Mengapa Facebook Sering Disebut Medsos Bapak Bapak?
SALAH satu alasan Facebook sering dijuluki medsos bapak-bapak karena demografi penggunanya sudah bergeser. Sejak sekitar tahun 2015, anak muda mulai pindah ke TikTok dan Instagram. Akibatnya, pengguna yang masih aktif di Facebook saat ini kebanyakan dari generasi milenial ke atas, dengan rentang umur 30 sampai 50 tahun. Bahkan lebih dari itu.
Konten di Facebook agaknya punya ciri khas sendiri. Timeline-nya acapkali diisi status panjang, share artikel, meme minion, kata mutiara, foto keluarga, dan jualan di grup. Tren atau humor cepat seperti yang banyak beredar di TikTok jarang muncul di sini. Fungsinya pun ikut berubah. Platform ini sekarang lebih banyak dipakai untuk marketplace, gabung grup komunitas, silaturahmi alumni, dan baca berita -- bukan lagi jadi tempat anak muda nongkrong atau ikut tren terbaru.
Isunya, ada efek “diawasi orang tua” -- bikin banyak ABG enggan aktif.
Mengingat akun Facebook mereka berteman dengan orang tua, guru, dan keluarga besar, akhirnya pindah ke platform yang terasa lebih privat. Singkatnya, Facebook tidak mati. Tapi perannya sudah berubah dari tempat gaul anak muda jadi tempat nongkrong digital untuk generasi yang lebih tua.
Di Indonesia tahun 2025, Facebook berada di nomor 3 untuk media sosial yang paling sering diakses. Berdasarkan Survei Profil Internet Indonesia 2025 dari APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia), TikTok berada di posisi pertama dengan 35,17% responden, dikuntit YouTube 23,76%, dan Facebook 21,58%.
Padahal tahun 2024 Facebook masih di prosentase 34,85%. Penurunannya cukup drastis sampai tergeser ke posisi nomor 3. Kalau dilihat dari jangkauan pengguna aktif per bulan, DataReportal 2025 mencatat Facebook masih dipakai 81% pengguna internet Indonesia, di bawah WhatsApp 90,8% dan Instagram 82,4%. Tetapi untuk kategori “sering diakses” alias favorit, TikTok dan YouTube berada di atasnya. Singkatnya, Facebook nomor 3 di Indonesia pada tahun 2025.
TikTok sendiri sudah jadi nomor 1 di Indonesia pada 2025. Lonjakannya sangat besar, dari 18,6% pada tahun 2024 menjadi 35,2% di tahun ini.
Sekarang format video pendek sedang sangat dominan. Oleh sebab itu TikTok berhasil menggeser YouTube dan Facebook.
Secara global, kalau bicara jumlah pengguna aktif bulanan, Facebook masih nomor 1 di dunia pada tahun 2025. Catatan terbaru dari DataReportal 2025, Facebook punya 3,065 miliar pengguna aktif, diikuti YouTube 2,504 miliar, WhatsApp dan Instagram masing-masing 2 miliar, serta TikTok 1,582 miliar.
Namun, tercatat nuansa penting : jika diukur dari indeks penggunaan di smartphone, YouTube berada di atas dengan indeks 100. Sementara Facebook ada di posisi 3 dengan indeks 82,2, setelah WhatsApp. Jadi, orang lebih sering buka YouTube, tetapi Facebook punya jangkauan pengguna yang lebih luas.
Tren juga sedang bergeser. TikTok naik sangat cepat, terutama di kalangan Gen Z dan untuk durasi pemakaian harian. Facebook makin banyak dipakai untuk grup komunitas, marketplace, dan baca berita. Bukan lagi jadi tempat nongkrong utama. Jadi jawabannya, Facebook masih “terbanyak” secara jumlah akun aktif global, tetapi bukan lagi yang paling sering dipakai setiap hari. Posisinya sudah digeser TikTok dan YouTube untuk urusan engagement (tingkat interaksi dengan konten) dan waktu pemakaian.
Perbedaan ini terjadi karena jumlah pengguna, sering dipakai itu dalam konteks beda metrik, ditambah ada tiga faktor besar :
Pertama, Facebook lebih dulu masuk ke semua negara dan dalam tataran usia. Facebook berdiri tahun 2004, dan masuk Indonesia sejak 2007-2008. Jadi, keburu punya akun di hampir semua orang 25 tahun ke atas, termasuk di daerah yang internetnya baru masuk 5 tahun terakhir. TikTok baru booming 2019, dan YouTube juga lebih baru populer untuk ditonton rutin. Sehingga basis pengguna Facebook masih paling besar secara angka total.
Kedua, pola pakai sudah berubah. Anak muda usia 13-24 belakangan lari ke TikTok untuk hiburan cepat, dan YouTube untuk tontonan panjang. Mereka tetap punya akun Facebook, tetapi jarang dibuka. Facebook jadi tempat untuk kebutuhan, bukan hiburan, seperti : marketplace, grup alumni, info lowongan, dan baca berita dari media. Dipakai kalau butuh, bukan buat scroll tiap jam.
Sementara itu, TikTok dan YouTube didesain untuk bikin orang ketagihan scroll video pendek. Rata-rata orang bisa 1-2 jam sehari di TikTok. Sementara di Facebook sekarang, cuma 20-30 menit.
Ketiga, demografi global berbeda-beda. Di negara berkembang seperti India, Afrika, dan Indonesia luar kota, Facebook masih jadi “internet” utama karena paket datanya murah di mana semua orang sudah punya akun. Di AS, Eropa, dan kota besar Indonesia, TikTok dan Instagram saat ini dominan.
Jadi, secara global Facebook masih menang jumlah, tetapi secara engagement harian sudah kalah. Singkatnya, Facebook menang di “akun terdaftar”, sedangkan TikTok dan YouTube menang di “waktu buka aplikasi”. Itu sebabnya ranking MAU (Monthly Active Users) dan ranking waktu pakai menjadi berbeda.(*)
Catatan Penulis: Rangkuman disusun dengan bantuan AI, merujuk data survei APJII 2025 dan DataReportal 2025.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar