Esai

Apa Iya, Kewartawanan “Never Sleeps, Never Dies”?

SW60Plus.com, 23 April 2026, 14:45 WIB
Mohamad Cholid
Mohamad Cholid
· 114x dilihat
Serikat Wartawan 60+ mengibarkan semboyan "never sleeps, never dies", terpampang di bagian dada kaus yang dibagikan saat deklarasi Jumat 17 April di Aula LSPR, Jakarta. Bener, nih?

Sesungguhnya pernyataan yang dikibarkan sebagai pembangkit semangat perserikatan wartawan berusia 60+ – dengan pengalaman 25 tahun menjalani profesi – ini, menyiratkan hal-hal yang lebih mendalam dan multidimensi perihal kerja jurnalistik.

Dari proses kerja sampai yang tak kurang pentingnya, mindset para penentu konten. Semboyan SWSI (Serikat Wartawan Senior Indonesia atau SW60+) tersebut seperti hendak mengingatkan kembali realitas terdalam tentang bagaimana news dan informasi publik diolah dan didistribusikan.

Dalam memberitakan dan menginterpretasikan dinamika muamalah global, ketika manusia berinteraksi dalam kelindan ekonomi, politik, dan sosial, di tengah terjadinya gesekan dan pergeseran budaya antarbangsa, didukung teknologi digital, newsroom praktis bekerja 24 jam sehari tanpa libur. Tidak pernah tidur.

Ini tentang tempo dan kesegeraan. Audiens selalu mengharapkan update tentang sejumlah hal yang menjadi perhatian mereka, bahkan secara instan, real time. Keniscayaan informasi adalah 24/7, maka produksi news bersifat konstan. Ini kemudian dimungkinkan utamanya oleh kecanggihan media digital, otomatisasi, dan maraknya citizen reporters.

Konsekuensinya?
Kita bisa kehilangan pikiran jernih dalam melihat keterbatasan manusia, utamanya saat menghadapi tuntutan publik. Kenyataannya, para wartawan perlu tidur. Newsroom pun tidak selamanya 100 persen selalu mulus. Tuntutan untuk selalu on menyajikan informasi terkini mengakibatkan para wartawan mengalami burnout (kehilangan vitalitas bekerja, dis-engaged dari konteks profesionalnya: Dr. Steven Berglas, Stay Hungry & Kick Burnout in the Butt, 2018). Sehingga rentan bertindak keliru dan menghasilkan reportase dangkal.

Kondisi tersebut juga bisa akibat tuntutan ekonomi. Para pengelola media berkompetisi sepanjang waktu agar mampu terus menjadi paling menarik dan layak disimak. Timbul kecenderungan mengemas berita yang sensasional, melupakan bobotnya (value). Sepertinya “never sleeps, never dies” perlu kita maknai berbeda. Dalam usia biologis 60+, “never sleeps” bisa dimaknai “meneruskan hidup dengan sikap selalu awas”. Kewartawanan adalah bagian dari upaya menjaga kewarasan ruang publik. Namun kita juga perlu selalu menafsirkan kembali apa itu ruang publik. Perkembangan media belakangan ini — dengan hadirnya Gen AI dan kekuatan konvergensi media yang memungkinkan terjadinya deepfake, disinformasi, pelecehan akal sehat yang disistribusikan secara masif dalam waktu yang sama di pelbagai platform — ruang publik sudah tak berbatas. Situasi ini menuntut kita “tidak pernah tidur” . Never dies? Ini yang juga perlu kita waspadai hari-hari ini. Jurnalisme never dies adalah tentang kesinambungan peran. Sebagai pengolah dan penyedia informasi untuk publik, mengawasi kerja para penyelenggara negara, mendokumentasi peristiwa, jurnalisme menembus batas ruang, waktu, dan kemasannya – dari cetak ke broadcast, ke platform digital dan media sosial. Dengan konvergensi media, distribusi informasi bisa serempak di multiplatform.

Jurnalisme never dies karena masyarakat selalu akan membutuhkannya, dalam pelbagai bentuk dan variasinya. Di bawah tekanan maupun di tengah disrupsi ekonomi dan teknologi.
Jurnalisme memang tidak akan mati, barangkali sampai umat manusia punah. Namun kita tidak boleh lengah. Belakangan ini indikasinya sudah terbaca adanya upaya-upaya melumpuhkan jurnalisme. Satu di antaranya adalah mengkooptasi pers menjadi sarana propaganda perang oleh pihak-pihak yang punya pengaruh besar di politik dan ekonomi– sebagaimana diceritakan Ahmadie Thaha di WS60+ (Bom Kata-Kata).

Tanpa rasa malu, media-media mainstream yang selama ini dikenal menyuarakan kemerdekaan pers dan demokrasi, serta anti-imperialisme, telah tunduk pada kepentingan Amerika dan Zionis Israel, saat memberitakan agresi mereka ke Iran.

Untuk menambahkan cerita Ahmadie Thaha, perlu saya sampaikan langkap jurnalisme (di AS) belakangan ini: Bahwa oligarki telah menguasai mainstream media. Termasuk di dalamnya Washington Post dan Los Angeles Times. Juga CBS yang diambil alih oleh Larry Ellison (pemilik Oracle, dengan kekayaan US$ 200 milyar) dan anaknya, untuk langsung merapat ke Donald Trump sebagai misinformation machine (pembuat informasi lancung). Tak kurang menyedihkannnya adalah potret Twitter (X) dalam kendali Elon Musk, yang dianggap mengobarkan rasisme dan misinformasi.

Sudah sekian tahun lamanya koran, radio, dan televisi berada dalam kendali pemodal besar dengan kecenderungan mengutamakan profit dan mengorbankan integritas jurnalistik. Kualitas pun menurun. Kalangan wartawan Amerika bilang, pers dilanda slop (low-quality, AI generated filler) dan slime (unethical or agenda-driven content).Itu ancaman kematian nonfisik sebagai dampak para oligarki menguasai media.

Sementara itu, kematian fisik terus terjadi. Contohnya, sebagaimana diberitakan Al Jazeera, sejak Maret sampai pekan ketiga April 2026 ini, tentara Israel telah membunuh lima orang wartawan di Lebanon.

Selain adanya upaya pelemahan oleh kolaborasi para oligarki dengan kepentingan Trump dan Netanyahu itu, jurnalisme telah banyak terancam dari dalam dirinya sendiri. Menurut saya, jurnalisme bisa mengalami krisis eksistensial, mungkin juga kematian, ketika pengelola media dan watawan “kehilangan pertanyaan”. Hari-hari ini sesungguhnya aba-aba kematian itu sudah sering muncul, minimal indikasi kelumpuhannya. Utamanya, laporan berita, features, dan cerita-cerita di media — cetak, elektronik, dan digital secara multiplatform — telah didominasi oleh berita dan cerita yang didominasi kesimpulan, tidak membuka celah untuk pengembangan wacana mencerdaskan.

Situasi menjadi makin teruk akibat kecenderungan munculnya penghakiman sepihak dan stigma terhadap suatu peristiwa maupun terhadap subjek yang terlibat di dalamnya. Kita bisa lihat, antara lain, di acara talk show di televisi atau podcast. Ketika curiosity melemah, pertanyaan penggalian tidak sempat disampaikan akibat banjirnya pertanyaan yang mengharapkan tepuk tangan, maka media dipenuhi deretan pernyataan—dari kedua pihak: wartawan dan narasumber. Selain itu, tidak bisa kita pungkiri, para pembuat berita, feature, dan editor juga bisa tersandera oleh cognitive bias masing-masing. Bisa akibat kepentingan organisasi tempat mereka bekerja, bisa pula karena para pekerja media yang mengaku sebagai wartawan profesional tersebut telah kehilangan curiosity dan tidak mampu check and re-check. Ini terlihat pada pemberitaan media cetak, digital, dan maupun cerita feature di televisi. Contohnya, Trans TV menjelang akhir 2025 ditegur oleh KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) ketika menceritakan salah satu pesantren – kasus ini sempat dibawa ke DPR dan program tersebut akhirnya ditutup.

Curiosity, pertanyaan mendalam tanpa menghakimi, cek dan cek ulang, keseimbangan pikiran, kemampuan menghindari cognitive bias, merupakan modal dan alasan kewartawanan bisa tetap hidup. Ayo, SW60+, never sleeps, never dies.*
Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000