Esai

Resep Perdamaian ala JK

SW60Plus.com, 18 April 2026, 07:22 WIB
Husain Abdullah
Husain Abdullah
· 302x dilihat

Polemik ceramah Jusuf Kalla di Masjid Kampus UGM pada 5 Maret 2026 memunculkan pertanyaan: mengapa kalimat yang disampaikan Jusuf Kalla menjadi masalah dan bahkan dilaporkan ke polisi sebagai penistaan agama?

“Sekalian Anda semua merasa masuk surga, tidak benar. Anda semua di sini yang membunuh orang masuk neraka. Tunjukkan kepada saya agama Islam dan Kristen yang mengatakan membunuh orang tidak bersalah masuk surga. Di Islam tidak ada, di Kristen tidak. Anda semua masuk neraka.”

Kalimat itu sederhana dan mudah dimengerti. Namun, pidato tersebut dipotong, lalu diberi narasi bombastis  sekelompok “buzzer” seolah-olah JK telah menista  agama. Tuduhan ini menjadi umpan segar di dunia maya. Dalam hitungan menit, perdebatan terjadi di kolom komentar tanpa upaya mencari kebenaran dari konteks utuhnya. Dengan cepat, konten itu berpindah ke percakapan dunia nyata, bahkan berubah menjadi perkara.

Padahal, ucapan JK berangkat dari pengalamannya menghadapi realitas sosial saat menyelesaikan konflik berdarah di Poso dan Ambon. Ia tidak sedang berkhotbah tentang syahid atau menyampaikan uraian teologis, melainkan menjelaskan secara empiris bagaimana ia menghentikan konflik dan kekerasan yang menunggangi agama. Sekaligus, itu adalah kritik keras terhadap pihak-pihak yang menyalahgunakan agama—setidaknya pada saat peristiwa itu terjadi.

Para pembuat dan penyebar potongan video ceramah (clipper) boleh jadi bukan siapa-siapa ketika konflik Poso dan Ambon berlangsung. Mereka tidak memiliki andil dalam penyelesaian konflik tersebut. Bahkan, mungkin mereka belum lahir saat peristiwa itu terjadi, sehingga tidak merasakan getirnya konflik. Saat konflik membara, warga tidak hanya kehilangan harta benda, tetapi juga sanak saudara yang terbunuh.

Seperti digambarkan Jack Manuputty dalam sebuah podcast: kedua pihak saling merendahkan harkat dan martabat, kehilangan rasa kemanusiaan, dan saling membunuh dengan amat keji. Saya membenarkan pernyataan itu, karena menyaksikan langsung konflik di Poso maupun Ambon. Masyarakat Ambon saat itu seakan kehilangan kearifan lokal yang amat berharga, yakni Pela Gandong. Persaudaraan dan ikatan sosial musnah ditelan amarah permusuhan.

Perdamaian sebagai Amal Tertinggi

Bagi JK, perdamaian bukan sekadar kondisi tanpa konflik, melainkan nilai luhur yang harus diperjuangkan. Ia menyebut, “Perdamaian itu adalah amal yang sangat tinggi… perdamaian itu adalah akhir dari konflik.” Untuk mencapainya, seseorang tidak cukup hanya menginginkannya, tetapi harus memahami akar konflik itu sendiri. Konflik hanya dapat dihentikan jika dipahami secara utuh—baik faktor sosial, politik, maupun psikologis yang melatarbelakanginya.

Pengalaman JK menunjukkan bahwa dari 15 konflik besar di Indonesia, hanya tiga yang berhasil diselesaikan melalui jalur damai, sementara 12 lainnya berakhir melalui operasi militer. Tiga konflik—Poso, Ambon, dan Aceh—yang diselesaikan secara damai merupakan hasil inisiatif langsung yang ia pimpin. Pendekatan yang digunakannya sederhana namun fundamental: logika, keberanian, dan kehadiran langsung di tengah konflik.

Fase Konflik: Agama sebagai Legitimasi Kekerasan

Dalam konflik Ambon dan Poso, JK menyaksikan bagaimana masyarakat terbelah secara ekstrem berdasarkan identitas agama. Wilayah dipisahkan secara dikotomis: kawasan Islam dan kawasan Kristen. Siapa pun yang memasuki wilayah “lawan” berisiko dibunuh. Situasi ini diperparah oleh keyakinan sebagian kelompok bahwa kekerasan terhadap pihak lain dapat dibenarkan secara agama. Inilah yang oleh JK disebut sebagai alasan mengapa agama menjadi alat konflik paling efektif—karena menyentuh keyakinan terdalam manusia.
Namun, di sinilah letak kritik utama JK. Ia menantang keyakinan tersebut secara terbuka:
“Tunjukkan sama saya agama Islam dan Kristen yang mengatakan membunuh orang tidak bersalah itu masuk surga. Tunjukkan, mana! Di Islam tidak ada, di Kristen tidak ada. Jadi Anda semua masuk neraka.”

Pernyataan ini menunjukkan dengan jelas bahwa JK menolak segala bentuk pembenaran kekerasan atas nama agama. Ia menegaskan bahwa baik dalam Islam maupun Kristen tidak ada ajaran yang membenarkan pembunuhan terhadap orang yang tidak bersalah. Dalam konteks ini, pernyataannya bukan afirmasi terhadap konsep “syahid” yang disalahpahami, melainkan kritik terhadap penyimpangan ajaran agama.

Pernyataan tersebut menjadi titik balik. JK tidak membenarkan kekerasan, melainkan membongkar kesalahan logika yang digunakan untuk membenarkan tindakan tersebut. Ia bahkan menggunakan pendekatan konfrontatif dengan menyatakan bahwa pelaku kekerasan justru akan masuk neraka. Pendekatan ini berhasil menghentikan euforia kekerasan dan memaksa para pihak untuk merenung.

Fase Resolusi: Dari Konfrontasi ke Dialog

Setelah legitimasi kekerasan dipatahkan, JK beralih ke tahap berikutnya: dialog. Ia mengumpulkan para pemimpin kelompok yang bertikai, menantang mereka secara moral, lalu mengajak mereka duduk bersama.

Proses ini berujung pada perundingan damai di Malino, lokasi yang sengaja dipilih karena minim intervensi eksternal. Tanpa akses komunikasi luas, para delegasi dipaksa fokus pada dialog dan penyelesaian konflik.
Pendekatan serupa diterapkan di Poso. Dalam waktu relatif singkat—sekitar dua minggu—konflik yang telah berlangsung bertahun-tahun dengan ribuan korban jiwa berhasil dihentikan. Kunci keberhasilan tersebut terletak pada kombinasi ketegasan moral, pemahaman konflik, dan niat baik yang mampu meredam emosi kolektif.

Komitmen Perdamaian: Warisan Kepemimpinan JK

Komitmen JK terhadap perdamaian bukan sekadar retorika, melainkan hasil pengalaman nyata di medan konflik. Ia menggabungkan logika, keberanian, dan dialog—pendekatan yang terbukti mampu menghentikan konflik berdarah.

Dari pengalaman tersebut, dapat dirumuskan beberapa prinsip utama:
Pertama, perdamaian adalah nilai tertinggi dalam kehidupan sosial.
Kedua, perdamaian hanya bisa dicapai dengan memahami konflik secara utuh.
Ketiga, agama harus dikembalikan pada nilai kemanusiaan, bukan dijadikan alat konflik.
Keempat, kepemimpinan damai membutuhkan keberanian moral dan ketegasan.
Kelima, dialog adalah kunci akhir penyelesaian konflik.

Juru Damai yang Siap Menanggung Risiko

Komitmen terhadap perdamaian juga diuji secara nyata ketika kekerasan menyasar dirinya. Perdamaian, dalam pengalaman JK, bukan hanya tentang menyelesaikan konflik orang lain, tetapi juga kesediaan menanggung risiko pribadi.

Hal ini terlihat dalam peristiwa teror bom di Makassar pada 5 Desember 2002, bertepatan dengan malam Idul Fitri. Ledakan tersebut menewaskan tiga orang, melukai banyak lainnya, serta merusak fasilitas publik termasuk Mal Ratu Indah dan showroom milik Kalla Group.
Peristiwa itu menjadi ujian langsung. Namun JK tidak mundur. Ia tidak membalas dengan kebencian, tidak pula mengendurkan komitmennya terhadap perdamaian. Di titik inilah kepemimpinan damai menemukan bentuk paling konkret: keberanian memilih jalan damai, bahkan ketika menjadi sasaran kekerasan.

Dunia Maya dan Masa Depan Perdamaian

Tantangan perdamaian kini semakin kompleks. Konflik tidak lagi hanya terjadi di dunia nyata, tetapi juga meluas ke dunia maya yang sarat kepentingan, termasuk manipulasi fakta oleh pemburu rente dan pencari popularitas.
Media sosial memang dapat menjadi ruang edukasi dan sumber pengetahuan. Namun, ia juga seperti pedang bermata dua. Jika digunakan secara tidak bijak, justru memperkeruh keadaan dan memperbesar potensi konflik.

Fenomena clipper—pemotong video—misalnya, tidak hanya merugikan dari sisi hak cipta, tetapi juga dapat memicu kegaduhan sosial. Potongan ceramah yang terlepas dari konteks terbukti mampu menyulut kontroversi karena masyarakat hanya menangkap satu sudut pandang sempit.
Kasus pemenggalan ceramah Jusuf Kalla di UGM pada 5 Maret 2026 menjadi pelajaran penting. Potongan video tersebut mengusik legacy-nya sebagai juru damai. Kisah sukses JK mendamaikan Poso, Ambon, dan Aceh seolah ditenggelamkan. Bahkan, ia disudutkan dengan framing penistaan agama.
Padahal, JK adalah sosok yang konsisten menentang penggunaan agama untuk membenarkan pembunuhan terhadap orang tak bersalah. Resep perdamaian yang selama ini ia pegang justru dilupakan.
JK seolah diposisikan seperti petugas pemadam kebakaran yang sepanjang kariernya memadamkan api konflik, tetapi tiba-tiba dituduh sebagai penyulut kebakaran hanya karena selembar foto dirinya memegang korek api.
Beruntung, masih ada saksi hidup dan orang-orang yang waras di jagad maya yang secara sukarela hadir memberikan narasi pembelaan.*

Bagikan:

Komentar 1

D
Danie H Soe'oed 18 April 2026, 14:25

Itu hasil kerjaan buzzer dan termul yang tugasnya memang bikin kacau serta menyebar fitnah kepada siapapun yang berlawanan dengan junjungan mereka.

Tulis Komentar

0 / 2000