tidak ada crane yang berhenti berputar. Tidak ada pekerja yang tiba-tiba meninggalkan lokasi proyek. 
Secara fisik, semuanya tampak biasa. 
Namun, sesuatu yang jauh lebih penting runtuh pada hari itu: pondasi kekuasaan yang selama ini menopang kejayaan perusahaan. Hanya dalam waktu sekitar satu tahun, kekayaan pribadi Baturina merosot dari US$2,9 miliar menjadi US$1,2 miliar. Yang hilang ternyata bukan kemampuan membangun gedung, melainkan kemampuan memperoleh akses istimewa terhadap proyek-proyek negara.
Kisah ini menghadirkan paradoks yang sering luput dalam membaca keberhasilan perusahaan. Kita terbiasa menganggap perusahaan besar pasti dikelola dengan baik. Kita juga cenderung menganggap laba tinggi identik dengan efisiensi tinggi. Padahal, laporan keuangan hanya mencatat hasil akhir, bukan sumber keunggulan yang melahirkannya. Neraca dapat menunjukkan keuntungan miliaran dolar, tetapi tidak pernah memiliki kolom yang menjelaskan berapa persen laba itu berasal dari inovasi, dan berapa persen berasal dari kedekatan dengan penguasa.
Paradoks tersebut tidak berhenti menjadi cerita politik. Ia kemudian diuji secara ilmiah oleh ekonom Mikhail Mironov melalui penelitian terhadap lebih dari 58.000 perusahaan swasta dan sekitar 3,1 juta pemilik surat izin mengemudi di Rusia. 
Pendekatannya bahkan terdengar nyaris menggelitik. 
Alih-alih mengukur korupsi melalui persepsi publik, Mironov justru mengamati pelanggaran lalu lintas yang "menghilang". 
Logikanya sederhana. Di Rusia, kecelakaan hampir selalu tercatat karena harus diproses secara hukum, sedangkan pelanggaran lalu lintas sering kali diselesaikan di pinggir jalan melalui uang damai kepada polisi. Jika seseorang jauh lebih jarang tercatat melakukan pelanggaran dibandingkan dengan yang diperkirakan berdasarkan karakteristik mengemudinya, ada kemungkinan ia lebih sering menyelesaikan persoalan melalui suap. 
Ternyata, memahami korupsi kadang lebih mudah dimulai dari lampu merah daripada dari ruang sidang.
Temuan Mironov justru semakin mengusik. Dalam lingkungan yang korup, perusahaan yang dipimpin manajer dengan kecenderungan korupsi lebih tinggi memang menunjukkan pertumbuhan pendapatan yang lebih cepat, produktivitas yang lebih tinggi, dan rasio pendapatan terhadap aset yang lebih baik. 
Namun, pada saat yang sama, perusahaan-perusahaan tersebut juga lebih banyak mengalihkan dana ke perusahaan bayangan, lebih rendah transparansi penggajiannya, dan lebih agresif menghindari kewajiban kepada negara. 
Dengan kata lain, yang meningkat bukan semata-mata daya saing, melainkan kemampuan memanfaatkan kelemahan institusi. Keberhasilan itu nyata, tetapi kualitasnya semu. Ia bekerja seperti steroid bagi atlet: mampu memperbesar otot dalam waktu singkat, tetapi perlahan-lahan merusak tubuh yang menopangnya.
Yang lebih menarik lagi, keunggulan itu hampir menghilang pada perusahaan yang dimiliki oleh investor asing. Tata kelola yang lebih ketat membuat ruang untuk memainkan kedekatan politik menjadi jauh lebih sempit. Ketika pintu korupsi tertutup, faktor yang menentukan kemenangan kembali pada inovasi, efisiensi, dan kualitas kepemimpinan. 
Temuan ini memberikan pelajaran penting bahwa korupsi mungkin mampu mempercepat pertumbuhan, tetapi hampir tidak pernah mampu menciptakan keunggulan yang berkelanjutan. Ia mempercepat berdirinya bangunan, tetapi tidak pernah memperkuat pondasinya.
Kisah Baturina sesungguhnya jauh melampaui Rusia. Hampir setiap negara pernah melahirkan perusahaan-perusahaan yang tumbuh sangat cepat karena terlalu dekat dengan pusat kekuasaan. 
Selama angin politik berembus ke arah yang sama, bangunan itu tampak kokoh. Para investor memujinya, media mengangkatnya sebagai kisah sukses, bahkan masyarakat menganggapnya simbol kecerdasan bisnis. Namun, sejarah berulang kali menunjukkan bahwa ketika rezim berganti, prioritas berubah, atau pelindung politik kehilangan kursinya, keunggulan itu sering menguap lebih cepat daripada proses membangunnya.
Di sinilah pelajaran paling penting dari kisah Inteko. Keberhasilan yang bertumpu pada inovasi biasanya mampu bertahan melewati pergantian pemerintahan. Sebaliknya, keberhasilan yang bertumpu pada privilese politik sering ikut runtuh bersama orang yang selama ini melindunginya. 
Itulah sebabnya, ketika menilai sebuah perusahaan, pertanyaan terpenting bukan lagi, "Berapa besar labanya?" atau "Seberapa tinggi valuasi-nya?" Pertanyaan yang lebih jujur adalah, "Jika semua akses istimewa dicabut besok pagi, apakah perusahaan itu masih mampu berdiri?"
Karena pada akhirnya, bangunan yang benar-benar kuat tidak dikenali ketika langit sedang cerah, melainkan ketika badai politik datang dan pondasinya tetap tidak runtuh.
Edhy Aruman
JAM 6 TENG—enam menit untuk membaca, seharian untuk merenung.

RUJUKAN 
Mironov, M. (2015). Should one hire a corrupt CEO in a corrupt country? Journal of Financial Economics, 117(1), 29–42. https://doi.org/10.1016/j.jfineco.2014.03.002

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000