Esai

Mengenang Gugurnya Mahasiswa pada Mei 1998

SW60Plus.com, 14 Mei 2026, 14:10 WIB
Kabul Budiono
Kabul Budiono
· 347x dilihat

Asap hitam membumbung dari gedung  yang terbakar. Jalan-jalan ibu kota berubah mencekam, laksana  palagan Kurusetra di Bharatayudha.  Gas air mata membubung di antara  pekik mahasiswa yang meneriakkan reformasi, menuntut bergantinya rezim yang sudah lama berkuasa di Nusantara.

Ribuan  massa, 12 Mei 1998, melakukan aksi damai berjalan kaki dari Kampus Universitas Trisakti menuju Kompleks DPR RI di Senayan. Aksi massa yang terdiri dari mahasiswa, dan dosen itu   dihalangi    Polri. Massa dan pasukan berhenti di depan Walikota Jakarta Barat. Polisi mendapat bantuan dari militer untuk menahan demonstrasi. Menjelang  sudah sore hari, negosiasi gagal dilakukan.  Mahasiswa bergerak mundur, yang diikuti dengan majunya aparat keamanan. Aparat mulai menembakkan peluru ke arah mahasiswa. Peristiwa tersebut merenggut nyawa empat mahasiswa Universitas Trisakti, yakni Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie.

Dengan jaket almamater sebagai zirah dan idealisme sebagai panah, mereka bergerak menuju garis depan sejarah. Mereka mengingatkan kita pada Abimanyu yaitu putra Arjuna yang muda, berani, dan menyala oleh keyakinan meraih kemenangan orang tuanya yaitu Pandawa.

Dalam kisah Bharatayuda, Abimanyu Putra Harjuna, merangsek mendobrak formasi perang mematikan bernama Cakrabyuha yang dibuat oleh Durna. Formasi perang itu dimasuki Abimanyu, tetapi membuatnya terkepung dan tak bisa keluar.  Mahasiswa yang merangsek masuk, tak bisa keluar dari Cakrabyuha yang merupakan  pusaran politik, konspirasi, dan kekuasaan di jantung Jakarta. Mereka memasuki pusaran perubahan dengan keberanian yang nyaris tanpa cadangan rasa takut, namun mungkin tidak pernah benar-benar mengetahui bagaimana  permainan kekuasaan yang sedang bergerak di belakang mereka.  Mereka memasuki pusaran perubahan dengan keberanian yang nyaris tanpa cadangan rasa takut, namun mungkin tidak pernah benar-benar mengetahui betapa gelap permainan kekuasaan yang sedang bergerak di belakang layar.  

Dalam Bharatayudha Abimanyu, tidak tumbang dan tewas karena satu lawan satu. Begitu terperangkap dalam lingkaran Cakrabyuha, ia terkepung. Ia dihujani senjata hingga luka arang kranjang. Luka yang sangat parah, karena tombak dan panah menembusi dan merajam tubuhnya. Pun Mahasiswa yang  gugur adalah mereka yang tak bersenjata, yang semestinya dilindungi sebagai masa depan bangsa. Mereka roboh dan tewas karena peluru, tidak hanya oleh seorang,  dari depannya, tetapi oleh mereka yang tak terlihat olehnya dan tidak tahu siapa yang melakukannya. Mereka gugur bukan dalam duel yang setara, melainkan dalam situasi yang hingga kini masih menyisakan lorong-lorong gelap pertanyaan.

Darah Abimanyu reformasi yang tertumpah, bukannya meluruhkan perlawanan. Dan sejak peluru itu menembus dada anak-anak muda itu, legitimasi moral Orde Baru sesungguhnya runtuh.  
Kematian para mahasiswa kemudian menjadi titik balik sejarah. Seperti kemarahan Pandawa setelah menyaksikan tubuh Abimanyu yang hancur di medan perang, kematian mahasiswa 1998 membakar kesadaran rakyat bahwa ketakutan tidak lagi dapat dipelihara. Gelombang reformasi menjadi tak terbendung, hingga Orde Baru runtuh karena reformasi.

Namun sejarah dapat selalu menyisakan kabut. Sampai hari ini, bangsa ini belum benar-benar memperoleh jawaban yang utuh mengenai siapa yang paling bertanggung jawab atas peluru-peluru itu.  
Namun kemuliaan pengorbanan   mahasiswa tidak pernah bergantung pada terungkap atau tidaknya seluruh rahasia sejarah. Karena esensi gugurnya Abimanyu bukan terletak pada siapa pembunuhnya, melainkan pada apa yang lahir setelah kematiannya. Abimanyu yang sudah digadang-gadang oleh para Pandawa  jadi Raja setelah perang usai, terlanjur gugur di medan Kurusetra. Namun keturunannya yaitu Parikesit, ditakdirkan duduk di singgasana sebagai raja Hastina dan Indraprasta.  

Tetapi pertanyaan besarnya masih menggantung hingga hari ini apakah Bharatayuda reformasi benar-benar melahirkan Parikesit yang lebih baik sebagaimana di cita citakan ?

Ataukah   bangsa ini justru terjebak dalam kebebasan yang kehilangan arah? Ketika reformasi berubah menjadi arena baru perebutan kuasa, dan cita-cita pengorbanan para Abimanyu perlahan memudar dalam hiruk-pikuk kepentingan?  

Mari kita ingat kembali kutipan Pidato kenegaraan BJ. Habibie di hadapan DPR/MPR tanggal 15 Agustus 1998 yang antara lain menegaskan, bahwa esensi reformasi nasional adalah koreksi terencana, melembaga, dan berkesinambungan terhadap seluruh penyimpangan yang telah terjadi dalam bidang ekonomi, politik, dan hukum. Sebab sasaran reformasi adalah agar bangsa Indonesia bangkit kembali dalam suasana yang lebih terbuka, teratur, dan demokratis.

Apakah harapan Almarhum Habibie itu sudah terwujud melalui Parikesit Parikesit yang selanjutnya di Nusantara?  Abimanyu reformasi yaitu almarhum Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie, tak lagi menyaksikan hasil pengorbanannya. Kita yang tahu dan merasakannya setelah itu.

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000