Esai

Dilema Loyalitas dan Integritas kepada Penguasa dan Negara Dalam Kisah Ramayana

SW60Plus.com, 11 Mei 2026, 13:15 WIB
Kabul Budiono
Kabul Budiono
· 167x dilihat

Dalam kisah pewayangan Ramayana, ada satu adegan yang selalu memikat penonton  yaitu gugurnya Kumbakarna. Kumbakarna yang bertubuh raksasa itu bersimbah darah. Walaupun kedua tangan dan kakinya telah putus terkena panah Lesmana, tetapi ia tetap menggulingkan badan, menerjang dan menindih pasukan Rama, hingga akhir hayatnya. Dalam pertunjukan wayang kulit, dalang biasanya menghadirkan adegan itu dengan iringan gending yang bernada  heroik. Kumbakarna digambarkan  tampil sebagai simbol keberanian dan pengabdian pantang menyerah sampai akhir hayatnya. Kumbakarna tewas, ketika anak panah Lesmana memisahkan kepalanya dari tubuhnya. 
Namun Ramayana tidak hanya menyuguhkan kisah kepahlawanan. Di balik perang besar Alengka dengan Pancawati sejatinya  tersimpan diskurus moral yang  tetap relevan hingga kini. Wacana itu mengungkap  apa arti loyalitas, dan sampai di mana integritas bisa dipertahankan.
Wacana itu dapat mengemuka jika membincangkan dua tokoh bersaudara yaitu  Gunawan Wibisana dan Kumbakarna. Keduanya adik Rahwana, raja Alengka yang menculik Dewi Sinta, istri Rama. Meski lahir dari keluarga yang sama, keduanya mengambil jalan berbeda dalam menghadapi sikap Rahwana. 
Gunawan Wibisana adalah satu satunya putra Begawan Wisrawa yang berwajah bagus dan bukan raksasa. Ia menolak tindakan Rahwana sejak awal. Baginya, penculikan Dewi Sinta bukan sekadar kesalahan pribadi, melainkan tindakan yang akan membawa kehancuran bagi Alengka. Ketika nasihatnya diabaikan, Wibisana memilih meninggalkan kerajaan dan bergabung dengan Rama. Bahkan ia membantu Rama dengan membuka rahasia kelemahan Rahwana agar perang segera berakhir.
Karena itu, Wibisana kerap dipandang kontroversial. Dalam sudut pandang tertentu, ia dianggap mengkhianati keluarga dan negerinya sendiri. Namun bila dilihat lebih dalam, sikapnya dapat memperlihatkan integritas moral. Ia memilih berdiri di pihak yang dianggap benar, meskipun harus berhadapan dengan darah dagingnya sendiri.
Berbeda dengan Wibisana, Kumbakarna memilih tetap berada di pihak Alengka. Padahal ia juga tidak setuju dengan tindakan Rahwana. Dalam banyak versi wayang, Kumbakarna bahkan menegur kakaknya dengan keras. Tetapi ketika perang pecah dan Alengka terancam hancur, ia tetap turun ke medan laga. Kumbakarna menegaskan bahwa dirinya bukan membela kesalahan Rahwana, melainkan membela tanah air dan rakyat Alengka. 
Di sinilah letak perbedaan mendasar keduanya. Wibisana menempatkan kebenaran moral di atas kesetiaan kepada kekuasaan. Sementara Kumbakarna memandang pengabdian kepada negeri sebagai tanggung jawab yang tidak bisa ditinggalkan, sekalipun ia sadar penguasanya bersalah. Dua sikap itu menghadirkan perenungan penting tentang loyalitas dan integritas.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, loyalitas berarti kepatuhan atau kesetiaan, sedangkan integritas adalah kejujuran dan keutuhan moral. 
Dalam praktik kehidupan sosial dan politik, keduanya sering bertabrakan. Tidak sedikit orang yang memilih loyal kepada atasan atau kelompoknya meski mengetahui adanya kekeliruan. Sebaliknya, ada pula yang memilih bersikap kritis demi menjaga nurani dan prinsip.
Filsuf politik Hannah Arendt dari Jerman, yang menulis buku Eichmann in Jerusalem: A Report on the Banality of Evil mengatakan,  salah satu bahaya terbesar dalam kekuasaan adalah ketika manusia kehilangan kemampuan membedakan benar dan salah demi kepatuhan kepada otoritas. Kejahatan  sering lahir bukan dari kebencian, melainkan dari kepatuhan tanpa nurani.
Dalam kerangka itu, Wibisana dapat dipandang sebagai sosok yang menolak loyalitas buta. Ia memilih integritas moral, walaupun harus dicap pengkhianat. Sebaliknya, Kumbakarna menunjukkan bahwa loyalitas pun dapat memiliki dimensi etis. Ia tidak membenarkan kesalahan Rahwana, tetapi merasa wajib melindungi rakyat dan negerinya dari kehancuran perang. Sikap kedua kakak beradik ini dapat memperlihatkan bahwa loyalitas dan integritas sering berada dalam wilayah yang rumit. Ada saat ketika kritik menjadi bentuk kesetiaan tertinggi. Ada pula keadaan ketika tetap bertahan,  dianggap sebagai tanggung jawab moral.
Di tengah kehidupan politik modern, perdebatan semacam ini dapat terus muncul. Dukungan maupun kritik terhadap penguasa, sering kali dipertentangkan seolah hanya ada dua pilihan: setia atau melawan. Padahal, seperti ditunjukkan Wibisana dan Kumbakarna, persoalannya jauh lebih kompleks.
Kita dapat melihatnya dalam dinamika politik Indonesia hari ini, termasuk ketika Amien Rais melontarkan kritik kepada Presiden Prabowo Subianto terkait peran Menteri Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. Bagi sebagian pihak, apa yang dikatakan Amien Rais melalui rekaman videonya dianggap sebagai bentuk kepedulian dan pengingat agar kekuasaan tetap berjalan dalam koridor etika dan tata negara. Namun bagi pihak lain, pernyataan Amien dianggap merusak kredibilitas  pemerintahan yang dapat membahayakan  stabilitas pemerintahan dan kesinambungan negara. 
Epos  Ramayana telah lama menggambarkannya melalui Wibisana dan Kumbakarna. Ada yang memilih menyuarakan kritik dan mengambil keputusan kontroversial demi menjaga nilai dan prinsip, ada pula yang tetap berdiri dan dianggap bertahan di dalam barisan kekuasaan karena merasa berkewajiban menjaga negara agar tidak goyah. Atau mengambil keputusan atas nama mempertahankan kenyamanan dan kemuliaan. *

Bagikan:

Komentar 1

H
Hasto Kuncoro 12 Mei 2026, 00:42

Ada yg menarik dari tulisan pak Kabul ini yi.."kejahatan sering lahir bukan karena kebencian melainkan dari kepatuhan tanpa nurani."

Tulis Komentar

0 / 2000