Esai

Baladewa, Penguasa, dan Algoritma

SW60Plus.com, 23 Mei 2026, 20:22 WIB
Kabul Budiono
Kabul Budiono
· 215x dilihat

Di era media sosial hari ini, seseorang dapat dengan mudah dibenci, atau bahkan dimaki. Ia cukup terlihat marah, emosional, atau berbicara kasar dan  meledak-ledak. Hanya dalam hitungan menit, ketika rekamannya masuk di media sosial, algoritma  bekerja otomatis tanpa perasaan. Potongan video pendek, cuplikan emosi, menyebar jauh lebih cepat daripada penjelasan yang mestinya disampaikan.

Dunia digital tidak memberi banyak ruang bagi konteks. Ia lebih menyukai sensasi. Yang emosional lebih mudah viral daripada yang bijaksana. Di media sosial, kemarahan sering lebih bernilai dibanding kebijaksanaan. Algoritma bekerja bukan berdasarkan benar atau salah, tetapi berdasarkan seberapa lama manusia mau berhenti dan menonton.

Mengenai hal ini, menarik mencatat pendapat Tristan Harris, pendiri Center for Humane Technology. Ia  menjelaskan bahwa media sosial dirancang untuk “merebut perhatian manusia”.
Dia bilang  “If you're not paying for the product, you are the product.” Menurut Harris  algoritma akan mengangkat konten yang  memancing klik, komentar, kemarahan, rasa takut, atau keterkejutan.

Situasi ini mengingatkan saya pada tokoh wayang bernama Baladewa. Bagi yang tidak akrab dengan wayang, perlu diketahui bahwa Baladewa adalah Raja kerajaan yang bernama Mandura. Ia adalah  sosok Raja yang keras, tegas, jujur, dan bicara apa adanya. Jika tidak setuju, ia  mengatakannya tanpa basa-basi. Ia bukan tokoh licik seperti Sengkuni yang penuh tipu daya. Baladewa justru dikenal lurus dan setia pada nuraninya.

Masalahnya, ia mudah marah. Jika kemarahannya muncul maka suaranya lantang emosional dan  meledak. Karenanya   maksud baiknya sering tidak diketahui lawan bicaranya, atau bahkan juga rakyat Mandura.

Dalam kisah wayang, Baladewa memiliki pendamping setia yang  bernama Pragota. Sebagai orang yang sangat dekat, Pragota sebenarnya tahu kelemahan Rajanya. Ia tahu kapan Baladewa sedang tersulut emosi dan kapan seharusnya ia diingatkan. Namun Pragota lebih sering diam. Ia memilih aman dari pada ikut kena semprot. Bagi Pragota, yang penting tuannya tidak marah kepadanya. Dan tidak meneriakkan ungkapan " Hiduuup Sengkuniiii " yang dapat menggetarkan negara Mandura dan  Indraprasta.

Rasanya Baladewa yang marah bisa menjadi metafora tentang manusia yang “dimanfaatkan” algoritma karena kemarahan, emosi, dan bicara tanpa kendali dapat  menghasilkan interaksi tinggi berupa  komentar, share, dan viralitas

Di media sosial, kemarahan seseorang sering tidak diredam, tetapi justru dipelihara. Orang marah direkam, langsung diunggah, dibagikan. Segera muncul komentar komentar baik pro maupun kontra, memaklumi atau menghakimi, berusaha meluruskan atau  memperburuk keadaan. Jika yang marah seorang pejabat atau tokoh publik, maka kemarahannya bisa menutupi seluruh niat baik dan kerja kerasnya serta prestasi para stafnya.

Akhirnya publik tidak lagi membahas gagasan atau kebijakannya, melainkan hanya emosinya. Muncul catatan .....
“Baladewa ngamuk lagi.”
“Tidak bisa mengendalikan diri.”
“Watak aslinya keluar.” dan yang semacamnya.

Baladewa sesungguhnya memiliki sosok yang memahami dirinya, yaitu adiknya, Kresna. Kresna tahu bahwa di balik suara keras kakaknya ada hati yang lurus. Ia tahu Baladewa sering kalah oleh emosinya sendiri. Karena itu, nasihat Kresna mampu meredakan kemarahan Baladewa.

Namun dalam banyak kisah, Kresna justru tidak selalu berada di dekat kakaknya.

Dan mungkin, di situlah tragedi manusia modern jaman ini yang hidup di tengah keramaian digital, tetapi kekurangan orang-orang bijak yang berani menegur dengan tulus dan kebijaksanaan. 

Jangan-jangan, banyak orang yang lebih  memilih menjadi Pragota memperbanyak  tertawa,  atau diam, menjaga posisi aman, dan  membiarkan emosi terus menyala.

Padahal seorang pemimpin, sebagaimana Baladewa,  sehebat apa pun dirinya, tetap membutuhkan “Kresna” di dekatnya. Seseorang yang berani berkata jujur dengan kearifan dan menciptakan suasana yang menyejukkan hati. Yang memberitahu kapan dan bagaimana menyampaikan pernyataan.

Sebagaimana  pendapat Clifford Geert, wayang memang fiksi tetapi ia adalah bayangan mengenai keadaan dan kehidupan. Mahabharata dan lakon lakon wayang dengan berbagai pelakunya,  memantulkan wajah manusia dari zaman ke zaman termasuk pada jaman kita hari hari ini.

Bayangan  Baladewa, Pragota, dan Kresna sedang hadir di sekitar kita, atau ada dalam diri kita yang menggunakan algoritma atau menjadi sasarannya. Untuk yang seperti Baladewa harus dapat mengendalikan emosi dan menatap lidahnya. Bagi para Pragota jangan hanya tertawa dan membicarakan Baladewa, di belakangnya.  Dan yang ibarat Kresna sering seringlah bertemu Baladewa.
Thok..thok..thok, mengkono kang wus cinarito... (MKB)

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000