Esai

Menelusuri "Gengsi"-nya Rosihan Anwar

SW60Plus.com, 18 Mei 2026, 01:42 WIB
T.D. Asmadi
T.D. Asmadi
· 74x dilihat

SEDIKITNYA tulisan tentang hal itu ada pada tiga buku. Buku pertama berisi kumpulan makalah Kongres Bahasa Indonesa 1978, buku kedua tentang bahasa jurnalistik, dan ketiga tentang pertumbuhan dan perkembangan sistem pers Indonesia. Penulisnya satu orang: wartawan, budayawan, bintang film, dan setumpuk mahkota lain. Pada 11 April 15 tahun lalu penulis berpulang kepada Penciptanya, tiga puluh tiga hari menjelang ulang tahunnya yang ke-89.

Rosihan Anwar, yang lahir di Kubang Nan Duo, Sumatera Barat, adalah penulis pada ketiga buku tadi. Tulisannya, yang berjudul “Peran Media Massa dalam Pertumbuhan Bahasa Indonesia”, pada mulanya kertas kerja untuk Kongres Bahasa Indonesia 1978 di Jakarta. Kertas kerja ini kemudian dikumpulkan dalam sebuah buku oleh Pusat Bahasa, yang kini bernama Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Sebagian besar isi kertas kerja itu lalu menjadi bagian dari buku kedua, Bahasa Jurnalistik Indonesia dan Komposisi. karyanya sendiri.

Tahun 1985 Departeman Penerangan menerbitkan buku Bunga Rampai, Catatan Pertumbuhan dan Perkembangan Pers Indonesia dengan editor T. Atmadi. Salah satu tokoh pers yang mengisi adalah Rosihan Anwar. Kertas kerjanya di Kongres Bahasa Indonesia tujuh tahun sebelumnya menjadi tulisan di buku itu. Selain Rosihan, juga menulis Mahbub Djunaedi, Jakob Oetama, Harmoko, S. Tasrif, B.M. Diah, Wonohito, L. Manuhua, dan beberapa lainnya.

Banyak hal menarik dalam tulisan di buku-buku tadi. Salah satunya tentang peranan wartawan dalam pengembangan bahasa Indonesia. Rosihan bercerita bagaimana dua kata bahasa daerah, heboh dan gengsi, berkat tulisan wartawan menjadi bahasa Indonesia. Ketua Umum PWI Pusat 1970-1973 itu berkisah tentang wartawan harian Abadi, Jakarta, Mohammad Syaaf mengenalkan kata heboh yang berasal dari bahasa Melayu. Tahun 1953 Syaaf meliput penyerobotan tanah di Tanjung Morawa, Sumatera Utara, dan kemudian menulis di korannya tentang ribut-ribut itu dengan memakai istilah heboh. Heboh pun jadi bahasa nasional.

Empat tahun sebelum itu, pada masa perjuangan kemerdekaan kita, Rosihan mengenalkan kata gengsi. Pada tahun 1949, Belanda menyerang wilayah Republik Indonesia. Agresi tersebut mendapat perlawanan keras dari pejuang kita. Belanda, yang kewalahan, akhirnya mau berunding. Oleh Rosihan sikap tadi dinilai berkaitan dengan masalah prestige (dengan ‘g’) yang menghalangi Belanda berunding. “Dalam hubungan latar belakang inilah saya memperkenalkan kata gengsi sebagai ganti terjemahan perkataan prestige,” tulis penanggung jawab majalah Siasat, dalam salah satu dari tiga buku tadi. Penerima Bintang Mahaputra itu menambahkan, kata itu ia pungut dari perbendaharaan bahasa remaja di Minangkabau ketika belajar di MULO Padang tahun 1930-an.

Kamus: Gensi

Kreativitas wartawan, termasuk dalam soal bahasa, menggembirakan dan membanggakan. Saya pun terdorong mendalami dua kata itu, terutama gengsi: bagaimana susunan kalimatnya, berapa kata gengsi digunakan pada artikel pertama, dan lain-lain. Majalah tempat kata itu pertama kali muncul, Siasat, saya cari. Saya pun ke Perpustakaan Nasional, Jakarta. Sayangnya, koleksi majalah Siasat, terutama yang awal 1949, di sana tidak lengkap. Saya tidak menemukan gengsi pada halaman-halaman majalah yang ada. Beruntung rekan dari Republika yang rajin ke Perpusnas, Priyantono Umar, menemukan kata itu dan mengirimnya ke saya.

Saya terheran-heran karena foto kopi halaman majalah yang saya terima bukan berisi kata gengsi, sebagaimana yang disebut Rosihan, melainkan gensi (tanpa ‘g’). Itu pun bukan terbitan awal 1949, melainkan Agustus 1949. Juga bukan tentang Belanda yang mau berunding, melainkan tentang Presiden Sukarno. Penasaran dan agar lebih jelas, saya pun membuka berbagai kamus, terutama agar paham yang tepat gengsi, atau gensi.

Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI) susunan WJS Poerwadarminta, menjadi kamus pertama yang saya baca. Pada edisi pertama tahun 1952, terdapat entri (lema) gensi , tetapi ada juga gengsi (dengan ‘g’). Yang gensi dirujuk ke gengsi, yang berarti dalam pandangan Poerwadarminta dalam bahasa Indonesia gengsi lebih tepat. Mengapa bukan gensi yang dinilai lebih Indonesia, itu yang sampai sekarang dicari. Oleh karena masuk kamus, gengsi menjadi sering digunakan, bersaing dengan prestise yang ingin disingkirkan Rosihan.

Ada pertanyaan: dari bahasa mana gengsi itu? Seperti dinyatakan Rosihan, gensi dari bahasa Minang. Kamus-kamus bahasa itu, dari Kamus Bahasa Minangkabau Bahasa Melajoe Riau yang diusahakan M. Thaib ST Pamoentjak tahun 1934 sampai dengan Kamus Minangkabau-Indonesia Edisi III keluaran Balai Bahasa Sumatera Barat tahun 2021, jelas menunjukkan hal itu. Apakah gengsi dari kata dan bahasa yang sama, yang diserap oleh Bahasa Indonesia? Kemungkinan besar begitu. Hanya serapannya sedikit berbeda—satu huruf yaitu ‘g’—dari asalnya. Dari gensi menjadi gengsi.
Penyerapan disertai juga dengan perubahan makna, tepatnya penambahan, makna. Makna gengsi bukan hanya berkaitan dengan derajat, martabat, atau kehormatan, seperti yang ada pada gengsi, melainkan juga berhubungan dengan sanak saudara atau hubungan keluarga.

Di KBBI terakhir ada tambahan lain: kelas kata. Dari kata benda (nomina) saja bertambah dengan kelas kata sifat (adjektifa). Takrif tambahan pada gengsi yang kata sifat berbunyi “tidak mau melakukan sesuatu untuk menjaga martabat atau harga diri”. Contoh di KBBI dalam kalimat: “Ada orang yang gengsi ketika disuruh meminta maaf terlebih dahulu”.

Bagaimana dengan terjemahan gengsi menjadi prestise, seperti ditulis Rosihan? Kamus dwibahasa keluaran 1951, Kamus Indonesia, susunan ALN Kramer Sr, yang pertama memuat makna terjemahan gensi dengan “prestige”. Poerwadarminta, yang bersama A.Teeuw tahun 1952—mendahului KUBI—ketika menyusun Indonesisch-Nederlands Woordenboek mencantumkan gengsi dengan salah satu maknanya “prestise” (dengan ‘s’). Di KUBI makna “prestise” baru muncul pada cetakan-cetakan berikutnya.

Rosihan sudah tepat menggunakan gensi untuk menerjemahkan prestige. Terima kasih atas kreativitas dalam mengembangkan Bahasa kita.


Rosihan beristirahat di pesawat dalam perjalanan pulang ke Jakarta. (Foto: tda)

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000