Pemimpin Gagal
CARL adalah CEO sebuah perusahaan makanan yang cukup sukses. Sosoknya cerdas, pekerja keras, dan mudah disukai. Sejak muda, kariernya melesat berkat satu keahlian yang membuat banyak orang kagum: ia selalu tahu cara memenuhi harapan orang lain. Atasan menyukainya, rekan kerja mendukungnya. Jadi, ketika akhirnya ia diangkat menjadi CEO, nyaris tidak ada yang keberatan.
Masalahnya, menjadi orang yang disukai tidak selalu berarti menjadi pemimpin yang efektif.
Enam bulan setelah menjabat, Carl langsung menghadapi ujian besar. Ia mewarisi seorang eksekutif senior bernama Dan yang kinerjanya sudah merosot tajam. Dan sering mengabaikan rapat, berulang kali meleset dari target, serta bertindak seolah aturan perusahaan tidak berlaku untuk dirinya.
Di koridor kantor, semua orang tahu Dan harus diberhentikan. Carl pun tahu. Satu-satunya ganjalan adalah bahwa Carl sangat tidak nyaman dengan konfrontasi. Keengganan menghadapi konflik inilah yang mengubah keputusan bisnis sederhana menjadi drama berbulan-bulan. Carl terus mengulur waktu karena ngeri membayangkan amukan Dan. Ketika keputusan itu akhirnya diambil, ketakutannya langsung jadi kenyataan. Dan meledak. Ia menuntut pesangon dalam jumlah yang di luar akal sehat.
Di sinilah sebenarnya kepemimpinan Carl diuji. Dan dia memilih menyerah. Demi menyudahi keributan dengan cepat, Carl mengetok palu dan mengabulkan tuntutan tersebut. Langkah instan ini memang menyetop badai hari itu, tetapi justru menyalakan api yang lebih besar di kemudian hari.
Tim manajemen langsung membaca gelagat tersebut. Mereka melihat dengan jelas bahwa CEO mereka lebih takut pada ketegangan di ruang rapat daripada menegakkan keputusan yang benar. Pesan yang tertangkap oleh organisasi akhirnya bergeser: jika ingin menuntut sesuatu, buat saja keributan yang cukup besar.
Perlahan tapi pasti, orang-orang mulai memanfaatkan celah tersebut. Keputusan bisnis tidak lagi disandarkan pada prioritas dan peluang objektif perusahaan, melainkan jatuh ke tangan siapa saja yang paling lantang bersuara.
Niat awal Carl adalah menjaga harmoni dan membuat semua orang bahagia. Ironisnya, ia justru kehilangan kepercayaan dari tim terbaiknya. Ia mungkin tetap disukai, tetapi kehilangan rasa hormat. Carl belajar dengan cara yang mahal bahwa tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan membuat semua orang tetap senang.
Sementara itu, di ruang eksekutif yang berbeda, Karen menghadapi nasib yang hampir sama—meski berangkat dari kutub komedi yang bertolak belakang. Karen adalah potret bintang muda yang brilian. Direkrut dari korporasi raksasa, ia diproyeksikan banyak orang sebagai calon tunggal CEO masa depan. Ia membawa energi baru, perspektif segar, dan keberanian untuk mendobrak budaya organisasi yang mulai stagnan.
Tahun pertamanya di atas kertas berjalan dengan luar biasa. Orang-orang menyukai gayanya yang tegas namun tetap kasual. Ditambah lagi, Karen punya selera humor yang tajam. Ia selalu punya peluru lelucon untuk mencairkan ketegangan. Sayangnya, ada saat ketika humor justru menjadi masalah.
Momentum itu datang saat perusahaan tengah bernegosiasi alot dengan klien terbesar mereka. Suasana di ruang rapat sangat tegang karena agenda utamanya adalah membahas kenaikan harga produk.
Di tengah kepanikan tim penjualan yang sedang berhati-hati menyusun argumen, Karen mendadak melontarkan candaan. Ia berseloroh bahwa pihak klien seharusnya bersyukur karena harganya tidak dinaikkan dua kali lipat. Ruangan langsung hening.
Alih-alih membaca situasi dan mengerem diri, Karen justru mengira suasana kaku itu hanya butuh lelucon yang lebih punchy. Ia menimpali lagi dengan berkata bahwa klien mungkin bisa meningkatkan efisiensi jika mereka menjual jet pribadi dan beralih ke penerbangan komersial biasa.
Kali ini, suasana benar-benar membeku.
Bagi Karen, itu mungkin cuma gojekan ringan di tengah kopi sore. Namun, bagi klien yang saat itu sedang berdarah-darah melakukan PHK massal dan efisiensi biaya, kalimat Karen terdengar seperti ejekan yang arogan. Tidak butuh waktu lama bagi pelanggan terbesar itu untuk angkat kaki dan menyeberang ke kompetitor.
Apakah kegagalan kontrak itu murni dosa Karen? Tentu tidak sesederhana itu. Namun bagi dewan direksi, satu kesimpulan sudah bulat: Karen gagal memahami apa yang sedang dirasakan klien saat itu. Insiden kecil itu resmi mencoret namanya dari bursa calon CEO.
Carl dan Karen berbeda dalam banyak hal. Yang satu terlalu ingin disukai. Yang satu terlalu percaya diri dengan selera humornya. Namun keduanya berakhir di tempat yang sama: keputusan penting yang seharusnya bisa mereka ambil justru gagal mereka kelola.
Banyak pemimpin tumbang karena kekuatan utama yang mengantar mereka ke puncak dibiarkan berjalan tanpa rem.
Carl sukses karena piawai merawat hubungan, namun dosis yang berlebihan membuatnya lumpuh saat harus mengeksekusi keputusan yang pahit. Karen sukses karena pembawaannya yang karismatik dan spontan, tetapi spontanitas tanpa kendali justru menghancurkan penilaian sehatnya saat genting.
Di sinilah jebakan yang sering kali tidak disadari oleh banyak pemimpin. Sering kali ancaman terbesar bagi seorang CEO bukan datang dari pesaing, melainkan bias perilaku yang mereka pelihara sendiri.
Yang membuat persoalan ini rumit adalah karena penyebabnya sering kali bukan kelemahan, melainkan kelebihan yang dibiarkan tumbuh tanpa kendali. Humor yang salah tempat bisa berbalik menjadi bumerang. Bahkan niat baik untuk menjaga perasaan orang lain bisa berujung pada kelumpuhan organisasi.
Banyak orang mengira CEO gagal karena strateginya salah. Padahal sering kali masalahnya jauh lebih sederhana. Mereka tahu apa yang harus dilakukan, tetapi tidak sanggup melakukannya.
Sebab saat seorang pemimpin jatuh, masalahnya bukan karena ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Mereka tahu persis. Mereka hanya sering kali kalah bertaruh melawan sisi gelap diri sendiri yang diam-diam menyabotase keputusan-keputusan penting.
Dan seperti banyak masalah dalam organisasi, semuanya bermula dari sesuatu yang terlihat sepele: ketidakmampuan untuk mengatakan "tidak". *
Rujukan: Dotlich, D. L., & Cairo, P. C. (2003). Why CEOs fail: The 11 behaviors that can derail your climb to the top—and how to manage them. Jossey-Bass.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar