Esai

Hanoman dalam Diri Kita: Mengendalikan Dasamuka di Era Algoritma

SW60Plus.com, 08 Juni 2026, 08:32 WIB
Kabul Budiono
Kabul Budiono
· 207x dilihat

SABTU 6 Juni 2026 malam hingga Minggu dinihari, saya  menyaksikan pementasan wayang kulit di salah satu pedukuhan di kawasan Wonogiri, Jawa Tengah. Dalam suasana malam yang akrab saat penduduk hadir menonton sambil duduk lesehan, dalang milenial Unindra, Herjuno Pramariza Fadlansyah membawakan lakon Sang Hanoman, yang menghidupkan kembali kisah Ramayana karya Pujangga India Walmiki, yang sudah diadaptasi menjadi wayang kulit versi Jawa yang mengandung kearifan lokal (budaya Nusantara. Pramariza memulai pementasannya dengan kilas balik ketika Hanoman diutus  Prabu Rama menjadi duta guna mengetahui keadaan Sinta yang ditawan Rahmana di taman indah kerajaan Alengka. Sebelumnya Rahwana telah menculik wanita idamannya itu saay berada di hutan dan terpisah dari Rama.

Bagi sebagian orang, wayang mungkin hanya tontonan. Namun bagi yang mau merenung, wayang adalah tuntunan. Di balik kisah para ksatria, raja, resi, dan raksasa, tersimpan pelajaran tentang manusia dan kehidupannya. Para Wali dan Pujangga telah menjadikannya sebagai tuntunan bagi perbaikan kepribadian dan pendidikan karakter.

Malam itu, pikiran saya tertuju pada dua tokoh yang seolah tidak pernah kehilangan relevansinya yaitu  Hanoman dan Dasamuka. Ketika pagi hari hingga siang diatas kereta api kembali ke Jakarta, mulailah saya menulis konsep esai ini.

Dalam pemahaman umum,  Rahwana adalah Dasamuka,  raja Alengka yang dikalahkan Rama dalam perang besar Ramayana. Namun dalam konteks tuntunan  pewayangan Jawa, kisahnya tidak berhenti pada kematian sang raja raksasa. Kreativitas dan permenungan Wali dan Pujangga Jawa serta  para dalang  menuturkan bahwa Dasamuka sesungguhnya tidak pernah mati. Pun Hanoman juga tetap dihidupkan.

Jasadnya memang  ditimbun  gunung  yang dicabut Hanoman. Makna simboliknya adalah bahwa Angkara murka yang mewujud Dasamuka ketika Rahwana marah, tidak bisa dimusnahkan, melainkan dikubur agar tidak mengganggu kehidupan manusia. Dasamukanya Rahwana dalam wujud kesombongan, keserakahan, keangkuhan, keinginan menguasai orang lain dan nafsu untuk menang sendiri,semuanya tetap ada dan sewaktu-waktu dapat bangkit kembali. Karena sesungguhnya Dasamuka bukan berada di luar diri manusia.

Dasamuka berada di dalam diri manusia.  Keadaan itu dapat dipahami sebagai nafsu amarah (an-nafs al-ammarah bis-su') yaitu dorongan jiwa yang mengajak manusia kepada keburukan. Nafsu inilah yang mendorong seseorang untuk melampaui batas, memperturutkan ego, mengutamakan kepentingan diri sendiri, dan mengabaikan suara hati. Nafsu itu mewujud pada karakter Adigang, Adigung, dan Adiguna.

Ketika seseorang merasa dirinya paling benar, Dasamuka dalam diri seseorang sedang bangkit dan merekayasa jiwa manusia. Ketika seseorang marah tanpa kendali, Dasamuka sedang bekerja. Ketika seseorang haus pujian dan tidak mau menerima kritik, Dasamuka sedang bekerja karena seseorang merasa adiguna, yaitu paling berguna. Karenanya di saat saat  seseorang menggunakan kekuasaan untuk kepentingan dirinya sendiri itu pertanda  Dasamuka sedang bekerja.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana cara mengendalikan Dasamuka dalam diri manusia?
 Di sinilah Hanoman ksatria berwujud wanara atau monyet berbulu putih hadir. Hanoman bukan  hanya panglima perang yang sakti. Ia adalah lambang kejernihan hati, kesetiaan kepada kebenaran, keberanian moral, dan kemurnian niat. Warna putih yang melekat pada dirinya tentu diciptakan  bukanlah kebetulan. Putih melambangkan kebersihan nurani yang tidak mudah dikotori oleh kepentingan pribadi. Ingat bagaimana bendera kebangsaan kita berwarna merah dan putih.

Jika Dasamuka melambangkan nafsu amarah, maka Hanoman dapat dipahami sebagai simbol dari nafs al-muthmainnah, yaitu jiwa yang tenang, terkendali, dan selalu berusaha mendekat kepada nilai-nilai kebaikan.

Karena itu pertarungan Hanoman dan Dasamuka sesungguhnya berlangsung setiap hari dalam diri manusia. Ketika kita menahan amarah, Hanoman simbol jiwa yang tenang sedang menang.
Ketika kita memaafkan meskipun mampu membalas, Hanoman pun sedang menang. Ketika kita memilih jujur meskipun kebohongan tampak lebih menguntungkan, Hanoman sedang efektif  bekerja. Ketika kita menerima kritik dengan lapang dada, Hanoman sedang menang. Dada kita menjadi lapang. Jika sebaliknya, ketika ego mengambil alih akal sehat, maka Dasamuka mulai bangkit dari timbunan bukit yang selama ini menahannya.

Tuntunan atau kebijakan lokal ini  rasanya menjadi sangat penting bagi siapa saja, terlebih bagi mereka yang memegang amanah kepemimpinan. Sebab kekuasaan sering kali menjadi ujian terbesar bagi manusia dan membangkitkan Dasamuka. Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar pula godaan untuk merasa paling besar dan  benar. Semakin besar kewenangannya, semakin kuat pula bisikan menjadi adigung yaitu untuk mengendalikan orang lain demi kepentingan pribadi.

Dalam berbagai lakon carangan pedalangan  nafsu Dasamuka sering diceritakan menjelma dalam bentuk lain. Ia tidak lagi tampil sebagai raksasa yang menakutkan. Ia hadir sebagai seorang resi yang tampak bijaksana, lalu membisikkan nasihat-nasihat yang sesungguhnya mendorong Duryudana untuk menghancurkan Pandawa.

Sesungguhnya pesan tuntunan yang tersirat adalah  bahwa keburukan tidak selalu datang dengan wajah buruk. Kadang-kadang ia datang dengan wajah yang meyakinkan.
Kadang-kadang ia hadir sebagai pembenaran. Kadang-kadang ia menyamar sebagai nasihat.

Ia datang bermuka muka datang menyusup atau disusupkan, boleh jadi dalam bentuk staf ahli atau staf khusus dalam birokrasi pemerintahan atau lembaga negara lainnya. Dan pada zaman sekarang, ia dapat masuk melalui ruang yang jauh lebih luas yaitu media sosial. Bayangkan di era algoritma, setiap orang dapat membawa sebuah panggung di dalam genggamannya.

Media sosial memberi manfaat luar biasa. Namun pada saat yang sama, ia juga dapat menjadi saluran Dasamuka yang membangkitkan nafsu dalam diri manusia. Sebab dengannya, kemarahan menyebar lebih cepat daripada kebijaksanaan. Provokasi lebih mudah viral daripada refleksi.

Fitnah sering memperoleh perhatian lebih besar daripada amanah. Algoritma yang bekerja dengan mempertahankan perhatian pengguna.  Tanpa disadari, seseorang dapat terjebak dalam lingkaran kemarahan, kebencian, fanatisme, dan rasa paling benar. Bukankah itu wajah lain dari Dasamuka? Kita tidak mungkin menghentikan algoritma. Tetapi kita dapat memperkuat Hanoman dalam diri untuk menahan penggunaan Pancasona yang datang terus menerus dan tak bisa mati. Kita dapat memeriksa fakta sebelum mempercayai berita.
Kita dapat memilih dialog daripada caci maki. Kita dapat mengedepankan empati daripada rasa benci. Dengan cara itulah Hanoman menjaga agar Dasamuka tetap tertimbun walau desakannya semakin menggebu gebu.

Dan yang pasti Dasamuka alias nafsu amarah memang tidak pernah mati. Dengan bisikan para pembisik yang menyamar menjadi muka yang baik, ambisi akan diusik, untuk mencari jalan untuk bangkit agar nafsu bangkit melalui keserakahan, dan nafsu kekuasaan. Namun selama Hanoman dalam diri manusia tetap hidup dan menjaga  agar  nurani tetap  jernih, akal  dan pikiran selalu  sehat, menjaga  jiwa agar selalu tenang, Dasamuka akan tetap berada di bawah timbunan bukit di lapis bawah dada manusia, tempat ia seharusnya berada.

Thok thok thok... tancep kayon......

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000