Esai

Haji Dimulai dari Kalkulator

SW60Plus.com, 11 September 2026, 06:56 WIB
Ahmadie Thaha
Ahmadie Thaha
· 7x dilihat

BANYAK  orang mengira merencanakan haji baru dimulai ketika mendapat panggilan pelunasan dari pemerintah. Justru sebaliknya. Perencanaan haji yang sehat dimulai jauh sebelum itu: sejak seseorang memastikan dirinya memegang nomor porsi, lalu menghitung secara terukur berapa dana pelunasan yang harus disiapkan bertahap. 

Diskusi soal ini kembali menghangat seiring rencana penerapan skema angsuran pelunasan Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih) oleh Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH). BPKH mendorong calon jemaah mencicil dana pelunasan selama masa tunggu, sehingga tak perlu menyiapkan dana besar secara mendadak ketika saat berangkat tiba.

Aturan teknis skema ini memang masih menunggu regulasi. Namun BPKH memberi gambaran konkret melalui kisah Pak Bambang, seorang pengemudi andong di Yogyakarta. Sebagai pekerja harian, menyetor uang muka untuk mendapatkan nomor porsi adalah satu hal. Namun, menyediakan puluhan juta rupiah saat pelunasan tentu membuat kepala nyutnyut.

Punya nomor porsi haji bukan akhir urusan. Justru sejak itulah kalkulator harus bekerja: berapa yang harus ditabung setiap hari sampai berangkat?

Padahal, masa tunggu yang panjang sebetulnya merupakan modal terbesar calon jemaah. Waktu yang terukur dapat mengubah beban besar yang menakutkan menjadi setoran kecil yang rasional. Persoalannya tinggal satu: kita mau menghitungnya atau tidak.

Langkah pertama yang paling krusial tentu mengamankan nomor porsi terlebih dahulu. Setoran awal Bipih —yang pada 2026 ditetapkan sebesar Rp25 juta— adalah syarat wajib untuk masuk ke dalam sistem antrean nasional. 

Mengapa harus sesegera mungkin? Sebab antrean haji Indonesia membutuhkan waktu  bertahun-tahun. Semakin cepat nomor porsi didapat, semakin panjang jeda waktu yang bisa kita manfaatkan untuk mengumpulkan dana pelunasan. Bahkan, ini sebaiknya dilakukan dalam keluarga.

Bagi keluarga yang belum memiliki dana tunai Rp25 juta, memanfaatkan fasilitas pembiayaan setoran awal dapat menjadi opsi yang rasional. Tentu ini bukan berarti menganjurkan semua orang untuk berutang. Opsi pembiayaan hanya masuk akal jika nilai cicilannya terjangkau dan sama sekali tidak mengganggu kebutuhan pokok harian.

Rp30 juta terdengar besar. Tetapi jika dibagi 10 tahun, angkanya sekitar Rp250 ribu sebulan. Begitulah waktu mengubah “gunung” menjadi anak tangga.

Sebagai gambaran, pembiayaan Rp25 juta untuk setoran awal yang dicicil selama lima tahun membutuhkan alokasi pokok sekitar Rp417 ribu per bulan (belum termasuk margin bank). Jika diambil jangka waktu tiga tahun, nilainya sekitar Rp694 ribu per bulan. Angka pastinya tentu menyesuaikan dengan akad perbankan syariah yang digunakan.

Maka, pertanyaan utamanya bukan sekadar, “Bisa dapat nomor porsi sekarang atau tidak?” Melainkan: “Jika mengambil pembiayaan setoran awal, sanggupkah keuangan keluarga mengawal cicilannya sampai tuntas?”

Setelah nomor porsi berada di tangan, barulah masuk ke langkah kedua: menghitung target pelunasan. Hindari melihat biaya haji sebagai satu angka besar yang samar-samar. Calon jemaah perlu memetakan berapa perkiraan Bipih yang harus dibayar, dikurangi setoran awal Rp25 juta yang sudah masuk, serta memperhitungkan alokasi nilai manfaat yang ditetapkan pemerintah.

Karena besaran Bipih berbeda antar-embarkasi dan dinamis dari tahun ke tahun, gunakanlah angka target pribadi yang konservatif. Sebagai contoh, kita menetapkan target pribadi dana pelunasan sebesar Rp30 juta. Angka ini tentu bukan angka pasti Bipih di masa depan, melainkan titik acuan untuk dihitung.

Selanjutnya, bagilah angka itu dengan durasi masa tunggu. Jika estimasi masa tunggu masih 10 tahun, target Rp30 juta itu berarti Rp3 juta per tahun, atau sekitar Rp250 ribu per bulan, yang jika dibedah lagi hanya setara dengan Rp8.200 per hari. Tiba-tiba angka Rp30 juta berubah menjadi anak tangga yang sangat mungkin dipijak.

Jika masa tunggu mencapai 15 tahun, targetnya menyusut menjadi sekitar Rp2 juta per tahun (Rp167 ribu per bulan, atau Rp5.500 per hari). Bahkan jika masa tunggunya 20 tahun, alokasi yang perlu disisihkan hanya sekitar Rp1,5 juta per tahun, atau Rp4.100 per hari.

Inilah kalkulasi matematika sederhana yang kerap kalah oleh rasa takut. Kita cenderung melihat angka puluhan juta sebagai beban sekaligus. Padahal begitu diurai oleh waktu, ia terbagi menjadi kebiasaan-kebiasaan kecil.

Manfaat ini akan semakin besar jika haji dirancang sebagai rencana keuangan keluarga. Ayah memiliki targetnya, Ibu memiliki alokasinya, dan anak-anak secara bertahap diperkenalkan pada kesadaran finansial mereka sendiri.

Jangan menunggu anak dewasa baru diajak bicara soal haji. Mulailah sejak mereka sekolah dengan cara yang sesuai tingkatan usianya. Anak SD tidak perlu dibebani istilah teknis Bipih atau nilai manfaat, melainkan cukup diajari kebiasaan menyisihkan sebagian kecil uang saku sebagai “tabungan perjalanan ke Tanah Suci”.

Ketika menginjak jenjang SMP, anak mulai diajak membuat target bulanan sederhana. Saat memasuki SMA, pemahamannya ditingkatkan pada konsep tujuan keuangan: jumlah, horizon waktu, dan konsistensi setoran. Pendidikan finansial berbasis niat ibadah ini jauh lebih mendidik daripada sekadar doktrin "harus hemat".

Mengapa anak SD sudah bisa diajari merencanakan haji? Bukan karena mereka harus membayar haji sendiri, tetapi karena cita-cita juga perlu belajar dihitung.

Namun perlu ditegaskan: target anak tidak boleh menggeser kewajiban utama orang tua. Anak tidak dibebani untuk membiayai hajinya sendiri. Tabungan anak adalah media latihan disiplin dan ikhtiar spiritual, bukan alihan beban keuangan keluarga.

Jika keuangan keluarga saat ini belum sanggup menyisihkan ratusan ribu rupiah per bulan, jangan membatalkan niat. Sesuaikan targetnya, perpanjang jangka waktunya, atau atur porsi alokasi yang berbeda antar-anggota keluarga. Yang terpenting, setiap orang memegang angka yang jelas.

Pernyataan “kita harus menabung untuk haji” terasa mulia tetapi tidak operasional. Sebaliknya, kalimat “keluarga kita menyisihkan Rp250 ribu setiap bulan untuk pelunasan haji” adalah sebuah rencana tindakan.

Satu hal yang tidak boleh dilupakan: dana haji bukanlah tabungan darurat yang bebas ditarik untuk kebutuhan konsumtif harian. Dana yang sudah disetorkan tercatat dalam sistem perbankan dan aturan BPKH. Begitu diniatkan untuk haji, pisahkan pos ini secara tegas dari dana operasional keluarga.

Rencana penerapan cicilan pelunasan dari BPKH sejatinya mengarahkan masyarakat pada pola pikir ini: persiapan ibadah tidak boleh dilakukan secara mendadak. Dan pendidikan terbaik untuk keluarga adalah tidak hanya mengajarkan anak cara berdoa agar sampai ke Tanah Suci, tapi juga membekalinya keterampilan menghitung.

Haji memang ibadah fisik dan spiritual. Namun perjalanan menuju ke sana membutuhkan disiplin keuangan. Doa memberikan arah, niat memberi dorongan, dan kalkulator memastikan bahwa kita sedang benar-benar berusaha untuk mampu berangkat haji.

Cak AT - Ahmadie Thaha
Ma'had Tadabbur al-Qur'an, 11/9/2026

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000