Esai

Lulusan Standford

SW60Plus.com, 28 Oktober 2026, 08:28 WIB
Edhy Aruman
Edhy Aruman
· 5x dilihat

STANDFORD Law School adalah salah satu sekolah hukum paling bergengsi di dunia. Lulusannya bisa diterima dan bekerja di firma hukum ternama, dengan penghasilan yang membuat banyak orang iri. 


Namun, Daniel Lubetzky justru memilih berkeliling Manhattan Ia mengetuk pintu toko demi toko, menawarkan selai tomat yang lebih sering ditolak daripada dibeli. Kantornya di ruang bawah tanah, mobilnya ditambal selotip, bahkan untuk makan sehari-hari pun ia harus berhemat.


Bukan karena Daniel tak mampu membangun kehidupan yang nyaman. Ia justru rela kehilangan kenyamanannya demi memperjuangkan kehidupan yang lebih baik bagi orang lain.


Pukul tujuh pagi ia sudah berjalan membawa tas kulit imitasi. Isinya selai dan potongan roti untuk calon pembeli. Dari toko ke toko ia menawarkan dagangan. Ada yang mendengarkan sebentar, ada yang langsung menolak. Besok ia datang lagi.
Kantornya di ruang bawah tanah, bersebelahan dengan mesin cuci tetangga.

Mobil Mercury Cougar miliknya sudah begitu tua sampai bagasinya perlu ditahan dengan selotip. Makan pun dihemat, cukup sekali sehari di prasmanan murah.


Padahal ia punya kesempatan bekerja di Sullivan & Cromwell atau McKinsey. Tetapi Daniel memilih jalan yang membuat orang mungkin bertanya, “Kamu ini sebenarnya sedang mengejar apa?”


Jawabannya ada pada kisah ayahnya.
Roman Lubetzky masih remaja ketika menjadi tahanan Nazi di Dachau. Ia mengenal lapar yang tidak selesai setelah tidur semalam. Ia juga melihat bagaimana nyawa manusia bisa dianggap begitu murah.
Suatu hari, seorang penjaga Jerman diam-diam melemparkan separuh kentang kepadanya.


Bukan makanan istimewa. Bahkan bukan satu kentang utuh. Tetapi Roman sedang kelaparan. Dan di tempat yang penuh kekejaman itu, ada orang yang ternyata masih mau menolong.


Roman selamat dari Holocaust. Bertahun-tahun kemudian, ia menceritakan kejadian tersebut kepada Daniel.


Saya selalu merasa ada sesuatu yang luar biasa dari pilihan Roman. Ia punya cukup banyak pengalaman buruk untuk mengajarkan kebencian kepada anaknya. Tetapi yang ia ceritakan justru kebaikan seorang penjaga.


Daniel rupanya tidak bisa melupakan cerita itu.
Ketika dewasa, ia mendirikan PeaceWorks. Bisnis makanan ini mempertemukan pemasok dari Palestina, Israel, Turki, dan Mesir. Ia ingin orang-orang yang terpisah konflik menemukan alasan untuk bekerja sama. Kalau bisa saling mencari nafkah, siapa tahu mereka juga bisa mulai saling percaya.


Tentu saja, harapan seperti itu terdengar bagus sampai Daniel harus menjual produknya.


Pemilik toko di Manhattan tidak terlalu peduli pada cita-cita perdamaian. Mereka bertanya soal harga, rasa, dan apakah selainya akan laku. Banyak yang menolak. Sementara itu, ongkos pengiriman dan pembayaran pemasok tidak bisa menunggu sampai dunia menjadi lebih damai.

Ditolak berkali-kali, tetap mengetuk. Hampir bangkrut, masih memikirkan orang lain.

Uang Daniel terus berkurang.
Ia berhemat sebisanya. Namun, persoalan terberat ternyata bukan soal makan sekali sehari atau mobil yang nyaris rontok.
Di Timur Tengah, kekerasan terus terjadi.
Bayangkan pulang setelah seharian ditolak pemilik toko, lalu mendengar berita bahwa orang-orang yang ingin Anda pertemukan masih saling menyerang. Besok pagi Anda harus bangun dan menjual selai lagi.
Daniel mulai bertanya apakah semua ini ada gunanya.


Ia bisa berhenti. Mencari pekerjaan yang lebih pasti. Makan lebih teratur. Membeli mobil yang bagasinya bisa ditutup tanpa bantuan selotip.


Tetapi ada keluarga-keluarga yang sudah menggantungkan penghasilan pada PeaceWorks. Ketika Daniel menyampaikan keraguannya, para pemasok justru meminta agar ia meneruskan usaha itu.
Mereka membutuhkan bisnis tersebut.
Bagian ini yang paling menyentuh saya. Daniel merasa sedang membantu mereka. Ternyata, ketika ia kehilangan keyakinan, justru merekalah yang membuatnya bertahan.


Orang sering memisahkan bisnis dan kepedulian. Seolah mencari keuntungan pasti mengurangi kesempatan berbuat baik. Padahal, Michael Porter dan Mark Kramer melalui gagasan creating shared value menunjukkan bahwa keduanya bisa berjalan bersama.


Tetapi ada syaratnya. Bisnis harus benar-benar hidup. Produk mesti laku, pelanggan mesti puas, dan pemasok harus dibayar. Tidak ada keluarga yang bisa makan dari kalimat visi perusahaan.


Daniel terus berjualan. Pelan-pelan, PeaceWorks masuk ke toko seperti Zabar's dan Fairway. Setelah begitu banyak penolakan, akhirnya ada yang percaya.
Lalu Januari 2003 datang.
Pelanggan terbesarnya membatalkan kontrak. Pada bulan yang sama, Roman meninggal dunia.


Saya membayangkan betapa berat masa itu. Bisnis yang susah payah dibangun kembali terpukul. Dan orang yang kisah hidupnya menjadi alasan Daniel memulai semua ini sudah tidak ada.


Tetapi Daniel meneruskan pekerjaannya. Ia kemudian membangun KIND, merek camilan yang tumbuh menjadi bisnis bernilai miliaran dolar. Namanya berarti kebaikan, sesuatu yang selalu diajarkan Roman kepadanya.
Bagi saya, bagian paling penting dari kisah ini bukan keberhasilan KIND. Justru pertanyaan yang ditinggalkannya untuk kita.


Saat bisnis sedang bagus, hampir semua orang bisa bicara tentang kepedulian. Tetapi ketika pelanggan pergi, uang menipis, dan kita sendiri sedang kesulitan, masih adakah tempat bagi orang lain dalam keputusan kita?
Saya kembali teringat penjaga Jerman yang melemparkan separuh kentang kepada Roman. Mungkin ia tidak pernah tahu bahwa remaja itu selamat. Mungkin ia juga tidak tahu bahwa tindakannya akan diceritakan kepada seorang anak, lalu memengaruhi jalan hidup anak tersebut.
Bisa jadi, kebaikan yang sudah lama kita lupakan justru sedang menjadi alasan seseorang untuk tidak menyerah.

Edhy Aruman
JAM 6 TENG—enam menit untuk membaca, seharian untuk merenung.

RUJUKAN
Afremow, J., & White, P. (2021). The leader's mind: How great leaders prepare, perform, and prevail. HarperCollins Leadership.

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000