Langit Memang Milik Tuhan, tapi Bumi Tanggungjawab Kita Bersama
DI beranda Facebook, seorang teman, 55 tahun, menulis esai pendek dengan judul : Stop Romantisme Berbahasa Langit.
Isinya cukup menohok.
Boleh jadi semacam manifesto. Begini muatan esai tersebut :
Berhentilah dari sekarang, meromantisasi kemiskinan dengan bahasa langit.
Bahasa Akhirat sudah tidak laku dipakai menimang sabar berkalang pilu.
Jangan ajari rakyat mencintai kemiskinannya dengan janji akhirat.
Sementara mereka, para penguasa, menikmati kenyamanan dunia.
Tidak ada agama yang mengajarkan manusia untuk mencintai kemiskinannya.
Lalu menyebut penderitaan sebagai takdir,
dan ketidakberdayaan sebagai kesalehan.
Takdir bukan selimut untuk menutupi kemalasan, apalagi tirai untuk menyembunyikan kegagalan manusia dan negara.
Jika ada manusia kelaparan, jangan buru-buru menyuruhnya bersabar kepada Tuhan. Sementara mereka yang memiliki kuasa sibuk menghitung dan menikmati hasil korupsinya :
Menghambur berfoya di bawah langit-Nya.
Ah sudahlah... Ciaaattt !
---
Di bawah "manifesto" tersebut dibubuhkan initial teman saya tersebut: HSD Wat Arun 29.08.2026.
Wat (Candi) Arun adalah salah satu heritage menarik yang terletak di tepi Chao (Sungai) Phraya di kota Bangkok, Thailand.
Di sela-sela kedinasan teman saya ini, rupanya diisi dengan bertandang ke candi tersebut sebagai salah satu destinasi yang banyak dikunjungi pewisata.
Selanjutnya --mungkin-- secara insting spiritual menggiring teman saya yang pecinta humor ini untuk mencoba menyelami aura candi tersebut. Lantas menghasilkan "manifesto" yang diharapkan tidak saja akan dibaca khalayak dunia digital, juga sebagai refleksi kontemplasi -- self reminder.
---
Dari "manifesto" itu saya mencoba mengutak-atik, lantas menghasilkan catatan sebagai berikut :
Bahwa kemiskinan tidak pantas diromantisasi.
Bahwa penderitaan tidak pantas dibungkus dengan dalil.
Bahwa sabar memang penting, tapi jangan sampai dipakai untuk membenarkan ketidakadilan.
Ketika rakyat diminta "ikhlas" dan "tawakal", sebagian penguasa malah sibuk menikmati hasil jarahan.
Padahal agama tidak pernah mengajarkan kita untuk mencintai kemiskinan.
Bahwa takdir juga bukan alasan untuk diam saat melihat ketidakberdayaan di depan mata.
Sudah saatnya kita berhenti memakai "bahasa langit" untuk membungkam "suara bumi".
---
Dari utak-atik itu, saya mencoba mengelaborasi ke dalam perspektif sosiologi, politik, psikologi, dan filsafat.
Dalam kaitan itu saya lantas mencoba merangkul Google dan Meta AI guna mengasisteni saya, mencari berbagai cakupannya.
Hasilnya, mungkin sebagaimana sekian sudut pandang di bawah ini, guys.
Dalam sosiologi, kemiskinan bukan hanya soal nasib pribadi. Ia adalah produk dari struktur.
Ketika sekolah mahal, kerja susah, dan hukum tidak adil, maka kemiskinan akan terus diproduksi.
"Bahasa langit" di sini berfungsi seperti katup pengaman. Ia membuat orang miskin menerima keadaannya agar tidak protes.
Padahal dalam masyarakat yang sehat, agama seharusnya dipakai untuk menegakkan keadilan, bukan untuk melegalkan ketimpangan.
Mungkin sosiolog menyebut ini sebagai "kohesi palsu". Di luar terlihat damai, tapi di dalam strukturnya timpang.
Sedangkan aspek politik memberi petunjuk yang intinya berpusat pada pembagian kekuasaan dan sumber daya.
Saat penguasa gagal menjamin pangan, kesehatan, dan keadilan, solusi paling gampang adalah memakai narasi spiritual: "Sabar ya, ini ujian. Balasannya nanti di akhirat."
Ini bukan landasan agama, guys. Ini siasat politik !
Sejak era Machiavelli, kekuasaan memang sering memakai moral dan agama untuk menjaga stabilitas.
Akibatnya rakyat diajarkan pasrah. Sementara segelintir orang mendefinisikan ulang "takdir" demi kepentingan mereka.
Akhirnya takdir jadi tameng, dan korupsi jadi kebiasaan.
Sedangkan
dalam aspek psikologi mengisyaratkan istilah learned helplessness, atau ketidakberdayaan yang dipelajari.
Ketika seseorang terus disuruh sabar tanpa diberi jalan keluar, lama-lama otaknya percaya: "Aku memang tidak bisa mengubah apa-apa."
Pada akhirnya berdampak sebagai berikut :
Pertama, korban menyalahkan diri sendiri. "Mungkin imanku kurang."
Kedua, terjadi gaslighting spiritual. Penderitaan disebut ibadah. Marah disebut tidak ikhlas.
Ketiga, orang kehilangan daya juang. Menuntut hak dianggap dosa.
Padahal agama yang sehat justru membangkitkan dignity, harga diri -- martabat. Ia menyuruh kita berikhtiar dan melawan kezaliman, bukan diam dan pasrah.
Adapun aspek filsafat menolak pemikiran fatalis.
Dari Ibnu Rusyd sampai Albert Camus, pesannya sama: manusia dikaruniai akal untuk bertindak.
Dalam Islam pun, takdir tidak membuat kita pasif. Ada hadis: "Ikat untamu, baru bertawakal."
Artinya, ikhtiar dulu, baru berserah. Bukan berserah lalu tidak melakukan apa-apa.
Jika kemiskinan disebut takdir lalu dibiarkan begitu saja, itu bukan tawakal, tapi bentuk pengkhianatan terhadap akal dan tanggung jawab.
Filsafat mengingatkan kita: saat ketidakadilan merangsek, diam juga sebuah pilihan.Namun harap dicatat bahwa setiap pilihan punya konsekuensi.
Dari "manifesto" yang diposting akun teman saya yang alumnus Universitas Hasanudin dan Unair ini, mungkin bisa diambil kesimpulan begini, guys :
Agama tidak pernah menyuruh kita mencintai kemiskinan. Agama menyuruh kita membenci kezaliman.
Negara juga tidak boleh bersembunyi di balik kata "takdir" ketika gagal mengurus rakyatnya.
Sabar tetap kita butuhkan. Tapi sabar yang aktif. Sabar yang berjuang, bukan sabar yang dipasung.
Ikhlas juga tetap kita butuhkan. Tapi ikhlas yang membebaskan, bukan ikhlas yang membodohi.
Sudah saatnya kita berhenti meromantisasi luka.
Sudah saatnya kita kembali memakai "bahasa bumi": data yang jujur, kebijakan yang adil, kerja nyata, dan keberanian menuntut keadilan.
Karena langit memang milik Tuhan. Tapi bumi ini adalah tanggung jawab kita bersama. (*).
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar