Berikan Kritik tanpa Marah
Klik untuk lihat penuh
Kritik adalah vitamin. Silakan menyampaikan kritik. Ini kalimat yang sering disampaikan seorang pejabat untuk menjelaskan bahwa mereka terbuka terhadap kritik. Bahwa di balik itu mereka sangat marah, pun sudah umum. Ini era “kali yuga”, masa kegelapan. Semua hal bisa terbalik-balik. Istilah popnya: sen kiri belok kanan.
Tentang kritik tanpa marah ini, saya jadi ingat ada kitab lama yang menghimpun soal “etika menjadi manusia”. Nama kitab itu Sarasamuscaya dan diduga (karena belum dapat dipastikan secara akademis) ditulis abad ke 8. Nama penyusunnya Bhagawan Wararuci, diduga pula nama samaran, karena agak aneh memakai gelar kependetaan dengan sebutan Bhagawan. Kitab itu berbahasa Jawa Kuno yang masih dipakai untuk ritual para pendeta di Bali dengan sebutan Bahasa Kawi.
Kitab ini berisi 511 sloka, istilah lain dari ayat. Dimulai pada sloka ke 108 temanya berkaitan dengan bagaimana kita memberikan nasehat dan kepada siapa nasehat itu bisa kita berikan. Setelah saya amati dengan keterbatasan berbahasa Jawa Kuno, nasehat yang dimaksudkan itu tak jauh bedanya dengan kritik. Jadi, leluhur kita punya etika bagaimana kritik harus disampaikan.
Baiklah kita baca sloka 108: “Ring mangke tang krodha prihen temen kahrtanya, lwirnya ring dewata, ring sang prabhu, ring sang brahmana, ring rare kunang, ikang sedeng mundu, ring wwang atuhe kuneng, irikang telas lilu wwang alara kunang. I samangkana ikang krodha, prihen temen kahrtanya.”
Terjemahan bebasnya: “Maka dari itu, hendaknya manusia benar-benar berusaha dengan sekuat tenaganya untuk menghilangkan kemarahan dan nafsu angkaranya, terhadap para dewata, terhadap para raja, terhadap para brahmana, terhadap anak-anak, terhadap orang yang lanjut usia. Janganlah (terhadap mereka) menasehati dengan nafsu penuh kemarahan.”
Jadi ada lima “jenis manusia” yang tak bisa kita marahi tatkala memberikan nasehat. Dewata, raja, brahmana, anak-anak, orang lanjut usia. Yang dimaksudkan para dewata adalah orang yang telah mendahului kita yang sudah meninggal dunia. Petuah ini mengajarkan pada kita harus selalu mendoakan orang yang dipanggil Tuhan dengan mengenang hal-hal yang baik saja. Juga mendoakan segala kesalahannya diamputi Tuhan. Tak ada tempatnya kita memaki-maki orang yang meninggal dunia.
Yang kedua tidak boleh memarahi raja. Raja (sang prabhu) dalam kekinian adalah pemimpin dalam arti yang luas. Dari presiden sampai lurah. Kepada mereka itu seseorang tidak boleh dirasuki rasa marah dalam menyampaikan aspirasi dan kritiknya. Pergunakan kata-kata yang sopan.
Namun, ada kalanya raja tak berlaku adil atau bekerja mensejahterakan rakyatnya. Memuaskan semua orang dalam waktu yang bersamaan tentu tidak mungkin. Tidak bisa semua permintaan dan permohonan dari rakyatnya bisa dikerjakan oleh sang pemimpin. Pasti ada yang kedodoran. Dalam kaitan inilah rakyat boleh menasehati sang pemimpin asal disampaikan dengan cara santun. Di masa lalu, kesantunan itu masih tetap dijaga dengan tutur kata yang baik. Puncak kemarahan disampaikan dengan “aksi demonstrasi” tanpa kata-kata. Rakyat berbondong-bondong ke alun-alun, berjemur diri tanpa suara. Ini disebut aksi “pepe”. Dan raja harus peka mengunjungi aksi “pepe” ini. Jangan-jangan ini cikal bakal dari aksi demontrasi dengan merusak, karena raja tidak peka dan tak mau menemui rakyatnya.
Raja adalah simbul kerajaan, sama dengan masa kini, presiden itu adalah simbol negara. Kalau rakyat tidak menghormati rajanya sendiri siapa lagi yang menghormati beliau? Terhadap pemimpin yang sudah berkali-kali dikritik tetapi semua kritik diabaikan, aksi demo “pepe” bisa dilakukan berulang. Apalagi kalau pemimpin berujar dengan kata-kata jorok, misalnya menyebut “ndasmu”, rakyat boleh membalasnya dengan kata jorok pula. Benih-benih pemberontakan bisa muncul dari kata tak sopan ini. Maka berhati-hatilah berlisan wahai pemimpin.
Yang ketiga tak boleh memberi nasehat dengan nada marah kepada kaum brahmana. Kaum brahmana ini maksudnya orang suci. Ya, katakanlah di masa kini para ulama, pendeta, dan tokoh umat. Seorang brahmana memang tidak apa-apa dicaci. Seorang brahmana tak akan membalas amarah yang menimpanya. Kesucian seorang brahmana tak akan luntur jika dimaki. Sang pemakilah yang akan mendapat pahala buruk.
Seorang brahmana harus mampu memancarkan dan memberikan vibrasi kesucian kepada umatnya. Tapi sebaliknya, jika kaum brahmana sampai melakukan hal-hal yang memalukan, mereka harus dihukum. Misalnya, tersangkut masalah pidana, apalagi berbuat cabul sampai melakukan pemerkosaan. Hukuman di masa lalu itu disebut panten, yakni simbol kebrahmanaannya dicabut dengan memotong rambut yang bergelung di atas kepalanya. Rakyat pun diperbolehkan memaki seenaknya mantan brahmana itu, termasuk meludahi mukanya. Begitulah kitab Sarasamuscaya menulis.
Yang keempat jangan menasehati anak-anak dengan marah-marah. Seorang anak tak memiliki kemampuan untuk mencerna dan menganalisa kata-kata nasehat dari orang tua dengan nada kemarahan. Bahkan bisa terjadi kata-kata marah akan menjadi hal negatif yang terus dipendam oleh sang anak dalam perkembangan kehidupannya. Bahkan dalam mengajari sopan santun kehidupan pakai bahasa simbul. Di masa lalu, misalnya, anak-anak dilarang menduduki bantal, karena bantal hanya untuk alas kepala saat tidur. Kalimat yang dipakai: “tak boleh menduduki bantal, nanti bisulan”. Kemajuan budaya tentu berubah, anak-anak masa kini pasti ketawa apa hubungan bantal dngan bisul?
Yang kelima adalah jangan memarahi orang tua yang sudah uzur apalagi dalam keadaan sakit. Itu sudah keterlaluan. Selain energi orang lanjut usia itu sudah menurun, daya nalarnya pun lemah. Menghormati orang tua adalah hal yang seharusnya dilakukan, betapa pun orang tua itu cerewet dan menjengkelkan.
Ada hal yang tersembunyi dari tema tentang etika memberi nasehat atau kritik dalam kitab ini berkaitan mencari pemimpin atau sang prabhu. Janganlah mencari pemimpin yang masih belum cukup umur apalagi masih berprilaku ke kanak-kanakan atau sang rare. Begitu pula para pemimpin jangan terlalu usia tua, sang atuhe. Kalau belum cukup umur akan jadi beban karena mungkin saja planga-plongo – tak tahu apa yang harus dikerjakannya. Jika terlalu tua cerewet, ngomong ngelantur dan tidak konsisten. Baik yang belum cukup umur mau pun yang sudah lewat umur, akan membuat orang jengkel.
Semoga etika di masa lalu ini bisa kita petik sari-sarinya yang baik. Rahayu. (Penulis di kartu wartawan tertulis Putu Setia)
Tentang kritik tanpa marah ini, saya jadi ingat ada kitab lama yang menghimpun soal “etika menjadi manusia”. Nama kitab itu Sarasamuscaya dan diduga (karena belum dapat dipastikan secara akademis) ditulis abad ke 8. Nama penyusunnya Bhagawan Wararuci, diduga pula nama samaran, karena agak aneh memakai gelar kependetaan dengan sebutan Bhagawan. Kitab itu berbahasa Jawa Kuno yang masih dipakai untuk ritual para pendeta di Bali dengan sebutan Bahasa Kawi.
Kitab ini berisi 511 sloka, istilah lain dari ayat. Dimulai pada sloka ke 108 temanya berkaitan dengan bagaimana kita memberikan nasehat dan kepada siapa nasehat itu bisa kita berikan. Setelah saya amati dengan keterbatasan berbahasa Jawa Kuno, nasehat yang dimaksudkan itu tak jauh bedanya dengan kritik. Jadi, leluhur kita punya etika bagaimana kritik harus disampaikan.
Baiklah kita baca sloka 108: “Ring mangke tang krodha prihen temen kahrtanya, lwirnya ring dewata, ring sang prabhu, ring sang brahmana, ring rare kunang, ikang sedeng mundu, ring wwang atuhe kuneng, irikang telas lilu wwang alara kunang. I samangkana ikang krodha, prihen temen kahrtanya.”
Terjemahan bebasnya: “Maka dari itu, hendaknya manusia benar-benar berusaha dengan sekuat tenaganya untuk menghilangkan kemarahan dan nafsu angkaranya, terhadap para dewata, terhadap para raja, terhadap para brahmana, terhadap anak-anak, terhadap orang yang lanjut usia. Janganlah (terhadap mereka) menasehati dengan nafsu penuh kemarahan.”
Jadi ada lima “jenis manusia” yang tak bisa kita marahi tatkala memberikan nasehat. Dewata, raja, brahmana, anak-anak, orang lanjut usia. Yang dimaksudkan para dewata adalah orang yang telah mendahului kita yang sudah meninggal dunia. Petuah ini mengajarkan pada kita harus selalu mendoakan orang yang dipanggil Tuhan dengan mengenang hal-hal yang baik saja. Juga mendoakan segala kesalahannya diamputi Tuhan. Tak ada tempatnya kita memaki-maki orang yang meninggal dunia.
Yang kedua tidak boleh memarahi raja. Raja (sang prabhu) dalam kekinian adalah pemimpin dalam arti yang luas. Dari presiden sampai lurah. Kepada mereka itu seseorang tidak boleh dirasuki rasa marah dalam menyampaikan aspirasi dan kritiknya. Pergunakan kata-kata yang sopan.
Namun, ada kalanya raja tak berlaku adil atau bekerja mensejahterakan rakyatnya. Memuaskan semua orang dalam waktu yang bersamaan tentu tidak mungkin. Tidak bisa semua permintaan dan permohonan dari rakyatnya bisa dikerjakan oleh sang pemimpin. Pasti ada yang kedodoran. Dalam kaitan inilah rakyat boleh menasehati sang pemimpin asal disampaikan dengan cara santun. Di masa lalu, kesantunan itu masih tetap dijaga dengan tutur kata yang baik. Puncak kemarahan disampaikan dengan “aksi demonstrasi” tanpa kata-kata. Rakyat berbondong-bondong ke alun-alun, berjemur diri tanpa suara. Ini disebut aksi “pepe”. Dan raja harus peka mengunjungi aksi “pepe” ini. Jangan-jangan ini cikal bakal dari aksi demontrasi dengan merusak, karena raja tidak peka dan tak mau menemui rakyatnya.
Raja adalah simbul kerajaan, sama dengan masa kini, presiden itu adalah simbol negara. Kalau rakyat tidak menghormati rajanya sendiri siapa lagi yang menghormati beliau? Terhadap pemimpin yang sudah berkali-kali dikritik tetapi semua kritik diabaikan, aksi demo “pepe” bisa dilakukan berulang. Apalagi kalau pemimpin berujar dengan kata-kata jorok, misalnya menyebut “ndasmu”, rakyat boleh membalasnya dengan kata jorok pula. Benih-benih pemberontakan bisa muncul dari kata tak sopan ini. Maka berhati-hatilah berlisan wahai pemimpin.
Yang ketiga tak boleh memberi nasehat dengan nada marah kepada kaum brahmana. Kaum brahmana ini maksudnya orang suci. Ya, katakanlah di masa kini para ulama, pendeta, dan tokoh umat. Seorang brahmana memang tidak apa-apa dicaci. Seorang brahmana tak akan membalas amarah yang menimpanya. Kesucian seorang brahmana tak akan luntur jika dimaki. Sang pemakilah yang akan mendapat pahala buruk.
Seorang brahmana harus mampu memancarkan dan memberikan vibrasi kesucian kepada umatnya. Tapi sebaliknya, jika kaum brahmana sampai melakukan hal-hal yang memalukan, mereka harus dihukum. Misalnya, tersangkut masalah pidana, apalagi berbuat cabul sampai melakukan pemerkosaan. Hukuman di masa lalu itu disebut panten, yakni simbol kebrahmanaannya dicabut dengan memotong rambut yang bergelung di atas kepalanya. Rakyat pun diperbolehkan memaki seenaknya mantan brahmana itu, termasuk meludahi mukanya. Begitulah kitab Sarasamuscaya menulis.
Yang keempat jangan menasehati anak-anak dengan marah-marah. Seorang anak tak memiliki kemampuan untuk mencerna dan menganalisa kata-kata nasehat dari orang tua dengan nada kemarahan. Bahkan bisa terjadi kata-kata marah akan menjadi hal negatif yang terus dipendam oleh sang anak dalam perkembangan kehidupannya. Bahkan dalam mengajari sopan santun kehidupan pakai bahasa simbul. Di masa lalu, misalnya, anak-anak dilarang menduduki bantal, karena bantal hanya untuk alas kepala saat tidur. Kalimat yang dipakai: “tak boleh menduduki bantal, nanti bisulan”. Kemajuan budaya tentu berubah, anak-anak masa kini pasti ketawa apa hubungan bantal dngan bisul?
Yang kelima adalah jangan memarahi orang tua yang sudah uzur apalagi dalam keadaan sakit. Itu sudah keterlaluan. Selain energi orang lanjut usia itu sudah menurun, daya nalarnya pun lemah. Menghormati orang tua adalah hal yang seharusnya dilakukan, betapa pun orang tua itu cerewet dan menjengkelkan.
Ada hal yang tersembunyi dari tema tentang etika memberi nasehat atau kritik dalam kitab ini berkaitan mencari pemimpin atau sang prabhu. Janganlah mencari pemimpin yang masih belum cukup umur apalagi masih berprilaku ke kanak-kanakan atau sang rare. Begitu pula para pemimpin jangan terlalu usia tua, sang atuhe. Kalau belum cukup umur akan jadi beban karena mungkin saja planga-plongo – tak tahu apa yang harus dikerjakannya. Jika terlalu tua cerewet, ngomong ngelantur dan tidak konsisten. Baik yang belum cukup umur mau pun yang sudah lewat umur, akan membuat orang jengkel.
Semoga etika di masa lalu ini bisa kita petik sari-sarinya yang baik. Rahayu. (Penulis di kartu wartawan tertulis Putu Setia)
←
Sebelumnya
Bukan Dapur Asal Ngebul
Berikutnya
“Waton Sulaya”, Dari Durmogati dan Sengkuni hingga Pe...
→
Matur suksma Ratu Ida🙏🙏🙏