Lima Menit
Ada orang yang menghabiskan bertahun-tahun membangun kompetensi, lalu gagal menunjukkannya dalam sembilan puluh detik. Bukan karena mendadak bodoh, tetapi karena terlalu sibuk memikirkan penilaian orang lain.
Amy Cuddy pernah mengalaminya. Psikolog sosial asal Amerika Serikat yang kemudian menjadi profesor di Harvard Business School ini menceritakan pengalaman memalukannya dalam buku Presence: Bringing Your Boldest Self to Your Biggest Challenges (2015).
Tahun 2004, Amy menghadiri konferensi psikologi sosial yang mempertemukan para akademisi terkemuka. Sebagai mahasiswa doktoral yang bercita-cita menjadi profesor, ia memahami pentingnya kesempatan tersebut.
Suatu malam, ia memasuki lift hotel bersama tiga profesor yang sangat dikaguminya. Salah seorang tiba-tiba meminta Amy menjelaskan penelitiannya secara singkat.
Amy sebenarnya sudah berlatih. Ia menguasai materi dan telah menyiapkan presentasi sembilan puluh detik.
Namun, begitu mulai berbicara, semuanya berantakan. Mulutnya kering, pikirannya kacau, dan kalimat yang telah dipersiapkan mendadak sulit ditemukan.
Semakin keras ia mencoba memperbaiki penjelasan, semakin buruk hasilnya. Ketika lift terbuka, salah seorang profesor mengatakan bahwa itu presentasi singkat terburuk yang pernah didengarnya.
Amy terpukul. Tetapi bagian paling menarik justru terjadi setelah pintu lift menutup.
Tiba-tiba seluruh penjelasan cerdas yang tadi menghilang muncul kembali. Ia tahu persis apa yang seharusnya dikatakan, lengkap dengan argumen yang sebelumnya sulit disusun.
Pengetahuannya tidak hilang. Yang hilang adalah kemampuannya untuk hadir.
Dalam bukunya, Amy menyebut kemampuan tersebut sebagai presence: keadaan ketika seseorang mampu mengekspresikan pikiran, nilai, dan kemampuan dirinya secara autentik, bahkan dalam tekanan.
Paradoksnya menarik. Semakin keras kita berusaha terlihat kompeten, semakin besar kemungkinan kita justru menghalangi kompetensi sendiri.
Amy membahas penelitian Lakshmi Balachandra terhadap 185 presentasi pengusaha kepada calon investor. Hasilnya menunjukkan bahwa kepercayaan diri, kenyamanan, dan antusiasme menjadi prediktor penting dalam keputusan pendanaan.
Mengapa orang pintar justru kehilangan kecerdasannya pada saat paling dibutuhkan?
Investor ternyata tidak hanya mendengarkan gagasan. Mereka juga memperhatikan apakah pembicaranya sungguh percaya pada gagasan tersebut.
Dalam penelitian simulasi wawancara kerja yang turut dibahas Amy, peserta yang menunjukkan presence lebih tinggi dinilai lebih autentik dan lebih layak direkrut. Kompetensi tetap penting, tetapi seseorang perlu mampu memperlihatkannya.
Kembali kepada Amy. Kegagalan sembilan puluh detik itu ternyata menyita tiga hari berikutnya.
Sepanjang konferensi, ia terus mengulang kejadian tersebut dalam pikirannya. Ia membayangkan jawaban yang lebih baik, menyesali kalimat yang keliru, dan mengkhawatirkan reputasinya.
Secara fisik ia berada di konferensi. Namun, pikirannya masih tertinggal di dalam lift.
Bukankah hal serupa sering terjadi di kantor? Seorang manajer yang biasanya cemerlang mendadak kehilangan kata-kata ketika direksi mempertanyakan usulannya.
Begitu rapat selesai, argumen terbaik justru muncul saat mengobrol dengan rekan kerja. Sayangnya, keputusan sudah dibuat, sementara kecerdasan baru datang setelah kopi kedua.
Di sinilah pelajaran manajerialnya. Pemimpin perlu menyadari bahwa tekanan berlebihan dapat menghambat orang menunjukkan kemampuan terbaiknya.
Pertanyaan kritis tetap diperlukan. Namun, mempermalukan bawahan bukanlah cara yang baik untuk mendapatkan pemikiran jernih.
Dalam bagian Presence Is the Next Five Minutes, Amy menawarkan gagasan sederhana. Kita tidak perlu menjadi manusia percaya diri sepanjang waktu; cukup belajar hadir sepenuhnya dalam momen penting berikutnya.
Sebelum rapat, ingat kembali apa yang benar-benar kita yakini. Ketika mendapat pertanyaan sulit, dengarkan dahulu sebelum sibuk mempertahankan harga diri.
Ketika melakukan kesalahan, evaluasilah tindakan tanpa mengubahnya menjadi vonis terhadap seluruh kemampuan diri. Satu presentasi buruk tidak otomatis menjadikan seseorang profesional yang buruk.
Amy tidak pernah bisa mengulang sembilan puluh detik di lift tersebut. Tetapi pengalaman itu membantunya memahami sesuatu yang jauh lebih berharga daripada presentasi sempurna.
Mungkin kita pun memiliki lift masing-masing. Sebuah rapat, wawancara, atau percakapan sulit yang terus menghantui pikiran.
Pertanyaannya bukan lagi bagaimana menghapus kegagalan kemarin. Pertanyaannya, apakah kita masih membiarkan kegagalan itu menguasai kesempatan hari ini?
Yang paling mahal dari sebuah kegagalan bukanlah lima menit yang hilang, melainkan seluruh kesempatan berikutnya yang kita biarkan ikut pergi.
Edhy Aruman
JAM 6 TENG—enam menit untuk membaca, seharian untuk merenung.
RUJUKAN
Cuddy, A. (2015). Presence: Bringing your boldest self to your biggest challenges. Little, Brown and Company.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar