Esai

Bekas

SW60Plus.com, 13 Agustus 2026, 08:07 WIB
Edhy Aruman
Edhy Aruman
· 4x dilihat

KETIKA saya memberi judul buku saya Catatan Bekas Wartawan, seorang teman protes. “Kok bekas? Wartawan itu profesi, bukan kaleng susu.”
Saya tertawa. Tetapi saya tetap memilih kata itu karena mantan adalah status, bekas adalah jejak
Dan bukankah kepemimpinan juga begitu? Jabatan bisa hilang dalam satu tanda tangan, tetapi bekas seorang pemimpin bisa tinggal bertahun-tahun dalam diri orang yang pernah dipimpinnya.
Bob Chapman memahami itu dengan cara yang tidak biasa. Chairman dan CEO Barry-Wehmiller ini dikenal dengan filosofi Truly Human Leadership: manusia bukan headcount yang harus dikendalikan, melainkan manusia yang kehidupannya ikut dipengaruhi oleh cara kita memimpin.
Dalam sebuah forum para CEO, Chapman pernah bertemu seorang CEO yang dengan bangga bercerita telah menyumbangkan sekitar $120 juta untuk program beasiswa. Bukan sekadar memberi uang, ia juga membimbing empat atau lima mahasiswa setiap tahun dengan sangat personal.
Chapman memujinya, lalu bertanya, “Kalau Anda begitu peduli kepada empat atau lima mahasiswa itu, bagaimana dengan seratus ribu orang yang datang bekerja untuk Anda setiap hari?”
Ruangan mendadak lebih sunyi daripada grup WhatsApp kantor setelah bos bertanya, “Ada yang mau kasih feedback jujur?” Sebab pertanyaan Chapman membongkar sesuatu yang sering tidak ingin kita akui: kita bisa sangat peduli kepada manusia di luar perusahaan, tetapi lupa memanusiakan orang yang setiap hari bekerja untuk kita.
Chapman sendiri tidak sejak awal menjadi pemimpin humanis. Ia pernah sangat berorientasi pada angka, kontrol, arus kas, dan kinerja sampai suatu pengalaman membuatnya menyadari sesuatu yang sederhana: setiap karyawan adalah anak berharga milik seseorang.
Ada orang yang pernah menggendong mereka ketika kecil, cemas ketika mereka sakit, dan menunggu mereka pulang. Tetapi begitu memasuki kantor, ajaibnya manusia bisa berubah menjadi nomor pegawai, KPI, headcount, dan kotak-kotak kecil dalam organization chart.
Kesadaran itu membuat Chapman mengganti konsep span of control menjadi span of care. Pertanyaannya bukan lagi, “Berapa banyak orang yang saya kendalikan?” tetapi, “Berapa banyak manusia yang dipercayakan kepada kepedulian saya?”
Gagasan itu terdengar indah ketika bisnis sedang bagus. Ujian sebenarnya datang ketika peduli kepada manusia mulai membutuhkan pengorbanan.
Saat krisis finansial 2008 menghantam Barry-Wehmiller, perusahaan memilih pendekatan shared sacrifice ketimbang membiarkan sebagian orang kehilangan seluruh pekerjaannya. Logikanya sederhana: lebih baik banyak orang menanggung sedikit rasa sakit daripada sebagian orang kehilangan hampir segalanya.
Di situlah paradoks kepemimpinan muncul. Nilai perusahaan bukan kalimat yang dicetak besar di dinding lobi, melainkan prinsip yang masih dipertahankan ketika mempertahankannya mulai terasa mahal.
Jika Chapman menemukan kemanusiaan dengan berhenti melihat orang sebagai angka, Claire Babineaux-Fontenot menemukannya dari arah sebaliknya. Ia hampir kehilangan dirinya sendiri karena terlalu sibuk menjadi pemimpin seperti yang menurutnya diharapkan orang lain.
Claire adalah pengacara dan eksekutif yang kariernya melesat hingga menjadi Chief Tax Officer Walmart. Namun justru ketika jabatannya naik, kepercayaan dirinya jatuh dan ia mengalami impostor syndrome.
Karena takut gagal, Claire meniru pendahulunya, seorang pria kulit putih paruh baya dari Alabama. Masalahnya cukup mendasar: Claire ternyata tidak terlalu berbakat menjadi pria kulit putih paruh baya dari Alabama.
Semakin keras ia memainkan peran itu, semakin buruk kepemimpinannya. Sampai akhirnya Claire menemui atasannya dan mengatakan, “Jika saya harus gagal, saya ingin gagal sebagai diri saya sendiri, bukan sebagai imitasi orang lain.”
Ia kemudian berhenti berpura-pura mengetahui semuanya. Claire merekrut orang-orang yang memiliki kemampuan yang tidak ia miliki dan menemukan paradoks lain: mengakui bahwa kita tidak tahu ternyata tidak selalu mengurangi wibawa; kadang justru membuat orang mulai mempercayai kita.
Cerita Chapman dan Claire sebenarnya membawa kita pada sesuatu yang juga berulang kali muncul dalam studi kepemimpinan: manusia membutuhkan kepercayaan, autentisitas, tujuan, dan perasaan bahwa suaranya didengar. Sebab manusia tidak meninggalkan perasaannya di loker kantor lalu mengambilnya lagi besok pagi.
Chapman melihatnya melalui Barry-Wehmiller University. Setelah seorang karyawan mengikuti kelas mendengarkan, bukan hanya cara kerjanya yang berubah; hubungan karyawan itu dengan anak dan ayahnya ikut membaik.

Kalau Besok Jabatan Kita Hilang, Apa yang Masih Tersisa?

Implikasinya agak mengganggu. Cara kita memperlakukan seseorang pukul sembilan pagi bisa memengaruhi manusia seperti apa yang pulang kepada keluarganya pukul tujuh malam.
Artinya, pemimpin bisa meninggalkan bekas pada keluarga yang bahkan tidak pernah ditemuinya. Rasa dipercaya ikut pulang, tetapi rasa dipermalukan juga ikut pulang.
Claire kemudian menghadapi sesuatu yang membuat persoalan jabatan mendadak terasa kecil: kanker. Penyakit itu memaksanya memeriksa satu kata yang sangat disukai manusia sibuk: nanti.
Nanti saya melakukan sesuatu yang bermakna, nanti saya mengabdi, nanti saya mengejar panggilan hidup—setelah kalender agak kosong. Sebuah kondisi yang tampaknya belum pernah ditemukan dalam sejarah umat manusia.
Setelah lima operasi dan kemoterapi hingga berada dalam remisi, Claire meninggalkan Walmart. Perjalanannya kemudian membawanya menjadi CEO Feeding America, organisasi yang mendedikasikan diri untuk menghadapi kelaparan dalam skala besar.
Bob Chapman menemukan makna dengan belajar melihat manusia di balik pekerjaan. Claire menemukannya dengan berhenti menjadi imitasi orang lain dan berhenti menunda hidup yang sebenarnya ingin ia jalani.
Mungkin kepemimpinan memang tidak serumit buku manajemen 500 halaman yang kita beli, stabilo tiga halaman pertama, lalu simpan rapi di rak. Lihat manusianya, dengarkan mereka, berani menjadi autentik, dan jangan meminta orang lain menanggung sesuatu yang kita sendiri tidak berani tanggung.
Sebab suatu hari jabatan kita akan diberikan kepada orang lain. Ruangan berganti penghuni, nama menghilang dari organization chart, dan kursi yang dahulu terasa seperti singgasana akan diduduki orang yang bahkan tidak tahu betapa pentingnya kita dulu.
Tetapi bekas bekerja dengan cara berbeda. Ia tinggal dalam keberanian seseorang, rasa percaya dirinya, luka yang dibawanya pulang, bahkan dalam cara ia kelak memperlakukan manusia lain.
Mantan mengatakan kita pernah menjadi apa. Bekas mengatakan apa yang tertinggal setelah kita pergi.
Jadi, ketika semua titel akhirnya hilang, mungkin tinggal satu pertanyaan:
Apakah mereka berkata, “Untung dulu saya pernah dipimpin dia”—atau justru, “Untung akhirnya dia pindah juga”?

Edhy Aruman
JAM 6 TENG—enam menit untuk membaca, seharian untuk merenung.

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000