Sukses Meneruskan Filosofi Tunas Pisang Sang Ayah
ANAK orang kaya suka bergaya hidup mewah. Pakaian necis, kendaraan mulus, dan pendidikan pun di sekolah terkemuka.
Tapi kebiasaan ini tidak terlihat pada diri Rachmat Gobel. Kendati ayahnya merupakan seorang pengusaha terkemuka di tanahair, pria gagah tersebut tampak tetap bersahaja. Sejak SMP ia sudah terbiasa mendapat tugas berat dari sang ayah. Seperti menyapu lantai yang relatif luas di pabrik milik mereka.
Jika pada hari libur anak-anak golongan elite berekreasi ke Bali, Singapura, Thailand, atau Hawaii, sebaliknya dengan Rachmat. Saat liburan ia justru diwajibkan mengikuti latihan kerja di pabrik selama sehari penuh. Ia bergabung bersama karyawan lainnya tanpa membedakan tingkat golongan, apalagi "kelas".
Padahal ayahnya bukan orang sembarangan. Siapa yang tak kenal dengan H. Thayeb Mohammad Gobel? Ia sudah tersohor sebagai pelopor industri elektronik Indonesia. Di bawah naungan Grup Gobel, memproduksi peralatan elektronik merek National/Panasonic. Dari prestasi tersebut Thayeb sampai mendapat penghargaan Satyalancana Pembangunan atas jasanya dalam mengembangkan industri elektronik di tanahair.
Didikan ayahnya yang terbilang keras ternyata tak membuat Rachmat menjadi anak yang minder atau tampak seperti kuper (kurang pergaulan). Terpaan sang ayah yang justru memacu dirinya untuk semakin berkembang dan lebih maju lagi.
Setamat dari SMAN 3, Jakarta, ia memilih kuliah bisnis di Chuo University, Jepang,. Perguruan tinggi ini kayaknya kurang begitu dikenal di tanahair. Setelah berhasil meraih titel Bachelor of Commerce Degree in Marketing & Trade pada 1987, Rachmat tidak langsung pulang kampung. Ia masih ikut magang di induk perusahaan mereka, Panasonic, di Jepang.
Sekembali ke tanah air Rachmat langsung terjun mengelola perusahaan besar ini. Estafet kepemimpinan Grup Gobel dijalankan Rachmat setelah ayahnya wafat pada 1984. Maklum, dari lima bersaudara anak pengusaha asal Gorontalo ini hanya ia seorang yang laki-laki sebagai generasi penerus.
Berkat ketekunannya Ia berhasil memajukan berbagai anak perusahaan dalam grup tersebut. Juga sukses mengembangkan sektor manufaktur, perdagangan, serta teknologi. Pengalamannya yang begitu panjang menjadikannya lebih faham secara mendalam mengenai tantangan dunia industri di Indonesia.
Rachmat juga sekaligus memimpin PT Gobel International dan meningkatkan kerja sama strategis dengan raksasa elektronik Jepang, Panasonic. Atas dedikasi yang cukup besar dalam menjembatani hubungan persahabatan bisnis Indonesia - Jepang, ia dianugerahi gelar Doktor Kehormatan (Honoris Causa) dari Takushoku University dan Chuo University, Jepang
Menariknya, kendati lama bermukim di Jepang, moto pohon pisang yang diterapkan sang ayah tetap dipertahankan. Pohon pisang adalah simbol kehidupan dan pengorbanan. Selalu memberikan manfaat, mulai dari daun, batang, hingga buahnya. Ia rela mati demi melahirkan tunas baru yang akan meneruskan manfaat tersebut.
Dengan falsafah ini Rachmat pun mengajak putranya, Mohammad Arif Gobel, ikut menangani Grup Gobel. Sama seperti dirinya, Arif juga disekolahkan ke Jepang. Namun, begitu lulus dia tak langsung menduduki posisi puncak. Arif justru mengawali karir sebagai sales yang menawarkan produk ke toko-toko. Bahkan, Arif juga pernah disusupkan ke pabrik tanpa ada yang tahu dia adalah anak bos.
Like father like son, kata pepatah. Kendati sudah terbilang sukses sebagai pengusaha, dia juga mencoba mengikuti jejak ayahnya terjun di bidang politik. Seperti diketahui, jauh hari sebelumnya sang ayah, Thayeb Mohammad Gobel, merupakan dedengkot di Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Ketika itu hanya tiga partai: Golkar, PPP, dan PDI.
Tak mau kalah, Rachmat pun kemudian berhasil menduduki kursi DPR RI. Bukan meneruskan partai yang dirintis sang ayah, tapi dari partai Nasional Demokrat (Nasdem).
Sudah terbiasa bergaul dengan orang Jepang, menyebabkan Rachmat menjadi salah seorang yang paling disiplin di DPR. Setengah jam sebelum rapat dia sudah menunggu di ruang sidang. Ia penah berseloroh kepada sahabatnya Enggartiasto Lukita, mantan Menteri Perdagangan, dengan mengatakan dirinya "terlalu baik" untuk menjadi politisi. Ini mengingat latar belakangnya yang murni dari dunia bisnis yang santun dan akomodatif.
Selain di bidang politik, ia juga sempat berkecimpung di pemerintahan: Anggota Komite Inovasi Nasional (2010–2014). Menteri Perdagangan Republik Indonesia dalam Kabinet Kerja era Presiden Joko Widodo (2014–2015). Utusan Khusus Presiden untuk Jepang (2016).
Meya-meya, Biu-biu
Menariknya, meskipun boleh dikatakan sudah bergelimang dengan uang, Rachmat gigih menghindari politik uang. Saat kampanye menjelang Pemilu dan masyarakat ramai-ramai mengumandangkan kata "Meya-meya atau "Biu-biu, dengan gaya santai namun tegas ia menolaknya. Ia mengatakan jika warga mencari "meya-meya" atau "biu-biu" (Maksudnya uang seratus ribu atau limapuluh ribu), sebaiknya jangan memilih dirinya. Sebab ia datang untuk membangun ekonomi daerah. Bukan membeli suara.
Rasa cintanya memang sangat mendalam kepada tanahair, terutama ke kampung halamannya di Gorontalo. Rachmat yang ketika berpapasan dengan orang langsung mengucapkan salam, boleh dikatakan sukses menggagas pembudidayaan tanaman kakao lokal hingga berhasil menembus pasar cokelat di Prancis dan Jepang dengan nama merek Otanaha. Ia juga mempopulerkan kopi organik Pinogu yang tumbuh di belantara taman nasional.
.
Seorang teman dekatnya bercerita di media sosial, saat menjelang acara Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII yang dipusatkan di Gorontalo 20 - 26 Juni 2026 lalu, Rachmat termasuk orang yang paling sibuk. Padahal dia tidak ikut di kepanitiaan. Ia cuma ingin daerahnya benar-benar sudah siap dalam helat besar ini, sehingga jangan sampai dipermalukan para peserta yang datang dari segala penjuru.
Boleh jadi hal ini yang menyebabkan kondisi tubuhnya menjadi agak menurun. Padahal selama ini diketahui di tubuhnya tidak ada penyakit serius. Nyaris tidak ada keluhan sama sekali bagi tokoh yang biasanya sampai di rumah pukul 10 malam. Namun Jumat pagi menjelang subuh pada 10 Juli 2026 terbetik kabar: Rachmat telah pergi meninggalkan dunia ini dalam usia 63 tahun. Tanpa ada kata-kata perpisahan, atau pesan kepada penerus usaha yang dirintis ayahnya. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. (*)
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar