Esai

Jomo

SW60Plus.com, 16 Juni 2026, 07:51 WIB
Edhy Aruman
Edhy Aruman
· 8x dilihat

MENGAPA  menghilang dari layar itu enak? Seni menikmati hidup tanpa perlu tahu segalanya. Bisa?

Coba cek jari jempol Anda sekarang. Jangan-jangan kulitnya sudah agak kapalan karena seharian dipakai untuk scrolling tanpa arah di layar gawai? Kita hari ini hidup di zaman yang aneh: sedetik saja tidak membuka media sosial, kita langsung keringat dingin karena takut ketinggalan gosip artis terbaru, tren joget massal, atau kebijakan absurd yang sedang viral.

Sindrom psikologis ini punya nama beken Fear of Missing Out alias FoMO. Sebuah penyakit modern yang bikin manusia gampang cemas, susah tidur, dan mendadak stres kronis hanya karena merasa hidup orang lain di Instagram terlihat jauh lebih mewah dan bahagia ketimbang hidupnya sendiri.

Untungnya, seorang penulis dan jurnalis asal Kanada bernama Christina Crook datang membawa kabar baik. Lewat bukunya yang bertajuk The Joy of Missing Out, ia membalikkan semua logika kecemasan itu.

Crook menawarkan sudut pandang yang menyentil: sesekali menjadi manusia yang kuper alias kurang update di dunia digital justru bisa menyelamatkan kewarasan kita. Ia menantang arus dengan cara sengaja mencabut kabel koneksi internetnya dan menghilang total dari layar selama 31 hari penuh.

Dari aksi nekat "puasa digital" itulah lahir gagasan legendaris yang kini kita kenal sebagai JOMO (Joy of Missing Out).

Secara sederhana, JOMO bukanlah musuh bebuyutan FoMO yang basisnya ketakutan. Menurut Rees (2017), JOMO adalah perasaan positif yang sangat merdeka. Ia adalah sebuah seni tingkat tinggi untuk berani berkata "saya tidak peduli" pada keramaian dunia maya, demi bisa hadir utuh menikmati piring nasi goreng hangat di depan mata tanpa perlu sibuk memotretnya terlebih dahulu.

Beberapa studi terbaru bahkan mengonfirmasi bahwa orang-orang yang memiliki tingkat JOMO tinggi cenderung hidup lebih bahagia dan waras (Chan et al., 2022; Rautela & Sharma, 2022). Uniknya, rasa tenang ini sering kali baru disadari ketika terjadi disrupsi tidak sukarela, misalnya saat aplikasi media sosial mendadak tumbang berjamaah atau ketika masa karantina pandemi COVID-19 dulu.

Banyak orang yang awalnya panik, mendadak malah merasa lega dan bisa bernapas tenang karena tidak perlu melihat panggung sandiwara digital untuk sementara waktu (Eitan & Gazit, 2023).

Gejala ingin hidup tenang ini ternyata juga menjangkiti para pesohor dunia yang uangnya tak berseri. Tengok saja aktris sekelas Emma Watson. Di tengah puncak popularitasnya, ia memilih mundur teratur dari gemerlap media sosial. Kepada British Vogue, Watson (2019) curhat bahwa tekanan untuk selalu tampil sempurna di depan publik membuatnya kehilangan ruang privat. Keheningan digital menjadi jalan ninjanya untuk menemukan kembali jati diri yang asli tanpa perlu dikomentari oleh jutaan netizen.

Setali tiga uang, musisi global Ed Sheeran bahkan sudah mogok main media sosial sejak tahun 2015. Kalimat pamitannya sebelum menghilang sungguh menampar kita semua: ia sadar bahwa dirinya mulai melihat dunia hanya lewat kotak layar kaca, bukan lagi menggunakan mata dan hatinya sendiri (Sheeran, 2015). Ed Sheeran memilih pergi traveling, menulis lagu, dan benar-benar hidup di dunia nyata—bukan cuma menjadi objek tontonan estetik pemirsa digital.

Menariknya, urusan menikmati kesunyian digital ini ternyata memiliki demografi tersendiri. Penelitian menunjukkan bahwa kaum perempuan cenderung merasakan efek melegakan yang lebih dahsyat dari JOMO ketimbang laki-laki.

Alasannya logis: perempuan sering kali menjadi target paling rentan terhadap tekanan sosial performatif yang bertebaran di media digital (Twenge & Martin, 2020; Tamplin et al., 2018).

Selain itu, kemampuan untuk menikmati hidup tanpa gawai ini terbukti tumbuh subur seiring bertambahnya usia. Orang-orang dewasa yang lebih senior biasanya jauh lebih lihai mengelola waktu luang mereka dengan aktivitas fisik yang nyata ketimbang anak muda yang jempolnya sudah telanjur "perez" menempel pada layar (Turnbull et al., 2021).

Barangkali, JOMO dan FoMO mengajarkan kita tentang pilihan cara hidup. FoMO mengikat kita pada emosi negatif seperti rasa iri, cemas, dan marah karena merasa selalu tertinggal dari kereta informasi. Sementara JOMO menawarkan kedamaian yang lahir dari keengganan untuk ikut-ikutan. 

Maknanya, di dalam ketidakhadiran kita di dunia maya, ada kekuatan mental yang besar; dan di dalam keheningan ponsel kita, ada makna hidup yang sejati. Kita tidak perlu selalu ada untuk setiap notifikasi. Seperti yang dicontohkan oleh Christina, Emma, dan Ed, kadang kala menghilang dari layar adalah cara terbaik untuk benar-benar pulang ke dalam hidup kita sendiri.

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000