Esai

Perang Teluk (1991), Titik Balik Jurnalisme Perang

SW60Plus.com, 01 Mei 2026, 23:13 WIB
Albert Kuhon
Albert Kuhon
· 168x dilihat

Saya nonton CNN (Cable News Network) di Washington DC sewaktu berlangsung komunikasi via telepon antara Bernard Shaw, presenter CNN berkulit hitam yang berkumis tebal dengan John Holliman dan Peter Arnett (di Baghdad, 17 Jan 1991). Sewaktu siaran  berlangsung, terdengar jelas  suara ledakan. Listrik di Bagdad sempat padam.

Transkrip siaran Bernard Shaw (host atau anchor di layar CNN di Washington DC pada saat itu) menyebutkan: “The skies over Baghdad have been illuminated… We're seeing bright flashes going off all over the sky…”

John Holliman menanggapi: “There is a tremendous flash outside… the sky is lighting up…”

Peter Arnett berkata: “This is the first time we’ve heard the sirens here in Baghdad…”

Siaran langsung Perang Teluk itu menjadi terkenal karena CNN adalah satu-satunya televisi (jaringan) yang menyiarkan perang itu secara langsung dari lokasi target di Baghdad sewaktu serangan udara pasukan koalisi dimulai. Dan siaran itu adalah salah satu lsiaran langsung dari medan perang yang pertama dalam sejarah televisi global.

Desert Storm

Perang Teluk adalah salah satu konflik internasional pertama yang diwarnai dengan brifing media harian terstruktur dan kontrol informasi ketat. Pemerintah AS mengelola narasi propagandanya melalui Gedung Putih (politik), Kementerian Luar Negeri atau State Department (diplomasi) dan Pentagon (keterangan pihak militer AS dan koalisinya).

Perang Teluk tahun 1991 dipicu oleh invasi Irak ke Kuwait. Saddam Hussein 2 Agustus 1990 memerintahkan tentara Irak menginvasi Kuwait yang tidak bersedia membayar utang kepada Irak (setelah Perang Iran-Irak). Saddam juga menuduh Kuwait “mencuri” minyak Irak dari ladang perbatasan.

Invasi tersebut dibalas dengan Operasi Desert Shield yang dimulai Agustus 1990 berupa persiapan pasukan koalisi yang dipimpin oleh Amerika Serikat dengan dukungan puluhan negara (anggota NATO dan negara Arab). Lalu dilanjutkan dengan operasi militer koalisi (Operasi Desert Storm) yang perangnya secara aktif dimulai 17 Januari 1991.

Serangan udara terhadap Irak 17 Januari 1991 melumpuhkan pertahanan Irak. Dilanjutkan dengan serangan darat pasukan koalisi yang dimulai pada 24 Februari 1991. Gencatan senjata diumumkan 28 Februari 1991 dan Kuwait dinyatakan bebas dari pendudukan Irak namun Saddam Hussein masih tetap berkuasa di Irak.

Panglima utama pasukan koalisi yang memimpin seluruh operasi militer di lapangan adalah Norman Schwarzkopf Jr. yang berjulukan “Stormin’ Norman”. Jabatannya Komandan Central Command (CENTCOM) Amerika Serikat dan ia bertanggungjawab langsung kepada Presiden George  Bush. Kepala Staf Militer AS saat itu adalah Jenderal Colin Powell yang bersama dengan Menteri Pertahanan Dick Cheney berperanan dalam penyusunan strategi tingkat tinggi.

Peliputan Perang Teluk

Di bawah rezim Saddam Hussein, pengawasan terhadap wartawan asing yang meliput Perang Teluk 1991 sangat ketat. Wartawan asing harus mendapat izin khusus dari pemerintah dan harus berhati-hati agar tidak diusir atau ditahan. Para wartawan diwajibkan tinggal di hotel tertentu (terutama Al-Rashid) dan tidak bebas meliput ke lapangan. Setiap wartawan asing hanya boleh meliput dengan didampingi petugas pemerintah Irak yang berfungsi mengawasi dan membatasi peliputan.

Seperti dalam peliputan perang lainnya, para wartawan di Irak tidak diperbolehkan melaporkan posisi militer Irak, dan tidak boleh menunjukkan kerusakan strategis tertentu. Wartawan asing sering ‘digiring’ ke lokasi tertentu, misalnya lokasi yang banyak korban sipil akibat bom koalisi, guna menunjukkan “versi Irak” kepada dunia luar.

Peter Arnett dan John Holliman dari CNN melaporkan secara live (langsung) dari Irak ke layar televisi pada saat bom pertama pihak koalisi jatuh 17 Januari 1991. Arnett melaporkan dari kamar hotel yang dia jadikan ruang siaran darurat. Dia mengaku mendengar suara sirene serangan udara dan ledakan bom.Sewaktu meliput Perang Teluk 1991, Peter Arnett membawa uang tunai sekitar 5.000 dolar AS. Uang itu disiapkan buat keperluan dalam keadaan darurat. Di acara pertemuan dengan rekan-rekan wartawan di Foreign Press Center di Washington DC musim semi 1991, Arnett menuturkan uang tunai tersebut disisipkan pada lipatan jaket jeans. “Itu sebabnya saya tidak pernah melepaskan jaket tersebut,” ujarnya terkekeh-kekeh.

Belakangan Holliman bergeser dari Baghdad ke Mosul, kota terbesar kedua di Irak. Merupakan pusat militer, ekonomi dan penduduknya kebanyakan etnis Kurdi dan Arab.

Televisi jaringan National Broadcasting Company (NBC) menyajikan laporan langsung Tom Brokaw dari Saudi Arabia. Sedang televisi Columbia Broadcasting System (CBS) menyajikan laporan dari kawasan Teluk yang dipandu  Dan Rather dan dilengkapi dengan analisis pengamat militer. NBC dan CBS adalah dua jaringan televisi besar di AS yang sudah beroperasi sejak era keemas an siaran radio, jauh sebelum penyiaran televisi berkembang.

Sajian liputan yang disampaikan  Shaw-Arnett-Holliman melalui layar televisi CNN merupakan siaran langsung  pertempuran atau perang buat pertama kalinya. Lewat laporan CNN dari Baghdad dan Mosul, dunia pertama kali menyaksikan peliputan dan penayangan perang secara live.

Propaganda Terarah

Pada saat Perang Teluk I, di Gedung Putih, Jurubicara (Press Secretary pada masa Presiden George H. W. Bush) Marlin Fitzwater, hampir setiap hari membei penjelasan (tepatnya pengarahan atau briefing) kepada para wartawan istana.

Pada zaman Menlu AS adalah James Baker, setiap  hari Jurubicara Department of State (Kemenlu AS) adalah Margaret DeBardeleben Tutwiler atau wakilnya, Richard Boucher (Deputy Spokesman), memberi briefing bagi wartawan di Kemenlu AS. Pada masa Perang Teluk, briefing lebih sering dilakukan oleh Richard Boucher.

Menteri Pertahanan AS pada saat itu Dick Cheney. Salah satu direktur jenderal di sana adalah Paul Wolfowitz, mantan Duta Besar AS untuk Republik Indonesia. Kepala Staf Angkatan Bersenjata AS dijabat  Jenderal Colin Powell dan Panglima Koalisi atau Panglima perang di lapangan adalah Jenderal Norman Schwarzkopf Jr. Jurubicara Pentagon (Departemen Pertahanan AS) Pete Williams (Assistant Secretary of Defense for Public Affairs), mantan wartawan, nyaris setiap hari memberi pengarahan (briefing) kepada para wartawan, termasuk koresponden asing, yang hadir di Pentagon.

Selain itu, David Fitzgerald dan rekan-rekannya dari Badan Informasi AS atau USIA (United States Information Agency) di Washington DC, juga sering menyelenggarakan briefing khusus bagi para koresponden asing.

Meski tidak terang-terangan, tapi sangat kentara bahwa pihak AS melalui briefing-briefingnya menerapkan pengelolaan media (media management) dalam pemberitaan tentang Perang Teluk atau Desert Storm.

Titik Balik Jurnalisme

Peliputan Perang Teluk menjadikan Arnett sebagai ikon jurnalisme perang modern sekaligus tokoh live report peristiwa perang. Peliputan perang dalam Operasi Desert Storm (1991) sering disebut sebagai titik balik jurnalisme perang modern. Media massa bukan lagi sekadar pelapor melainkan menjadi bagian dari “perang informasi”. Kebanyakan media membentuk opini publik (dukungan atau kritik) dan sebagian besar media AS menjadi alat legitimasi bagi kebijakan politik pemerintah Amerika.

Pihak Amerika menerapkan “Pool System” bagi para wartawan yang meliput. Dengan alasan keamanan, wartawan tidak boleh bebas meliput, melainkan harus ikut rombongan resmi militer. Sebagian besar informasi disaring sebelum dibagikan kepada media massa guna dipublikasikan. Informasi tentang militer dibatasi dan betul-betul dikendalikan oleh pihak Pentagon.

Kebanyakan klip video atau footage yang ditampilkan media televisi adalah gambar-gambar yang bersih tentang smart bomb. Umumnya memberi kesan tentang minimnya korban sipil, Tujuan utamanya membangun citra bahwa AS dan koalisinya melaksanakan perang secara “presisi dan manusiawi”.

“Live War Coverage” awal tahu 1991 oleh CNN menghadirkan standar baru dalam peliputan pemberitaan televisi. Sampai dengan akhir tahun 1990, rating CNN sebagai televisi berita 24 jam non-stop relatif lebih rendah dibandingr jejaring televisi lainnya. Tayangan Perang Teluk dengan visual ‘bom cerdas’ dan ‘night vision’ yang mirip video game, menjadikan CNN tiba-tiba melejit ratingnya.

Perang Teluk tahun 1991 itu memunculkan konsep “media management” dan mengajarkan pihak militer buat mengendalikan narasi informasi dan mengatur akses wartawan. ‘Pool system’ yang dipraktikkan militer pada tahun 1991, direvisi menjadi embedded journalism pada tahun 2003. Yakni. para wartawan iajak meliput dengan ‘ditanam’ atau diikutsertakan dalam satuan unit militer.

Dewasa ini tayangan perang bisa dikonsumsi oleh pemirsa global secara real-time. Laporan perang bisa mengubah sikap politik, opini publik maupun diplomasi dunia. Pertanyaan besar tentang etika jurnalisme yang muncul pertama apakah  pantas  jurnalis terlalu dekat dengan militer?  Dan kedua apakah jurnalis boleh mengorbankan kebenaran demi mendapatkan akses?


Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000