Esai

Andalan

SW60Plus.com, 21 Agustus 2026, 07:03 WIB
Edhy Aruman
Edhy Aruman
· 6x dilihat

Dalam buku Burnout: How to Manage Your Nervous System Before It Manages You (2024), Claire Plumbly menceritakan Suraj, seorang arsitek junior di sebuah biro ternama. Ia disiplin, ambisius, mencintai pekerjaannya, dan sebenarnya tidak punya masalah dengan manajemen waktu—ia justru terlalu pandai mengatur hidupnya.


Pagi hari ia bermeditasi, pekerjaan disusun dengan time-blocking, dan saat makan siang ia menyempatkan berjalan kaki. Ia bercita-cita menjadi partner dan, dari luar, tampak seperti tipe karyawan yang membuat atasan tidur nyenyak: produktif, mandiri, bertanggung jawab, dan jarang merepotkan orang lain.


Sampai sebuah email revisi dari klien masuk.
Bagi seorang arsitek, revisi adalah hal biasa. Tetapi bagi Suraj, kalimat “tolong direvisi” terdengar seperti: “Mungkin mereka mulai sadar kalau saya sebenarnya tidak cukup bagus.”


Pikirannya langsung berlari ke mana-mana. Bagaimana kalau klien kecewa? Bagaimana kalau mereka menginginkan arsitek yang lebih berpengalaman? Bagaimana kalau atasannya akhirnya sadar bahwa ia tidak sekompeten yang mereka kira?


Suraj meninggalkan pekerjaan lain dan mencurahkan seluruh energinya pada revisi tersebut. Ia memeriksa, memperbaiki, lalu memeriksa lagi, bukan sekadar karena ingin menghasilkan desain bagus, tetapi karena kesalahan terasa seperti ancaman terhadap harga dirinya.


Anehnya, bukan pekerjaan yang akhirnya membawa Suraj ke terapi. Ia mencari bantuan setelah hubungannya dengan pasangan hampir berantakan. Di kantor ia masih profesional, tetapi ketika pulang energinya sudah habis; ia mudah marah dan sensitif, sampai pasangannya memberi ultimatum: cari bantuan atau hubungan mereka selesai.


Ironisnya, Suraj begitu takut mengecewakan klien yang mungkin hanya bertemu dengannya beberapa kali. Tanpa sadar, ia justru menyakiti orang yang menunggunya pulang setiap malam.


Masalah Suraj ternyata dimulai jauh sebelum ia mengenal klien dan deadline. Ia tumbuh dengan tuntutan akademis tinggi dan peran sebagai golden child yang diharapkan selalu berprestasi.


Ia berhasil, tetapi keberhasilan jarang benar-benar dirayakan. Prestasi bukan sesuatu yang istimewa; prestasi adalah sesuatu yang memang sudah seharusnya ia capai.
Masa sekolah pun tidak mudah. Suraj sering berpindah sekolah, merasa berbeda, mengalami perundungan, dan perlahan kesulitan membangun hubungan dekat. Maka ia menemukan tempat yang terasa lebih aman: prestasi.


Manusia sulit ditebak, sedangkan buku pelajaran lebih sederhana—kalau jawabannya benar, nilainya bagus. Pelan-pelan terbentuk rumus dalam dirinya: kalau saya berprestasi, saya aman; kalau saya tidak membuat kesalahan, saya tidak akan ditolak.
Dan rumus itu berhasil. Sangat berhasil.
Rumus itu membuat Suraj rajin, mandiri, perfeksionis, dan sukses. Sampai sifat-sifat yang dahulu melindunginya justru mulai menghabiskan dirinya.


Inilah paradoks burnout: kadang yang menjatuhkan kita bukan kelemahan, melainkan kekuatan yang terlalu lama dipakai tanpa rem. Perfeksionisme menghasilkan pekerjaan bagus sampai satu revisi terasa seperti kegagalan pribadi; kemandirian membuat kita tangguh sampai meminta bantuan terasa memalukan; ambisi membawa kita maju sampai berhenti sebentar terasa seperti kemunduran.
Lebih ironis lagi, lingkungan sering memberi tepuk tangan pada perilaku yang sedang menguras kita. Pulang paling malam disebut berdedikasi, selalu berkata “iya” disebut team player, mengerjakan semuanya sendiri disebut bisa diandalkan, dan tetap tersenyum saat kewalahan disebut profesional.
Maka burnout bisa tumbuh ketika seseorang masih terlihat sukses. Semakin kuat seseorang bertahan, semakin lama orang lain—bahkan dirinya sendiri—tidak menyadari bahwa ia sedang kehabisan tenaga.
Plumbly menjelaskan bahwa pengalaman masa lalu dapat membentuk strategi perlindungan diri yang terbawa hingga dewasa. Pada Suraj, strategi itu berupa bekerja lebih keras, menghindari kesalahan, dan mengandalkan diri sendiri agar terhindar dari kritik atau penolakan.

Kadang kita mengalami burnout bukan karena terlalu banyak bekerja, tetapi terlalu sibuk membuktikan bahwa kita berharga.

Itulah sebabnya email revisi tidak terasa seperti sekadar email. Tubuh Suraj membacanya sebagai sesuatu yang jauh lebih besar: kritik, kegagalan, penolakan.
Karena itu Suraj tidak membutuhkan aplikasi produktivitas baru. Kalendernya sudah rapi; yang perlu ia tata adalah cara dirinya merespons tekanan.


Ketika stres muncul, ia belajar berhenti sejenak, mengenali emosinya, lalu bertanya: “Kalau teman saya mengalami situasi ini, apa yang akan saya katakan?” Jawabannya lebih manusiawi: revisi itu normal, tidak mungkin memahami semua keinginan klien pada percobaan pertama, dan satu kesalahan tidak menghapus semua pekerjaan baik sebelumnya.


Lucunya, kepada teman kita sering sangat bijaksana. Kepada diri sendiri, kita kadang berubah menjadi atasan galak yang kalau benar-benar bekerja di perusahaan mungkin sudah dilaporkan ke HR.


Suraj kemudian mulai meminta tambahan waktu, berbicara dengan manajernya, dan mencari dukungan dari rekan senior. Ia tidak kehilangan ambisi; ia hanya belajar bahwa standar tinggi tidak harus dibayar dengan mengorbankan diri sendiri.


Mungkin Suraj tidak terlalu berbeda dari kita. Burnout tidak selalu terjadi karena seseorang tidak kuat menghadapi tekanan; kadang justru karena seseorang terlalu lama merasa harus kuat.


Kita mengatakan iya, mengerjakan semuanya sendiri, tidak ingin mengecewakan siapa pun, lalu berjanji akan beristirahat setelah pekerjaan selesai. Masalahnya, pekerjaan hampir tidak pernah benar-benar selesai.
Maka mungkin pertanyaan terpenting bukan, “Bagaimana supaya saya lebih produktif?” Pertanyaannya adalah: “Apa yang sebenarnya saya takutkan kalau saya berhenti?”
Takut dianggap malas? Takut mengecewakan orang lain? Atau takut bahwa ketika tidak sedang menghasilkan sesuatu, kita tidak lagi merasa cukup berharga?


Sebab mungkin burnout bukan hanya tentang terlalu banyak bekerja. Kadang kita bekerja begitu keras untuk membuktikan bahwa diri kita berharga, sampai tidak menyisakan cukup diri untuk menikmati apa yang sudah kita perjuangkan.


Dan ketika tubuh akhirnya meminta berhenti, kita bertanya, “Kenapa saya sekarang tidak sekuat dulu?” 
Padahal mungkin pertanyaan yang lebih menghantui adalah:
“Sejak kapan saya percaya bahwa untuk merasa berharga, saya harus terus membuktikannya?”

Edhy Aruman
JAM 6 TENG—enam menit untuk membaca, seharian untuk merenung.

RUJUKAN
Plumbly, C. (2024). Burnout: How to manage your nervous system before it manages you. Yellow Kite.

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000