Esai

Rsi Bhisma dalam Mahabharata (1) Sumpah yang Sangat Mengerikan

SW60Plus.com, 28 Mei 2026, 20:55 WIB
Mpu Jaya Prema
Mpu Jaya Prema
· 316x dilihat

KEMBALI saya ingin bertutur tentang sepenggal kisah dalam Mahabharata, kitab Ithiasa yang bisa dijadikan sesuluh atau cermin dalam proses kehidupan ini. Kali ini dengan menampilkan tokoh Bhisma, seorang rsi atau yang kini bisa disebut pemuka agama. Kalau kita membicarakan tokoh Bhisma maka kita berbicara soal sumpah. Kenapa tokoh ini kemudian dikenal dengan nama Bhisma karena dia di sepanjang hidupnya dibelit perkara sumpah. Dalam bahasa yang dipakai kitab Mahabharata, kata “bhishma” memang artinya mengerikan. Lantaran sumpah membawa-bawa nama Tuhan, Sang Pencipta Kehidupan. Tak seorang pun berani melanggarnya.

Dalam praktek ketatanegaraan pun seperti di negeri kita ini, ribuan tahun setelah era Mahabharata, sumpah itu tetap harus diucapkan dalam setiap peristiwa penting. Setiap pejabat yang dilantik, dari lurah sampai presiden, harus mengucapkan sumpah. Setiap saksi dalam sidang pengadilan diambil sumpahnya. Apa tujuannya? Agar mereka bicara sejujurnya, agar mereka taat terhadap apa isi sumpah itu. Lalu apa yang terjadi? Pejabat yang dilantik tetap melakukan korupsi. Tetap berfoya-foya mementingkan diri dan golongannya dan bukan kepentingan rakyat. Tetap melanggar aturan dan undang-undang. Contoh kecil, sudah ada undang-undang yang diperkuat lagi oleh Keputusan Mahkamah Konstitusi bahwa wakil menteri dilarang merangkap jabatan sebagai komisaris sebuah BUMN, tetap saja pejabat itu kemaruk kekuasaan. Artinya, bukan cuma pejabat bersangkutan yang melanggar sumpah, tapi atasan mereka, termasuk presiden yang mengangkatnya, melanggar sumpah yang sakral. Ya sumpah itu sakral, di era Mahabharata ada puluhan saksi para pendeta (rsi, bhagawan dan sebutan lainnya). Di negeri kita, setiap orang yang bersumpah didampingi rohaniawan agama yang bertugas sambil memegang kitab suci sesuai agama yang disumpah.

Izinkan saya memulai bercerita. Ini tentang Mahabharata yang asli, bukan bicara soal pewayangan. Nama  tokoh saya pakai ejaan yang sudah di-indonesia-kan, agar lebih akrab dan familiar. Tersebutlah seorang raja bernama Shantanu. Dia berkenalan dengan seorang wanita di tepi sungai yang kemudian hari dijadikan pacarnya. Wanita itu, Dewi Gangga, kemudian dilamarnya untuk istrinya. Dewi setuju dengan mengajukan syarat penting: “Kamu boleh menikahiku, tapi jangan pernah menanyakan atau melarang apa pun yang aku lakukan, apa pun alasannya. Jika kamu melanggar, aku akan meninggalkanmu seketika.” Shantanu setuju. Setelah menikah, Gangga melahirkan anak lelaki. Tapi oleh Dewi anak itu ditenggelamkan ke sungai. Shantanu sedih dan terkejut. Tapi karena janjinya, ia diam saja dan tidak bertanya apa pun. Janji harus ditepati.

Anak kedua lahir, Dewi melakukan hal yang sama. Lagi-lagi Shantanu sedih. Begitulah kisahnya, sampai anak ke tujuh lahir, semuanya laki-laki. Anak yang baru lahir itu semua ditenggelamkan ke sungai. Baru ketika anak ke delapan lahir, juga laki-laki, Shantanu berontak. Ia menghentikan perbuatan istrinya. Dewi marah dan mempertanyakan janjinya sebelum menikah. Akhirnya kesepakatan terjadi, anak itu tidak ditenggelamkan tetapi Dewi bersama sang bayi meninggalkan Shantanu. Anak itu diberi nama Dewabrata diasuh langsung Dewi Gangga di luar istana kerajaan. Kelak ketika remaja, Dewabrata tumbuh sebagai lelaki kekar dan dikembalikan kepada Shantanu sebagai pewaris kerajaan. Dewi sendiri menghilang di sungai itu, yang kemudian disebut Sungai Gangga – sampai kini. Kisah kenapa tujuh bayi lelaki itu ditenggelamkan di sungai, ini terkait dengan kutukan para dewa terhadap pencurian sapi suci Kamadhenu milik Rsi Vasistha. Tapi itu agak panjang jika diceritakan dan tidak tekait dengan kehidupan Dewabrata.

Shantanu hidup menduda dengan anak tunggal Dewabrata. Suatu hari dia ketemu gadis anak seorang nelayan bernama Satyawati. Shantanu jatuh cinta pada pandangan pertama dan ingin menikahinya. Tapi ayah Satyawati, tatkala tahu Shantanu adalah seorang raja, memberikan syarat yang sangat berat. Ia mengizinkan pernikahan hanya jika anak-anak Satyawati kelak yang akan menjadi pewaris tahta kerajaan Kuru. Bukan Dewabrata yang berhak sebagai putra sulung.

Awalnya Shantanu tidak teima syarat itu. Ia tidak mau merugikan Dewabrata yang sudah menjadi putra mahkota yang sangat berbakat dan dicintai rakyat. Tahu ayahnya bersedih Dewabrata pun mendatangi ayah Satyawati dan berunding langsung. Untuk mewujudkan kebahagiaan ayahnya, Dewabrata mengambil keputusan besar. Melepaskan haknya atas tahta Hastinapura selamanya. Ia bersumpah bahwa ia tidak akan pernah menjadi raja.

Sumpah? Sedemikian kuatkah sumpah yang diucapkan oleh lidah tanpa tulang? Ayah Satyawati ragu, bagaimana kalau nanti keturunan Dewabrata mngingkrari sumpah itu dan beralasan tak tahu menahu, tak dilibatkan dalam sumpah. Atas keraguan ini Dewabrata mengulangi sumpah itu dengan lebih jelas. Inilah rangkuman sumpah itu jika diterjemahkan ke Bahasa Indonesia: “Dengan bumi, langit, dan keempat penjuru mata angin sebagai saksi, aku, Dewabrata putra Gangga, bersumpah hari ini: Aku tidak akan pernah menikah, tidak akan pernah memiliki keturunan, dan tidak akan pernah merebut tahta. Hanya keturunan Satyawati yang akan menjadi raja.” Sumpah ini disebut Bhishma Pratigna; artinya, sumpah yang mengerikan. Karena sumpah yang sangat berat dan luar biasa ini, petinggi kerajaan dan seluruh rakyat menyebut Dewabrata sebagai Bhishma – ejaan aslinya. Kelak Bhisma ditasbihkan sebagai Rsi Agung, pengajar dharma (agama) tapi tidak memimpin upacara. (Catatan: dalam masyarakat Hindu di Bali, hal ini masih berlaku, pendeta yang diangkat tanpa punya istri hanya berwenang untuk memberikan pencerahan agama – sebagai guru suci atau acharya – tidak memimpin ritual).

Shantanu kemudian menikah dengan Satyawati. Dari pernikahan ini lahir dua putra: Chitrangada dan Vichitrawirya. Setelah Shantanu meninggal, Bhisma tetap menjaga tahta untuk adik-adik tirinya, bahkan ia yang mencarikan istri untuk Vichitrawirya, yang memicu kisah kutukan Amba. Kutukan Amba juga sebuah kisah yang dramatis atas nama kehormatan dan sumpah yang harus ditaati. Singkat cerita, Amba adalah putri sulung Raja Kashi. Ia memiliki dua adik perempuan: Ambika dan Ambalika.

Amba sudah jatuh cinta kepada Raja Shalya tapi ayahnya tetap membuat sayembara untuk para raja, siapa yang berhak mengawini ketiga gadis ini. Shalya dan Bhisma menjadi peserta sayembara. Tapi Bhisma mewakili adik tirinya, Vichitrawirya. Sayembara ini dimenangkan Bhisma. Raja yang kalah termasuk Shalya. Namun Bhisma mengembalikan Amba kepada kekasihnya, Shalya, karena Vichitrawirya sudah memilih Ambika yang belum punya tunangan. Tapi Shalya menolak Amba dengan alasan sayembara harus dihormati hasilnya. Pantang dan terhina bagi yang kalah untuk pura-pura menang. Amba tersinggung lalu balik menemui Bhisma untuk segera mengawininya. Bhisma menolak dengan alasan telah bersumpah untuk tidak kawin seumur hidup. Amba marah dan merasa dihina.

Sayembara macam apa ini, kok bisa diwakili? Amba lalu bertapa ke Himalaya. Mendapat anugrah dari Dewa Siwa, Amba lantas memberi kutukan kepada semua yang dianggapnya menghina. Untuk Bhisma kutukannya adalah kelak dia akan mati dibunuh oleh dirinya pada kehidupannya yang akan datang. Amba kemudian membakar dirinya agar segera reinkarnasi. Kelak, lahirlah Srikandi, reinkarnasi dari Amba, putri Raja Drupada dari Kerajaan Panchala. Apakah benar Srikandi yang mampu membunuh Bhisma? Nanti saya cerita lebih lanjut di bagian kedua.

Saya ingin menutup cerita bagian pertama ini dengan catatan kaki bahwa kita sesungguhnya sangat tak konsisten dengan janji atau sumpah yang sudah kita ucapkan. Betapa pun itu sakralnya dengan dipayungi kitab suci. Sebagai pemimpin kita bersumpah mensejahtrakan rakyat, lalu rakyat yang mana? Untuk melahirkan saja rakyat harus berjalan kaki berkilo-kilo meter dengan ditandu, sementara bupati atau gubernurnya tega naik kendaraan milyaran rupiah. Korupsi tetap marak bahkan itu di lingkungan kementrian agama. Sebutlah apakah ada ajaran agama yang membolehkan terjadinya korupsi?

Bhisma menjadi contoh bagaimana seseorang itu harus konsisten. Tidak umbar janji, tidak bicara kosong atau istilah sekarang “omon-omon doang” dan bersedia mengorbankan kepentingan individunya untuk kepentingan kerajaan. Pemimpin sekarang ada yang berteriak “bersedia mati untuk rakyat” tapi apa yang dilakukannya? Uang dihamburkan untuk foya-foya plesiran, membiayai program ambisius yang jelas-jelas ditolak rakyat karena tidak tepat sasaran. Banyak lagi contoh buruk yang tak habis-habisnya membuat kita heran, kenapa negeri ini tak bercermin pada budaya luhur kita di masa lalu? Leluhur kita sudah mengadaptasi Mahabharata ke dalam pewayangan dengan menambahkan masalah etika, tapi saat ini kita justru jauh dari etika dan adab yang baik. Nanti, pada bagian ke dua, saat saya usai berkisah tentang kenapa Bhisma yang meninggal dunia dalam Bharatayudha, saya kembali akan membuat perbandingan. Sampai jumpa. **

Bagikan:

Komentar 1

P
Putu Rama 29 Mei 2026, 09:27

Bagus sekali dan sambungannya mana? Belum ditayangkan. Segera Min ditunggu.

Tulis Komentar

0 / 2000