Hujan Turun, Kita Belum Siap
HUJAN akhirnya turun. Puji Tuhan. Alhamdulillah. Sudah lama hujan ditunggu. Berbulan-bulan kita mengeluh. Asap dari kebakaran hutan dan lahan bukan saja membuat anak bangsa menderita, juga tetangga bangsa ikut tersiksa. Hujan di Kalimantan Tengah membuat warga masyarakat sujud syukur di jalanan. Ada yang salto jungkir balik merayakan berkah ini.
Hujan datang bukan hanya mengusir asap tapi juga membuat Sungai Kapuas yang surut mulai kedatangan air. Jika sungai normal, kapal tanker BBM bisa melaju lancar sampai ke penampungan BBM. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat 22-25 Oktober 2026 lalu, hujan lebat hingga ekstrem turun di berbagai daerah. Di Aceh tergolong hebat, 187 mm/hari, Sumatera Utara 103 mm/hari, Jawa Barat 86,2 mm/hari.
Kita bersorak: horee api akan padam. Tapi, apakah kita bisa langsung gembira dan bersuka cita? Ternyata tidak. Hujan baru dua hari, atap rumah sudah terbang lagi. Senin sore 26 Oktober 2026, hujan deras plus angin puting beliung menerjang Padalarang, Bandung Barat. Puluhan atap rumah di Pondok Padalarang Indah beterbangan. Masjid Al-Faidzin rusak, belasan pohon tumbang menutup jalan utama. Listrik padam. Di Desa Campakamekar, tanah longsor menimbun dua rumah dan lahan sawah. Hujan itu, berkah atau bencana?
Apa yang sebenarnya terjadi? BMKG sudah teriak sejak 21 Oktober lalu di Istana Negara. Badan yang berurusan dengan hujan ini menyebutkan hujan mundur karena El Nino sangat kuat. Hujan baru turun banyak di bulan November-Desember aau puncaknya Desember 2026 sampai Januari 2027. Sifat hujannya normal. Apa artinya? Total hujan yang turun dari langit itu sama dengan rata-rata 30 tahun sebelum ini. Tapi durasinya lebih pendek. Hujan yang biasanya dibagi 5 bulan (dari September sampai Januai) , kini ditumpuk jadi hanya 3 bulan, November, Desember dan Januari. Hasilnya adalah hujan jadi lebat, sangat lebat. Bahkan disebut sebagai hujan ekstrem.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani bilang terang-terangan: "Bencana hidrometeorologi basah yaitu banjir dan longsor itu perlu kita antisipasi mulai dari sekarang." BMKG sudah beri status “siaga” untuk Jawa Barat dan Jawa Tengah pada 26-27 Oktober lalu. Artinya potensi hujan lebat hingga sangat lebat itu sudah diketahui.
Karena sudah diketahui maka antisipasi dirancang. Alam kita ternyata kian rusak. Dan kerusakan itu adalah lingkaran setan yang awalnya kita buat sendiri. Tiga provinsi yang banjir tahun lalu, Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat hutannya sudah gundul dibakar untuk sawit, lalu dihantam banjir bandang. Tanah gambut yang baru terbakar di berbagai daerah tidak bisa menyerap air. Jadi ketika hujan turun di lahan gundul yang baru terbakar itu, air tidak diserap, tapi langsung lari jadi banjir bandang. Ini juga menimbulkan kelongsoran karena tanah rawan tanpa pohon. Kita pindah dari krisis kekeringan ke krisis kebanjiran tanpa sempat bernafas.
Musibah yang baru saja tejadi di Padalarang juga kasat nyata adalah kesalahan kita memperlakukan alam. Yang terjadi bukan hujannya yang deras karena 86 mm/hari adalah hal yang biasa di musim hujan. Sekitar kawasan Padalarang itu alamnya sudah rusak. Daerah resapan air hilang. Perumahan Pondok Padalarang Indah dibangun di kaki bukit yang dulu kebun. Sekarang yang ada kebun beton dengan selokan yang mampet. BMKG sudah ingatkan lewat aplikasi, tapi RT/RW tidak punya sirine, tidak punya jalur evakuasi. Peringatan tidak cepat sampai ke warga jika ada bencana.
Jika pemerintah serius bilang kekabaran hutan dan lahan adalah terorisme lingkungan, maka banjir akibat hutan gundul juga harus dianggap terorisme lingkungan. Stop dulu izin perumahan baru di lereng yang sudah rusak hutannya. Bukan hanya untuk Padalarang, juga Lembang, Puncak, Garut, dan Ciwidey. Bahkan di berbagai daerah, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi termasuk Bali. Banjir bandang di Denpasar tahun lalu sudah memberi peringatan bagaimana rusaknya lingkungan di Bali. Tebing-tebing sungai sudah berubah menjadi villa dan air tersesat sehingga masuk ke pemukiman penduduk.
Peta bencana dalam 10 hari terakhir ini sudah dirilis BMKG. Bukan soal asap dari karhutla tapi soal hujan yang turun yang kita sambut dengan sujud itu. Di Tapanuli Tengah, Sumatra Utara hujan terus-menerus 23 Oktober lalu membuat tanggul jebol. Ada 106 rumah di 6 kelurahan terendam, 1 rumah hanyut, 424 jiwa terdampak. Banjir baru surut 25 Oktober, tapi hujan masih turun. Juga di Nias Selatan, awal Oktober, banjir bandang merusak 60 rumah. Banjir bandang juga terjang Kota Padang, 120 rumah terdampak. Di Lhokseumawe, Aceh, angin kencang 25 Oktober meluluh lantakkan 27 rumah.
Bencana yang diprediksi juga muncul adalah air laut yang melunjak alias rob. BMKG mengeluarkan peringatan adanya banjir rob serentak di pesisir laut Jawa bagian utara sampai ke laut Maluku Tengah. Perkiraan rob di 15 pesisir laut itu terjadi saat-saat ini sampai awal November nanti. Artinya: dalam satu minggu yang sama ini, kita punya banjir darat di gunung, banjir rob di laut, dan angin puting beliung di berbagai daerah. Padahal asap dari kebakaran hutan belum sepenuhnya hilang.
Kini, hujan turun sebagai berkah yang kita minta dalam doa selama 8 bulan kemarau. Jangan terjadi karena kita tidak siap, berkah itu kita kutuk lagi sebagai bencana. Tahun lalu kita gagal memadamkan api, salah satu penyebabnya gagal mendapatkan air yang banyak, meski pun sampai memodifikasi cuaca. Jangan sampai tahun ini air yang melimpah dari langit gagal kita pertahankan dan justru jadi malapetaka. Mari kita bersabahat dengan alam.
*
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar