Senjata Jubah
التسليم لله والولاء لآل النبي #
سلاحنا في وجه الطغاة والعتي
"Berserah diri kepada Allah dan setia (walā’) kepada Keluarga Nabi,
itulah senjata kami di hadapan para penindas dan penguasa zalim."
يا سيدي يا ابن الهدى طه النبي #
عهداً سنمضي في طريق الجهادِ
"Wahai junjunganku, wahai putra petunjuk dari Thaha sang Nabi,
Sebuah janji setia: kami akan terus berjuang di atas jalan jihad."
Rapalan bait itu tidak lahir dari majelis-majelis shalawat yang teduh di Hadramaut atau panggung dzikir para habaib di Tanah Air. Ia disuarakan melalui zawamil —puisi perang berirama magis khas suku pegunungan Yaman utara.
Diiringi gema nada rebab dan oud yang rancak serta hentakan kaki para pemuda bersenjata, pujian kepada Nabi Muhammad SAW dan Ahlulbait di sana tidak diayunkan bersama wewangian gaharu, melainkan ditiupkan di antara bau mesiu dan deru angin Sa'dah.
Di pegunungan Yaman utara itu, agama memang tidak tumbuh di ruang kelas yang sunyi atau panggung srakalan maulid yang damai. Ia tumbuh di antara batu-batu gunung, sejarah kerajaan, dendam politik, kemiskinan, senapan, dan ingatan panjang tentang siapa yang pernah memerintah dan siapa yang pernah terusir dari kekuasaan.
Di sana, pada awal 1990-an, gerakan keagamaan yang dipelopori Hussein Badruddin al-Houthi lahir, bukan di ruang hampa. Ia tumbuh sebagai reaksi kultural dan defensif terhadap masuknya pengaruh Salafi-Wahhabi yang didanai Arab Saudi ke pusat wilayah Zaidiyah — seperti keberadaan pusat pendidikan keagamaan di Dammaj.
Nama Hussein al-Houthi kemudian terdengar dari pengeras suara seperti suara seorang guru yang sedang mengajar. Tapi pelajarannya bukan hanya tentang fikih.
Ia berbicara tentang Amerika, Israel, Palestina, Ahlulbait, kemunduran umat, kehormatan Yaman, dan kepemimpinan Islam. Dari situlah sebuah gerakan revitalisasi keagamaan perlahan berubah menjadi kekuatan politik dan militer yang kini mampu menggetarkan Laut Merah.
Slogannya pun mudah diingat: Allahu Akbar, al-maut li-Amrika, al-maut li-Israil, al-la'nah 'ala al-Yahud, al-nasr lil-Islam. Allah Mahabesar. Kematian bagi Amerika. Kematian bagi Israel. Kutukan bagi Yahudi. Kemenangan bagi Islam.
Slogan itu bukan sekadar hiasan dinding. Ia menjadi semacam kompas ideologis. Dan seperti kompas yang terlalu sering dipakai di medan perang, jarumnya tidak selalu menunjuk ke utara. Kadang ia menunjuk kepada musuh.
-000-
Catatan ini saya tulis persis di ambang 26 September. Inilah hari yang dalam sejarah Yaman dikenang sebagai peringatan Revolusi 1962, saat cengkeraman Keimaman Zaidiyah lama ditumbangkan untuk mendirikan negara republik.
Bahwa hari ini Houthi berhasil merebut kembali Sana'a dan menguasai panggung politik Yaman, itu memperlihatkan betapa sejarah di negeri itu tak pernah benar-benar selesai. Yaman terus bergolak. Ia hanya tertidur sebentar di balik batu-batu cadas, lalu bangun kembali dalam wujud baru.
Dari sinilah pertanyaan menjadi menarik: sebenarnya agama macam apa yang berada di belakang gerakan Houthi?
Lebih jauh, apakah mereka menganut ajaran takfiri? Benarkah mereka mengafirkan sesama Muslim? Ataukah istilah takfiri selama ini hanya menjadi stempel politik bagi kelompok yang berada di seberang?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak bisa dijawab dengan hanya menunjuk Iran, Saudi, atau sebuah rudal. Kita harus turun lebih dalam, ke lapisan sejarah yang jauh lebih tua daripada perang Yaman sekarang.
Sejarahnya jelas. Houthi tumbuh dari lingkungan Zaidiyah. Dan di sinilah orang sering tergelincir. Betul, Zaidiyah memang salah satu cabang Syiah. Tapi menyebut Zaidiyah sama dengan Syiah Dua Belas Imam seperti menyebut kopi Arab dan espresso sama saja karena keduanya mengandung kopi. Ada bahan yang sama, tetapi rasa, sejarah, dan cara penyajiannya berbeda.
Kajian Cambridge University Press mengenai Zaidiyah menunjukkan bahwa tradisi ini secara historis justru berada di wilayah pertemuan Sunni dan Syiah.
Zaidiyah memiliki kedekatan dengan Sunni dalam sejumlah persoalan hukum dan teologi, sementara dalam soal kepemimpinan politik mereka menegaskan hak keluarga Ali dan Ahlulbait. Mirip ajaran Syiah, tapi tidak sama.
Sejarah Zaidiyah sendiri memperlihatkan perubahan posisi dari masa ke masa. Awalnya Zaid bin Ali, tokoh yang namanya menjadi asal mazhab ini, tak pernah menganggap Abu Bakar dan Umar sebagai orang kafir atau perampas kekuasaan dalam pengertian yang kemudian muncul pada sebagian kelompok Syiah.
Karena itu, sejarah Zaidiyah sejak awal bukan sejarah satu blok teologi yang beku. Ia lebih mirip sungai pegunungan. Sumbernya satu, tetapi alirannya bercabang ke mana-mana.
Salah satu cabang Zaidiyah yang kemudian menjadi penting ialah Jarudiyah. Dalam literatur tentang sejarah Zaidiyah, Jarudiyah dikenal sebagai arus yang lebih keras dalam menilai persoalan suksesi Nabi dan kedudukan Ali.
Kajian Cambridge bahkan mencatat bahwa pada masa tertentu Jarudiyah berkembang menjadi arus dominan dalam Zaidiyah. Di sinilah muncul bagian sejarah yang sering dipakai untuk membangun tuduhan bahwa akar Houthi adalah “takfiri”.
Kajian Sana'a Center for Strategic Studies menjelaskan bahwa dalam tradisi Jarudi, para sahabat Nabi — Abu Bakar, Umar, dan Utsman ra — dipandang secara sangat negatif. Bahkan disebut kuffar dalam sejumlah penjelasan mengenai doktrin tersebut. Sementara kelompok Zaidiyah yang lebih moderat tak bersikap demikian.
Tetapi kita perlu berhenti sebentar. Sebab Jarudiyah abad pertengahan tidak otomatis sama dengan Houthi abad ke-21. Menyamakan keduanya tanpa pemeriksaan sama seperti menemukan fosil serigala lalu menyimpulkan bahwa semua anjing di kampung sebelah pasti pemakan daging manusia.
Memang ada hubungan sejarah. Ada kesinambungan gagasan. Tetapi ada pula transformasi. Dan justru transformasi itulah yang menarik.
Houthi bukan sekadar menghidupkan kembali sebuah mazhab lama. Mereka mengambil sejumlah unsur Zaidiyah, lalu memasukkannya ke dalam mesin politik modern.
Mereka meramu nasionalisme Yaman, revolusi, sikap anti-Amerika, gerakan anti-Israel, perlawanan terhadap ekspansi ideologi luar, mobilisasi massa, dan hubungan strategis dengan Iran.
Profesor Bernard Haykel dari Princeton University, dalam studinya yang tajam Revival and Reform in Islam: The Legacy of Muhammad al-Shawkani (Cambridge University Press, 2003), membedah secara mendalam bagaimana tradisi teologi dan hukum Zaidiyah di Yaman telah bergeser dan mengalami kontestasi politik selama bertaraf abad.
Rujukan akademik ini menegaskan bahwa hubungan antara mazhab tradisional dan gerakan modern tak pernah berjalan linear. Hubungan Houthi dan Zaidiyah memang nyata. Namun, kajian akademik menempatkannya sebagai proses transformasi dan rekonstruksi politik, bukan persamaan matematis: Zaidiyah = Houthi.
Bahkan lembaga kajian Sana'a Center sendiri mengingatkan bahwa Zaidiyah bukan sekte yang monolitik. Ada banyak aliran dan perubahan pemikiran di dalamnya. Di dalamnya berkembang istilah wilayah yang sekarang begitu penting dalam ideologi Houthi?
Di sinilah persoalan menjadi lebih serius. Secara sederhana, wilayah berarti otoritas, loyalitas, atau kepemimpinan. Tetapi dalam konstruksi ideologi Houthi, istilah itu memperoleh muatan politik yang jauh lebih besar.
Kajian Sana'a Center mengenai propaganda Houthi menunjukkan bahwa gerakan tersebut secara bertahap memperkenalkan wilayah sebagai konsep teologis-politik yang memberikan legitimasi religius kepada kepemimpinan.
Dalam narasi tersebut, garis keturunan kepemimpinan Houthi dari keluarga Nabi melalui Ali menjadi sumber legitimasi otoritas. Di sinilah sejarah lama bertemu politik baru.
Pada satu sisi terdapat doktrin tradisional mengenai keutamaan Ahlulbait dan kepemimpinan dari keturunan tertentu. Pada sisi lain terdapat negara republik modern yang mengenal parlemen, konstitusi, pemilu, dan lembaga pemerintahan.
Dua bahasa politik itu tentu tidak selalu mudah duduk semeja. Yang satu bertanya tentang siapa yang memiliki legitimasi berdasarkan garis keturunan dan agama. Yang lain bertanya soal siapa yang memperoleh mandat melalui institusi negara.
Jika keduanya bertabrakan, persoalannya bukan lagi sekadar fikih. Ia berubah menjadi perebutan kunci rumah. Dan Houthi tampaknya memahami betul kekuatan simbol kunci itu.
Sejak 2015, konsep wilayah semakin dipopulerkan melalui peringatan Wilayah Day, terutama yang dikaitkan dengan Ghadir Khum. Menurut kajian Sana'a Center, kampanye itu digunakan untuk membangun loyalitas dan menempatkan wilayah sebagai bagian penting dari identitas keagamaan yang mereka promosikan.
Penggalangan solidaritas itu tidak bekerja lewat pidato politik biasa, melainkan melalui mesin dakwah dan kebudayaan yang terstruktur rapi.
Houthi memang bukan sebuah tarekat Sufi dalam pengertian mistisisme klasik. Tapi cara mereka mengikat penganutnya memiliki kedisiplinan spiritual yang luar biasa ketat.
Itu berlangsung lewat majelis-majelis al-daurat al-tsaqafiyyah (jalur budaya dan doktrin). Ceramah-ceramah mingguan Hussein al-Houthi yang dikenal sebagai al-malazim dipelajari, dihafal, dan diulang-ulang seperti wirid ideologis.
Loyalitas itu kian direkatkan oleh zawamil —syair-syair perang dan pujian tribal berirama magis yang memadukan kebanggaan suku, kerinduan mati syahid, dan penghormatan kepada Ahlulbait.
-000-
Houthi lahir dari rahim Zaidiyah, tetapi ketika agama bertemu kekuasaan, mazhab lama berubah menjadi senjata politik baru.
Tradisi zamil (jamak: zawamil) berakar kuat di pegunungan Sa'dah dan Sana'a di Yaman utara — wilayah basis penganut Zaidiyah yang kental dengan kultur kesukuan (qabili).
Berbeda dengan tradisi shalawat di wilayah Hadhramaut atau majelis-majelis dzikir di Tanah Air yang menekankan kerinduan jiwa, kelembutan tasawuf, dan ketenangan batin, zamil berfokus pada militansi politik dan mobilisasi perang.
Zawamil merupakan puisi lisan yang diiringi ketukan cepat, olahan gema musik dramatis, serta lirik-lirik martial. Jika shalawat sufi melantunkan kecintaan yang teduh kepada Rasulullah, maka zamil Houthi memadukan juga bait-bait pujian Ahlulbait dengan keberanian tempur, dentum rudal, dan klaim legitimasi kekuasaan di medan pertempuran.
Ekspresi ideologis ini tidak dikurung di balik dinding ruangan. Zamil dihidupkan di ruang-ruang terbuka melalui Bara’a —tarian perang kolektif yang dibawakan di alun-alun kota Sana’a, panggung rapat akbar (masirah), lapangan latihan militer Sa'dah, hingga di barak dan garis depan pertempuran.
Ruang tertutup biasanya hanya dipakai untuk majelis doktrinasi (al-daurat al-tsaqafiyyah) atau studio rekaman profesional tempat para munshid —seperti Isa al-Laits— mereka ulang vokal dengan efek autotune dan echo yang menyengat sebelum disebarkan ke jutaan layar telepon pintar melalui media sosial.
Di bawah langit terbuka itu, visual yang tersaji sangat khas dan kontras. Para pemuda dan milisi tidak memegang instrumen musik, melainkan senapan serbu Kalashnikov (AK-47) yang diacungkan ke udara mengikuti irama lagu.
Di pinggang mereka terselip janbiya — belati tradisional berbilah lengkung yang ditarik dan diayunkan tinggi-tinggi saat menari Bara’a sebagai simbol kehormatan suku dan kesiapan bertempur.
Sementara pedang panjang hanya hadir sesekali sebagai atribut teatris sejarah dalam perayaan Ghadir Khum. Lewat perpaduan antara nada, senjata, dan belati inilah, keagamaan tidak lagi sekadar menjadi ritual ibadah, melainkan identitas tempur yang menghimpun loyalitas massa secara masif.
Melalui majelis bacaan, nasyid perlawanan, dan mimbar Jumat, dakwah Houthi berhasil mengubah doktrin teologi menjadi identitas emosional kolektif. Ini sebuah kombinasi antara ketaatan keagamaan, solidaritas kesukuan, dan disiplin militer.
-000-
Di titik ini, yang sedang dibangun bukan lagi sekadar identitas sekte, melainkan legitimasi kekuasaan melalui bahasa agama. Dan agama, bila sudah menjadi bahasa kekuasaan, memiliki daya ledak yang berbeda dari pidato politik biasa.
Seorang politisi dapat berkata, “Saya adalah pemimpin yang sah.”
Masyarakat masih bisa menjawab, “Tidak.”
Tetapi jika kalimat itu berubah menjadi, “Kepemimpinan ini adalah kehendak Tuhan,” ruang bantahan menjadi jauh lebih sempit.
Ketika kritik politik digeser menjadi dosa teologis — “Anda menolak pemimpin yang ditetapkan secara ilahi, berarti iman Anda bermasalah” —maka batas antara perbedaan pendapat dan penyesatan agama menjadi kabur.
Di sinilah fungsi takfiristik mulai bekerja, meskipun kata “kafir” tidak selalu diucapkan secara telanjang.
Kajian Sana'a Center menemukan bahwa dalam materi propaganda internal Houthi, orang yang menolak konsep wilayah kerap dicap sebagai munafiqun atau diperlakukan dengan bahasa eksklusif yang mengabaikan keislaman mereka.
Itulah sebabnya istilah takfiri harus digunakan dengan presisi. Secara teknis, takfir adalah mekanisme hukum teologi yang mengeluarkan seseorang dari status keislamannya.
Karena itu, argumen “Houthi hanya menyebut lawan mereka munafiqun, jadi mereka bukan takfiri” terlalu sederhana. Tapi argumen sebaliknya juga sama sederhananya: “Houthi menggunakan bahasa keagamaan terhadap lawannya, berarti seluruh Houthi adalah takfiri.”
Keduanya sama-sama terlalu cepat. Yang lebih kuat secara akademik adalah mengatakan bahwa propaganda Houthi memperlihatkan unsur eksklusivisme keagamaan dan penggunaan label yang dapat berfungsi secara takfiristik terhadap lawan internal.
Namun, itu belum berarti seluruh masyarakat Zaidiyah, apalagi seluruh penganut tradisi tersebut, dapat diberi cap yang sama. Sebab Yaman tidak pernah sesederhana peta Sunni di satu sisi dan Syiah di sisi lain.
Bahkan Sana'a Center dalam kajiannya mengenai hubungan Houthi dan Salafi menunjukkan adanya periode ketika kedua kelompok yang secara teologis bertentangan itu membuat kesepakatan hidup berdampingan.
Dan penelitian dalam jurnal Politics and Religion dari Cambridge University Press juga memperingatkan bahwa identitas sektarian saja tidak cukup untuk menjelaskan dukungan masyarakat terhadap kelompok bersenjata.
Dalam konteks Yaman, faktor geopolitik, kemarahan atas agresi luar, rasa terancam, dan keterlibatan asing sangat berpengaruh.
Dengan kata lain, orang tidak selalu mengangkat senjata karena membaca kitab yang sama. Kadang ia mengangkat senjata karena rumahnya dibom. Kadang karena merasa komunitasnya dihina. Kadang karena melihat lawannya sebagai penjajah.
Dan kadang pula karena ideologi. Dan sering kali karena semuanya bercampur seperti air hujan yang masuk ke selokan kota, maka sulit lagi memisahkan mana air langit, mana lumpur jalan.
Karena itu pula, perang Houthi-Saudi tidak cukup dibaca sebagai perang agama. Saudi memiliki kepentingan keamanan. Houthi memiliki kepentingan politik.
Di sisi lain, Iran mempunyai kepentingan regional. Yaman mempunyai sejarah sendiri. Amerika mempunyai kepentingan strategis. Israel masuk dalam narasi perlawanan Houthi. Palestina menjadi bahan bakar moral yang sangat kuat.
Agama menyediakan bahasa untuk menyatukan semuanya. Itulah kekuatan ideologi. Ia dapat membuat persoalan politik terlihat suci.
Dan ketika politik sudah memakai pakaian suci, kritik kepadanya menjadi lebih sulit. Sebab orang yang mengkritik kebijakan pemimpin dapat dengan mudah dituduh sedang mengkritik agama.
Di sinilah kita perlu membaca slogan Houthi dengan kepala dingin. Musuh menjadi cermin tempat sebuah gerakan melihat wajahnya sendiri. Dan semakin banyak musuh yang dibutuhkan untuk mendefinisikan diri, semakin besar godaan untuk membuat garis antara “kami” dan “mereka” semakin tebal.
Lantas, apakah alasan ideologis dan keagamaan merupakan motif utama perang?
Jawabannya jelas, agama adalah bagian penting, tetapi bukan penjelasan tunggal.
Penelitian tentang Houthi menunjukkan evolusi gerakan tersebut. Ia bergerak dari kebangkitan budaya dan keagamaan Zaidiyah, menjadi gerakan politik, pemberontakan bersenjata, lalu kekuatan yang menguasai wilayah dan membangun institusi kekuasaan.
Sana'a Center menggambarkan bagaimana propaganda mereka kian bergeser pasca-intervensi koalisi pimpinan Saudi pada 2015, di mana Houthi semakin menampilkan diri sebagai pembela kedaulatan Yaman dari agresi asing.
Jadi, agama bukan sekadar sebab. Agama juga menjadi alat mobilisasi dan perangkat legitimasi kekuasaan.
Kita sering terlalu sibuk bertanya apakah Houthi Syiah atau Sunni. Namun, kita lupa bertanya, siapa yang memperoleh kekuasaan ketika sebuah tafsir agama diterima sebagai satu-satunya tafsir yang sah?
Pertanyaan itu jauh lebih tajam. Sebab sejarah menunjukkan bahwa persoalan umat sering kali bukan hanya soal siapa yang benar dalam teologi, tetapi siapa yang memegang mimbar, senjata, sekolah, radio, televisi, pengadilan, dan akhirnya negara.
Maka, mengatakan Houthi sekadar “milisi Syiah” terlalu dangkal. Mengatakan mereka sekadar “gerakan pembebasan nasional” juga terlalu polos. Mengatakan mereka seluruhnya “takfiri” juga sama sekali sulit, sebab tak didukung bukti yang utuh.
Yang terlihat dari berbagai kajian akademik adalah sesuatu yang lebih rumit. Houthi merupakan gerakan politik-militer yang menggunakan dan merekonstruksi unsur-unsur Zaidiyah untuk membangun identitas, legitimasi, loyalitas, dan kekuasaan.
Dalam proses itu muncul bahasa eksklusif terhadap lawan politik internal. Di situlah agama dan politik bertemu. Dan pertemuan itu seperti dua kabel listrik yang ujungnya tidak sengaja bersentuhan. Bisa menerangi rumah. Bisa pula membakar rumah.
Karena itu, jangan buru-buru mengutuk Zaidiyah hanya karena Houthi menggunakannya. Tetapi jangan pula buru-buru memutihkan ideologi Houthi hanya karena mereka memayungi diri dengan tradisi Zaidiyah.
Yang perlu kita periksa adalah teks dan praksisnya. Siapa yang dianggap memiliki otoritas? Siapa yang dianggap sah memimpin? Siapa yang disebut munafik? Dan apa konsekuensi politik dari label-label tersebut?
Sebab agama tidak berbahaya karena ia berbicara tentang Tuhan. Yang berbahaya ialah ketika seseorang berhasil meyakinkan dirinya bahwa setiap keputusan politiknya telah mendapatkan tanda tangan Tuhan.
Pada saat itulah kritik berubah menjadi dosa, oposisi berubah menjadi pengkhianatan, dan lawan politik perlahan berubah menjadi musuh agama.
Di pegunungan Sa'dah, persoalan itu pernah bermula dari pertanyaan tentang siapa yang berhak memimpin umat. Hari ini ia telah menjelma menjadi rudal yang melintasi Laut Merah, drone yang terbang menuju kota-kota Saudi, dan propaganda yang menyeberangi layar telepon jutaan manusia.
Rudal membutuhkan bahan bakar untuk terbang. Ideologi membutuhkan keyakinan untuk bergerak. Dan perang menjadi paling panjang ketika keduanya sudah memperoleh bahan bakarnya masing-masing.
Cak AT - Ahmadie Thaha
Ma'had Tadabbur al-Qur'an, 26/9/2026
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar