Esai

Pemimpin Harus Punya Integritas

SW60Plus.com, 02 Mei 2026, 09:54 WIB
Mpu Jaya Prema
Mpu Jaya Prema
· 95x dilihat

APAKAH Anda penggemar Mahabharata? Pernah sinetronnya terus menerus diputar di televisi. Ada saja yang menonton, konon. Mungkin orang Indonesia butuh hiburan saat berita isinya pernyataan para pejabat yang terasa membosankan.

Saya tak bercerita Mahabharata sebagai hiburan. Apalagi Mahabharata itu banyak sekali versinya. Kalau merujuk ke susastra Hindu, Mahabharata disebut Ithiasa, artinya kisah sejarah untuk sesuluh umat sepanjang masa. Kitab Bhagawad Gita (disebut juga Pancamo Weda) "lahir" di tengah-tengah perang saudara Bharatayudha.

Ada dua kitab Ithiasa. Satu Mahabharata yang kedua Ramayana. Yang membedakan keduanya, tokoh-tokoh Mahabharata semuanya bermasalah. Semua pernah salah dan semua pernah benar. Karena itulah harus dijadikan cermin (sesuluh) kehidupan. Sedangkan kitab Ramayana tokohnya hitam putih. Rama simbol kebenaran, Rahwana simbol kejahatan.

Atau Anda tahu kitab Mahabharata itu dari wayang? Kalau sudah bercerita soal wayang, ini jadi panjang, karena pesan moral dalam wayang tergantung budaya lokal. Wayang (Jawa mau pun Bali) hanya "meminjam Mahabharata" untuk penyebaran moral, bukan mengikuti pakemnya sebagaimana di dalam Ithiasa. Mana ada Semar berikut anaknya Petruk, Gareng, Bagong atau juga Bethara Guru dan berthara lainnya dalam Mahabharata. Kisah-kisah dalam wayang itu disebut carangan dari Mahabharata. Yakni, cerita plesetan namun tak menyimpang jauh dari karakter tokoh. Nah, yang mau saya beberkan saat ini bisa juga disebut carangan .Syahdan, di sebuah sore, Sri Krishna mengajak murid loyalnya, Arjuna, ke sebuah ladang untuk berburu. Seekor burung hinggap di sebuah dahan. Bentuk burung itu jelas. Namun, Krishna tetap bertanya untuk menguji muridnya:  "Wahai Arjuna, lihatlah burung itu. Apakah itu seekor merpati?" Arjuna menjawab dengan cepat: "Ya, Guru Suci, itu seekor merpati."

Krishna bertanya lagi: "Apakah itu betul merpati? Coba teliti lagi. Saya kok melihatnya bukan, itu seekor elang." Arjuna langsung menjawab: "Ya, betul Guru, itu seekor elang, bukan merpati. Maaf saya salah."

Krishna menggelengkan kepalanya. Sesaat ia bertanya lagi: "Ah, bukan Arjuna, bukan elang. Saya yang salah lihat, itu seekor gagak." Arjuna ikut menatap burung itu lagi dan kemudian menjawab, "Lagi-lagi mohon maaf Guru, dari tadi mata saya salah melihatnya. Itu memang gagak, tidak dapat disangsikan lagi. Bukan merpati dan bukan elang."

Krishna tersenyum dan mengajak Arjuna duduk di atas dahan pohon yang tumbang. Krishna minta panah yang dibawa Arjuna dibuang. Wong burung yang dipanah saja tak jelas wujudnya. Krishna pun berwacana: "Arjuna, kalau menjadi manusia, makhluk utama yang diciptakan Tuhan di antara makhluk lainnya, pakailah otak. Panca indra kita bersumber dari otak dan jangan mengikuti otaknya orang lain, meski pun orang lain itu orang yang kau hormati. Kau boleh loyal kepada gurumu, boleh loyal kepada atasanmu, tapi jangan korbankan integritas. Jangan mudah terombang-ambing oleh opini yang dikembangkan orang, termasuk oleh orang yang kau kagumi. Saya tahu kamu loyal harga mati kepada saya, tetapi jangan mencla-mencle. Gurumu menyebut elang, kamu ikutan bilang elang. Gurumu menyebut gagak kamu ikutan bilang gagak. Kau akan memimpin Astina Pura ini bersama saudaramu, jagalah integritas. Di situ letak kehormatan seorang manusia, pada integritasnya."

Arjuna menunduk. "Tolong katakan pada saya, kenapa kamu mudah terombang-ambing di hadapan saya," kata Krishna.

Izinkan saya, sebagai dalang yang menuliskan kembali penggalan ini, masuk ke adegan goro-goro sejenak. Seperti yang saya sebutkan tadi, Mahabharata adalah sesuluh atau cermin kehidupan sepanjang masa. Apa yang nampak pada cermin itu saat ini? Banyak sekali kita dipertontonkan oleh orang-orang atau bahkan pemimpin yang kehilangan integritas atau melorot integritasnya jika menghadapi tokoh yang diloyalinya. Banyak menteri dan pejabat tinggi mendukung apa pun kebijakan pemerintah tanpa perlu lagi ditelisik benar atau salah. Bahkan tak perlu pula diketahui asal usulnya. Jika pun dia tahu sang pemimpin itu keliru dan kebijakan yang diambilnya salah, pejabat ini tetap membeo dan bilang setuju. Jika perlu kesalahan atasannya dicari-cari pembenarannya.

Berbagai program pemerintah saat ini, sebut contoh seperti makan bergizi gratis, koperasi merah putih, kampanye efisiensi tapi uang dihamburkan, menjadi pertunjukan nyata bagaimana para pejabat selalu menyenangkan presiden sebagai penggagas program. Kesalahan yang terjadi pun dicoba untuk dibenarkan. Anak didik yang keracunan setelah menyantap makanan bergizi gratis disebutkan sebagai "terbiasa miskin lalu dapat makanan bergizi lambungnya jadi kaget." Ada gedung koperasi yang dibangun di Jawa Tengah di atas tebing karena warga desa kesulitan mencari lahan. Dibenarkan dengan alasan "nanti akan tumbuh rumah-rumah di sana." Pengadaan mobil untuk koperasi yang diimpor ratusan ribu dari India dibenarkan dengan "sudah terlanjur masak dikembalikan lagi". Hanya untuk mencari-cari pembenaran integritas para pejabat itu digadaikan serendah-rendahnya.

Pesan dari percakapan Krishna bersama Arjuna ini adalah  menjadi pemimpin atau ditokohkan masyarakat, haruslah cerdas. Jangan pula mencla-mencle. Pagi kedelai sorenya sudah tempe. Sekarang merpati sebentar lagi elang.

Mari kembali ke ladang tempat Krishna dan Arjuna berada. Apakah Arjuna, penengah Pandawa itu, tokoh yang tak punya integritas dan mencla-mencle? Apakah ia suka menjilat habis Krishna yang dijadikan guru? Ternyata jauh dari sangkaan itu. Ketika Krishna meminta Arjuna untuk menjelaskan sikapnya, Arjuna menengadahkan mukanya menatap sang guru. Lalu ia berkata dengan penuh hormat. "Guru Suciku, sebagai penengah Pandawa, saya tak pernah kehilangan integritas, tak mungkin mencla-mencle, kami taat aturan kehidupan. Ditipu di meja judi lalu kalah dan dibuang ke hutan pun, kami para Pandawa tak pernah protes. Kami introspeksi di hutan. Kami menjaga integritas dengan baik sebagai kesatria...."

Krishna memotong: "Tapi kenapa kamu bilang elang begitu saya bilang elang, bilang gagak begitu saya bilang gagak...."

Arjuna bersujud: "Guruku, saat ini guru bukan manusia biasa. Guru adalah Awatara. Di depanku sekarang ada Awatara Wisnu, perwujudan Tuhan itu sendiri. Bagiku kata-kata-Mu adalah kebenaran mutlak. Sebagai pencipta dan pemegang kuasa dunia ini, Engkau dapat berbuat apa saja. Jika Engkau menyebut burung itu seekor gagak, menjadilah burung itu gagak. Engkau pencipta semua yang ada di bumi ini, dan aku tak boleh ragu dengan kebenaran Sang Pencipta. Ini soal keyakinan."

Ending ini perlu saya perjelas. Dalam ajaran Hindu dikenal ada Awatara, yaitu "perwujudan" Tuhan ke dunia ketika terjadi masalah maha besar yang tak bisa diselesaikan manusia. Akan ada 10 Awatara dan Krishna adalah Awatara ke delapan. Awatara ke 9 pun sudah turun yakni Buddha atau Sidartha Gautama. Awatara ke 10 belum turun, entah kapan, tapi namanya sudah ada: Awatara Kalki.

Konsep Awatara ini dikenal dalam ajaran Hindu dan merupakan akidah yang memang tak bisa diperdebatkan lagi. Ini soal keyakinan. Arjuna meyakini Krishna adalah Awatara. Apakah presiden atau petinggi negara itu Awatara, yang tak pernah keliru dan berbuat salah, sehingga para pembantunya selalu memujinya?  Tidak, bukan? Mereka adalah manusia biasa yang tak luput dari segala kekurangan dan kesalahan.  (Penulis dahulu wartawan bernama Putu Setia)

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000