Esai

Rsi Bhisma dalam Mahabharata (2-habis) Wejangan Sebelum Kematian Tiba

SW60Plus.com, 29 Mei 2026, 14:11 WIB
Mpu Jaya Prema
Mpu Jaya Prema
· 218x dilihat

PERANG  saudara di keluarga Bharata karena konflik berkepanjangan tak terhindarkan. Pandawa berhadapan dengan Kurawa yang secara de facto berkuasa di Hastina. Masing-masing kelompok membangun koalisi dengan kerajaan lain. Koalisi ini umumnya karena faktor kekerabatan dan hubungan keluarga. Srikandi, misalnya, berada di pihak Pandawa. Srikandi adalah kakak Drupadi, istri Pandawa.

Bhisma ada di pihak Kurawa dengan dalih kesetiaan membela kerajaan. Dia bersumpah pada dirinya sendiri, setia kepada raja, siapa pun itu orangnya. Dan ketika Bhisma menjadi seorang rsi, berpihaknya kepada raja adalah kewajiban seorang pendeta sesuai dengan konsep “dharma negara”. Ada konsep lain di luar “dharma negara” yakni “dharma agama”. Intinya, seorang pendeta tak boleh maju ke medan laga karena itu tugas seorang kesatria. Namun Duryadana berdalih bahwa Bhisma bukan terikat dengan konsep “dharma agama” karena dia lahir sebagai seorang rsi tanpa didampingi istri. Seorang rsi yang brahmacharya (tidak kawin selama hidupnya) wajib untuk membela kerajaan, termasuk berperang. Ketentuan ini yang tak bisa dibantah Bhisma, meski pun dia secara terang-benderang sering berbeda pendapat dengan Duryadana. Demikianlah Bhisma yang merupakan kakek Pandawa dan Kurawa ini akhirnya terpaksa maju ke medan perang.

Dan di hari ke 10 Bharata Yudha, Bhisma maju ke medan Kurusetra sebagai panglima perang di pihak Kurawa. Mengetahui hal itu, Sri Krishna di pihak Pandawa, mengatur strategi. Srikandi di tempatkan paling depan pasukan Pandawa. Di belakang Sikandi adalah Arjuna dengan ribuan senjata panahnya.

Begitu tahu Srikandi ada paling depan dan siap tempur, Bhisma membentangkan panahnya tetapi dijatuhkan ke tanah. Lengkap dengan gagang panah. Arjuna mengira panah Bhisma itu akan melesat ke arah Pandawa dan senjata Arjuna pun menghunjam ke arah Bhisma. Ratusan anak panah tepat sasaran ke tubuh Bhisma. Ia tersungkur. Bhisma pasrah untuk mengalah sebagai penebusan dosa dari sayembara aneh tatkala mendapatkan Amba. Juga karena prinsip seorang pendeta yang tak mau “berperang” (dalam artian luas termasuk berdebat dan sebagainya) karena wanita harus dihormati. Dalam Bhisma Parwa kemudian tertulis, kehancuran akan terjadi di mana wanita tidak dihormati. (Berbeda dengan kisah pewayangan, baik di Jawa mau pun di Bali, Bhisma tersungkur oleh panah dari Srikandi dalam pertempuran yang seru).

Bhisma sebagai seorang resi (pendeta) dengan spiritual mahatinggi tahu kapan dia harus mati. Dan Bhisma tidak memilih mati seketika pada saat itu. Ratusan panah Arjuna menyangga tubuhnya sehingga tidak membentur tanah. Ia memilih mati ketika matahari bergerak ke arah utara katulistiwa (uttarayana). Hari yang dia pilih adalah Magha Shukla Ashtami, yakni tanggal ke-8 pada bulan terang Sukla yang jika dikonversi ke kalender Masehi saat ini jatuhnya antara bulan Januari dan Februari. Hari kematian Bhisma ini sampai sekarang dirayakan oleh umat Hindu di India. Tahun ini jatuh pada 26 Januari 2026.

Sejak Bhisma tersungkur kena panah Arjuna sampai pada hari kematian yang dipilihnya ada waktu 58 hari. Kesempatan dipakai untuk memberi pelajaran tentang dharma (kebenaran). Baik pihak Pandawa mau pun Kurawa mengelilingi kakek buyut Bhisma di saat-saat itu. Ajaran Bhisma menjelang kematiannya ini tertulis dalam kitab Bhisma Parwa. Ajaran Bhisma jika dipilah ada beberapa hal. Pertama disebut Rajadharma (Kewajiban dan Etika Raja). Bagaimana seorang raja harus memerintah dengan adil, melindungi rakyat, dan menegakkan dharma. Raja harus mengutamakan kesejahteraan rakyat di atas kepentingan pribadi. Keseimbangan antara kekerasan yang diperlukan (untuk menegakkan keadilan) dan belas kasih harus terjaga dengan pasti. Strategi pemerintahan, diplomasi, pajak, keamanan negara, dan hukuman yang adil harus ditegakkan.

Yang kedua, kewajiban sebagai umat manusia secara umum. Bagaimana fungsi sosial melaksanakan dharma, apa kewajiban seorang brahmana, ksatria, vaisya, sudra dan bagaimana tahap kehidupan yang harus dilalui pada masa brahmacharya (belajar menuntut ilmu) grihastha (membangun rumah tangga), vanaprastha (mengisi hari tua) dan sannyasa (menekuni kerohanian).

Yang ketiga tentang memaknai arti kebenaran, non-kekerasan (ahimsa), kesabaran, pengendalian diri, dan berbuat amal. Yang kempat disebut Vishnu Sahasranama (Seribu Nama Vishnu), ajaran Bhisma kepada Yudhistira tentang seribu nama Tuhan sebagai pujian yang memuliakan. Yang kelima tentang moksha, jalan menuju pembebasan, pengetahuan tentang jiwa (atman), karma, reinkarnasi, dan realitas tertinggi.

Ajaran ini tetap relevan untuk sepanjang masa. Coba telaah bagian pertama, kewajiban raja dalam hal ini pemimpin. Apakah pemimpin kita saat ini sudah menegakkan kewajibannya dengan baik? Apakah tidak melanggar etika? Apakah sudah adil memerintah dan mengutamakan kesejahtraan rakyat? Kekayaan alam kita dikuras untuk kepetingan sekelompok orang, sementara jutaan orang hidup dalam kemiskinan karena alamnya semakin rusak. Hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah.

Pada bagian kedua tentang kewajiban umat, ini menyangkut juga soal profesionalisme. Fungsi sosial apa yang mau digeluti seseorang. Sekarang justru bertambah kacau. Tentara dan polisi bertugas menjaga keamanan jika dipadankan dengan era Mahabharata berfungsi sebagai kesatria. Tapi sekarang tentara dan polisi malah ambil alih fungsi petani, padanan sebagai sudra. Tentara disuruh menanam tebu, sawit, membuka sawah. Polisi menanam jagung. Sementara kaum sudra justru diajari baris berbaris dan menjaga keamanan selaku preman. Kaum brahmana yang tugasnya memberi pencerahan dan menambah wawasan di kampus, pesantren, dan lembaga pendidikan lainnya ditawari membangun dapur untuk program makan bergizi gratis. Atau malah disuruh mengelola tambang batubara. Ini kekacauan kasat mata, negeri macam apa ini?

Tentang pemberian amal pun sebagai salah satu ajaran ketiga Bhisma, sudah menjadi bahan olok-olok negatif di masyarakat. Seorang pejabat, entah itu bupati atau gubernur sebut saja di Bali, datang ke pura memberi bantuan dengan dalih beramal. Dia dikagumi memberi amal (sedekah atau punia versi rakyat) yang besar, lalu jika ada ritual duduk di depan, disorot televisi, pidato ngalor ngidul. Ternyata diusut-usut amal itu diambil dari uang APBD, uang dari pajak rakyat. Gejala seperti ini sudah rahasia umum dan bisa jadi terjadi di berbagai daerah dengan kasus berbeda. Memanfaatkan jabatan untuk memikat hati rakyat tapi dengan dalih amal dan bukan hasil jerih payahnya sendiri. Saya tak ingin menyinggung soal amal hewan qurban presiden saat Idul Adha yang lalu, karena belum jelas juntrungannya, uang siapa yang dipakai membeli sapi itu. Penjelasan para menteri masih simpang siur sementara presiden belum klarifikasi.

Banyak hal yang bisa kita jadikan cermin mana keteladanan yang harus kita ambil dan mana contoh yang harus kita buang dalam membaca Mahabharata. Karena kisah ini semua tokohnya dibuat bermasalah, semua punya sifat buruk dan baik. Yudhistira seorang penekun dharma, yang kelak setelah perang Bharata Yudha menjadi raja, ternyata pernah menjadi penjudi kelas berat. Ketika bermain judi dadu bersama saudaranya para Kurawa, dia kalah sampai istrinya sendiri dijadikan taruhan. Manusia macam apa Yudhistira itu? Toh, sisi baiknya, dia mau dihukum 12 tahun di hutan bersama saudara-daudaranya tanpa protes. Karena “hukum” perjudian yang mereka buat isinya seperti itu. Di masa kini, mana ada penjudi yang taat hukum? Malah penegak hukum menjadi pelindung judi.

Terakhir, apakah kisah Mahabharata ini sepenuhnya fiksi atau kisah nyata? Sahabat budaya Nusantara yang mengikuti tutur saya ini tentu punya Kesimpulan sendiri yang tak harus sama. Saya cuma memberi informasi, banyak peninggalan di era Mahabharata masih ada di India dan dijadikan tempat ziarah umat Hindu dunia, termasuk dikunjungi umat Hindu di Indonesia. Yang paling ramai tentu semacam ruwatan di Sungai Gangga. Ladang Kurusetra yang jadi medan perang Bharata Yudha juga banyak ada peninggalannya. Tempatnya di Negara Bagian Haryana, India Utara. Kota utamanya, ya, Kurukshetra tapi juga disebut Thanesar, sekitar 160–170 km utara Delhi. Kurukshetra saat ini tentu bukan lagi medan perang yang hancur, melainkan kota ziarah dan wisata spiritual yang ramai dan terawat. Tidak ada bekas fisik langsung seperti senjata atau peralatan perang zaman dulu, tapi sudah dibangun banyak situs suci, candi, dan museum yang memperingati peristiwa Mahabharata. Suasananya damai.

Oya, saya akhiri, karena tulisan ini bukan tentang pariwisata. Sampai jumpa. Rahayu. *

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000