Bharatayudha dan Hadirnya Aji Candra Birawa di Era Algoritma
Dalam dunia pewayangan, Candra Birawa adalah ilmu mengerikan milik Prabu Salya pada perang Bharatayudha. Ketika dihantam, ia tidak mati. Ketika kepalanya diluluhlantakkan oleh Bima, darahnya justru berkembang biak. Satu menjelma dua. Dua berkembang menjadi puluhan. Puluhan berubah menjadi ratusan. Bima yang sangat perkasa, tak berdaya bahkan merasa ngeri menghadapi Candra Birawa. Salya memang ada pada epos Mahabharata yang ditulis Vyasa atau Maharshi Krishna Dwipayana Vyasa dari India.Namun perihal Candra Birawa adalah unsur yang berkembang dalam tradisi pewayangan Nusantara, terutama dalam dunia Wayang Kulit Jawa.
Dalam versi wayang Jawa, Aji Candra Birawa dikenal sebagai ilmu kesaktian milik Prabu Salya yang mampu menggandakan pasukan, menciptakan ilusi ribuan tentara raksasa sehingga membingungkan lawan, dan membuat musuh sulit membedakan mana nyata dan mana bayangan. Dan hari hari ini, tanpa sadar, manusia modern hidup di tengah medan perang yang serupa dan hidup di tengah Candra Birawa informasi yang menyebar dan dipenetrasi melalui algoritma.
Satu berita dilempar ke media sosial. Ketika dilawan dengan kontra informasi, dalam hitungan menit laksana Candra Birawa, ia menjelma menjadi potongan video, status WhatsApp, utas X, meme TikTok, komentar YouTube, hingga judul-judul bombastis portal berita. Sebagian dipelintir. Sebagian dilebihkan. Sebagian lagi sengaja dimanipulasi untuk kepentingan politik. Algoritma pun membagi dengan segera, kepada siapa orang orang dengan kecenderungan tertentu. Sebagai contoh adalah ketika pada peresmian Koperasi Merah Putih Presiden Prabowo Subianto mengangkat perihal menguatnya dolar, dan membuat ungkapan bahwa orang desa tidak menggunakan dolar. Maka potongam video itu terus menyebar, diolah sedemikian rupa dan menyebar tanpa henti di media sosial. Akhirnya publik tidak lagi bertanya: “Apakah ini benar?”, melainkan menjadi dapat menjadi bingung “Yang mana sebenarnya yang harus dipercaya?”
Di titik inilah kita ingat apa yang oleh para ilmuwan politik disebut sebagai post-truth politics yang menjadi sangat populer setelah kamus Oxford menetapkan post-truth sebagai Word of the Year 2016. Kamus itu menuliskan bahwa post truth adalah “Relating to or denoting circumstances in which objective facts are less influential in shaping public opinion than appeals to emotion and personal belief.”
Dalam era post-truth, kebenaran tidak lagi dihancurkan dengan bantahan. Ia dikaburkan oleh terlalu banyak suara. Jika kita buka lagi referensi menghenai post truth, kita dapati setidaknya dua pendapat yaitu dari pemikir politik Ralph Keyes.
Ralph Keyes ( 2024 ), dalam bukunya The Post-Truth Era: Dishonesty and Deception in Contemporary Life antara lain menyebut zaman modern sebagai The Post-Truth Era, yaitu sebuah masa ketika kebohongan tidak lagi dianggap sesuatu yang memalukan, melainkan bagian lumrah dari strategi komunikasi publik.
Sebagaimana Bima yang perkasa tidak berdaya secara mental menghadapi banjirnya Candra Birawa, dan tak lagi mampu membedakan mana Candra Birawa yang asli dan turuannya, maka di era teknologi AI yang semakin canggih berkat AI, publik dibanjiri informasi hingga kehilangan kemampuan membedakan fakta dan gema fakta. Orang tidak lagi membaca secara mendalam, melainkan bereaksi secara spontan.
Jika pada dunia pewayangan yang fiktif Candra Birawa digunakan untuk membingungkan lawan melalui bayangan yang terus berkembang biak, maka di era modern, AI dapat bekerja dengan memperbanyakdan menyerupakan informasi, mempercepat persebaran narasi, dan menciptakan banjir persepsi yang dapat membuat manusia kehilangan kemampuan membedakan fakta dan ilusi.
Namun banjir berita rekayasa dan manipulatif, hanya dapat dihadapi dengan kejernihan pikiran. Dengan kemampuan menapis mana informasi yang benar dan mana yang palsu. Dengan kesabaran melakukan tabayyun sebelum bereaksi.
Dalam cerita wayang hanya Puntadewa yang jujur dan bijaksana yang dapat menundukkan Candra Birawa. Tetapi persoalannya, menjadi ibarat Puntadewa di era digital bukan perkara mudah.
Manusia modern hidup dalam arus informasi yang bergerak terlalu cepat. Pun bagi media mainstream, lantaran mengejar click-bite kecepatan dianggap lebih penting daripada ketelitian. Viralitas lebih dihargai daripada kedalaman berpikir.
Akibatnya, manusia sering tidak lagi memiliki waktu untuk tabayyun menjernihkan pikiran sebagaimana Puntadewa. Tidak ada waktu untuk membaca utuh. Tidak ada waktu untuk memeriksa sumber. Tidak ada waktu untuk diam dan berpikir jernih. Semua dipaksa bergerak cepat dalam pusaran emosi digital.
Kurusetra modern di era teknologi informasi akhirnya memang tidak hanya menjadi perang persenjataan modern menggunakan perangkat keras, melainkan pertempuran dengan Candra Birawa informasi berteknologi AI yang merebak melalui kecanggihan algoritmik merasuki pikiran, membentuk persepsi yang mewujud pada keyakinan.
Mangkana ingkang sampun cinarita......
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar