Tentang Mahabharata dan Karna yang Kontroversial
Para sahabat budaya Nusantara yang baik. Kita semua tahu bahwa kitab Mahabharata diakui kehebatannya untuk sesuluh di sepanjang zaman. Selalu ada yang bisa kita pelajari dari ephos ini untuk kita perbandingkan dengan kehidupan masa kini. Karena itu bagi sebagian orang kitab ini adalah sesuatu yang sakral dalam pengertian bukan kisah sembarangan. Bukankah dalam ephos ini turun wejangan Sri Krishna kepada Arjuna di tengah-tengah perang dasyat
Bharatayudha yang kemudian dihimpun dalam kitab Bhagawat Gita? Kita pun tahu kitab Bhagawat Gita dipelajari oleh umat manusia yang beragam agama.
Sedikit tentang Bhagawat Gita yang biasa disingkat BG. Terjemahan BG dalam Bahasa Indonesia itu banyak sekali. Yang saya tahu lebih dari 20-an terjemahan itu dalam Bahasa Indonesia. Ada juga yang memakai Bahasa Bali dan Bahasa Jawa Kuno. Kalau BG dalam Bahasa Inggris tentu lebih banyak lagi. Ini jelas menunjukkan bahwa BG adalah milik dunia. BG itu bukan saja sekadar kitab suci bagi umat Hindu, meski hanya tergolong sebagai Pancamo Weda atau Weda Kelima, tetapi kitab pengetahuan tentang kerohanian yang universal. Itu sebabnya banyak umat nonHindu yang juga membaca kitab BG, bahkan Presiden Soekarno disebut-sebut sangat suka membaca BG.
BG juga tak hanya diterjemahkan oleh para rohaniawan dengan maksud menyebarkan ajaran dharma, tetapi juga para sastrawan. Pujangga lama yang tersohor, Amir Hamzah, menerjemahkan BG secara puitis tanpa memberikan tafsiran apa pun. Jadi begitu singkat dan bukunya sederhana, karena memang terbitan masa lalu. Saya tak punya buku aslinya, hanya fotokopi saja kiriman seorang sahabat.
Begitu pulalah dengan kitab induknya, Mahabharata, sudah berkembang dengan berbagai variasi disesuaikan budaya setempat. Dalam budaya Jawa kita mengenal “wayangan” baik itu wayang kulit mau pun wayang orang. Kisah “wayangan” itu pun memakai tokoh-tokoh yang ada di dalam Mahabharata, meski dalam berbagai cerita ada yang memang “karangan” sesuai dengan budaya setempat. Karena itu “wayangan” tetap dalam pengertian “bayangan”, artinya sesuatu yang tak ada di dalam kehidupan nyata. Hanya “bayang-bayang” dengan tujuan menyelipkan ajaran dharma, etika, teladan yang disesuaikan dengan budaya dan agama setempat.
Beda dengan penganut Hindu yang meyakini bahwa Mahabharata itu ada, walau juga diyakini “barangkali ada yang ditambah dan dikurangi”. Itu sebabnya ephos Mahabharata disebut Itihasa, sebuah sesuluh dari kejadian yang nyata. Peninggalan dalam ephos Mahabharata ini, seperti ladang Kurusetra tempat Bharatayudha, sumur tempat Bima membasuh darah, Sungai Gangga tempat Kunti membuang anaknya yang lahir sebelum menikah, dan banyak lagi yang lain, masih dipelihara di India. Umat Hindu menjadikan kawasan itu sebagai tempat Tiryayatra (kunjungan suci) sampai saat ini.
*
Kabul Budiono, wartawan dan budayawan yang bergabung dalam grup ini, SW60Plus, sudah menuturkan beberapa kisah dari Mahabharata dalam versi pewayangan Jawa. Pemaparan yang bagus dan layak untuk diikuti sebagai teladan hidup. Kita menunggu kisah-kisah lainnya sebagai sesuluh.
Kali ini saya ingin ikut berkisah tentang Kunti, ibu para Pandawa itu, yang membuang anaknya ke Sungai Gangga dan bagaimana kelak perjalanan hidup sang anak terbuang. Namun saya bertutur dalam alur kitab Mahabharata, bukan lewat cerita wayang Jawa, sehingga jika ada yang tidak pas, mohon dipahami.
Kocap kacarita (ini tradisi Ki Dalang wayang kulit di berbagai daerah dalam mengawali ceritanya) tersebutkan Kunti, perawan Astina yang sudah berjanji akan dikawini Pandu, pewaris kerajaan Astina. Namun Kunti tahu siapa Pandu, termasuk kehidupannya yang paling dirahasiakan. Yakni, Pandu punya kelainan seks yang tidak memungkinkan mereka bakal mendapat keturunan dengan cara yang “nomal”. Namun sebelumnya Kunti sudah mendapat ilmu dari seorang Maharsi (pendeta agung), kelak jika sedang bercinta, berdoalah pada dewa sesuai sifat anak yang diinginkan.
Menjelang perkawinan Kunti – Pandu, sang perawan ini berselingkuh (ini bahasa masa kini) dengan pacarnya. Saat Kunti bercinta dengan “pacarnya”, ia membayangkan Dewa Surya. Kunti pun hamil dan lahirlah seorang bayi tampan sebelum Kunti menikah dengan Pandu. (Berbagai dalang versi Bali ada yang menyebutkan Kunti berselingkuh langsung dengan Dewa Surya, seolah para dewa itu ada nyata dan juga suka selingkuh).
Selingkuh dan punya anak di luar perkawinan tentu perkara aib. Bahaya besar jika ada yang tahu. Maka bayi lelaki itu dibuang ke Sungai Gangga. Tapi Kunti mengawasi anaknya sampai ada orang memungutnya. Ia terus menyurusi anaknya yang terombang-ambing di sungai dengan perahu kecil yang aman. Di telinga anak itu dipasang anting-anting sebagai tanda. Kocap kacarita (syahdan begitu ceritanya), seorang perempuan memungut bayi itu. Perempuan sederhana itu bernama Radha, istri kusir dokar yang sehari-hari perajut benang. Suami Radha, yakni Atiratha, sangat bahagia karena puluhan tahun menikah tak punya anak. Bayi lelaki itu diberi nama Radheya.
Radheya tumbuh besar dengan air susu Radha dan hidup dengan tempaan alam bersama bapaknya, sang kusir dokar. Sementara Kunti akhirnya tetap menikah dengan Pandu dengan kebesaran istana Astina. Pernikahan Kunti dengan Pandu melahirkan tiga putra. Putra pertama karena Kunti selalu memuja Dewa Dharma saat bercinta lahirlah Yudistira. Putra kedua dia memuja Dewa Bayu lahir Bima. Putra bungsu, Kunti memuja Dewa Indra lahir Arjuna.
Pandu punya istri kedua, namanya Madri. Oleh Kunti diajari memuja Dewa Asmin, lahirlah anak kembar: Nakula dan Sahadewa. Ketika Pandu meninggal dunia, Madri yang memilih ritual satya (menceburkan diri pada api yang membakar Pandu). Ini bentuk kesepakatan Kunti dan Madri, karena dalam tradisi Hindu saat itu jika suami meninggal sang istri ikut “mendampingi meninggal” pada saat api membaka jasad suaminya. Sebagai ilustrasi, saya mendengar cerita, konon upacara satya terakhir di Bali terjadi tahun 1851 di Kerajaan Gelgel, tapi tak ada sumber otentik menjelaskan hal ini.
Kenapa Madri rela melangsungkan ritual satya? Imbalannya adalah Kunti bersedia mengasuh ke lima anak lelaki itu tanpa pilih kasih. Sesederhana itu meski para dalang wayang kulit Bali ada yang bikin lebih seru: Mandri kalah 2-3 dengan Kunti dalam hal punya anak. Lagi pula Nakula dan Sahadewa bukan jago perang tapi jago sastra dan usada (pengobatan). Kelima anak ini kemudian disebut Panca Pandawa.
Mari kembali ke kisah Radheya. Remaja ini tumbuh dengan kekar. Bapaknya membawa Radheya ke padepokan Bhagawan Drona untuk belajar, terutama ilmu perang. Tapi Bhagawan Drona menolak anak ini karena anak seorang kusir dokar. Atiratha, ayah Radheya, tak putus asa, ia mencari guru lain, Bhagawan Bhargawa. Oleh Sang Bhagawan dicecar kenapa bernafsu benar belajar ilmu perang padahal hanya anak seorang kusir dokar. Di sanalah Atiratha menjelaskan siapa sesungguhnya Radheya itu, hanya seorang anak pungut.
Bhagawan Bhargawa kaget, ternyata Radheya keturunan ningrat. Radheya lebih kaget lagi dan siap ke Puri Astina menanyakan asal-usulnya. Namun dia berkata: “Apa pun kebenarannya, hamba tetap menjaga kehormatan ibu Radha dan ayah Atiratha, dari mana air susunya membesarkan hamba.”
Radheya datang sendiri ke Puri Astina. Kelima Pandawa menolak karena mereka tak pernah mendengar ibunya punya anak lain. Kunti tetap pegang rahasia. Tapi Kunti menangis ketika Radheya memperlihatkan anting-anting yang dibawanya. Anting-anting yang dikenakan saat bayi.
Ditolak masuk ke Puri Astina dan tak diakui sebagai keluarga Pandawa, Redheya pun kesal. Tatkala berguru ke Bhagawan Bhargawa dia pun mengubah namanya menjadi Karna, artinya kuping atau telinga. Nama Karna pun terus dipakainya dan selalu diumumkan ke mana-mana. Istilah masa kini diviralkan.
Kekesalan dan viralnya nama Karna ini didengar pihak Kurawa. Duryodana pun seperti dapat durian untuh. Ia membujuk Karna agar bergabung ke Kurawa dengan jabatan Adipati yang hanya bisa diraih para kesatria. Karna langsung setuju dan siap berlaga untuk membela Kurawa. Menjelang perang Bharatayudha, diam-diam karna menemui Kunti. Dia bertanya pada ibu kandungnya, kalau perang terjadi, siapa yang harus dibunuh di antara Pandawa? “Siapa yang tepat sebagai lawan tanding saya,” begitu tanyanya. Kunti lama terdiam, lalu menyebut beberapa cucunya: ada Gatotkaca, ada Abimanyu dan lainnya. “Tidak,” kata Karna. “Ibu punya lima putra, Panca Pandawa. Siapa pun lawan tanding saya, harus putra ibu yang lima itu. Dan siapa pun yang mati, ibu tetap punya Panca Pandawa.”
Dan sejarah pun terukir, pada hari ke 17 Bharatayudha, Adipati Karna dinobatkan sebagai Senopati Perang dengan kusir Prabu Salya melawan Arjuna yang dikusiri Krishna. Karna gugur dan kita tak bisa satu tafsir. Kenapa Karna yang gugur dan Arjuna yang menang. Semuanya adalah kehendak Tuhan – yang pada saat perang itu Krishna adalah Awatara Wisnu, manifestasi Tuhan yang “turun” ke bumi.
*
Tancep kayon. Banyak hal yang bisa kita jadikan cermin dalam kisah ini. Bagaimana bahayanya perselingkuhan itu. Bagaimana derita batin berkepanjangan membuang anak kandung. Tak ada seorang pun yang harusnya tega membuang anaknya sendiri. Seorang anak tahu bagaimana membalas budi orang tuanya yang sudah memberi susu kehidupan, tapi juga tak membenci orang tua yang melahirkan betapa pun kejamnya orang tua itu. Lalu ada masalah sakit hati dan ego berlebihan. Kenapa Karna begitu senang diangkat jadi senopati perang hanya bertujuan membunuh saudara kandungnya, bukannya menjadi resi atau bhagawan saja. Dan akhirnya sifat Duryodana, barangkali banyak yang mewarisi sekarang, mereka bujuk orang-orang sakit hati untuk memperkuat posisinya. Anda mewarisi sifat siapa? Rahayu.
Terimakasih ya Mpu Jaya Prema. Kita rupanya punya perhatian yang seirama mengapresiasi wayang. Saya lebih cenderung membahasnya berkaitan dengan gejala sosial, dan menjadikan wayang sebagai wewayangan atau bayangan kehidupan. Salam budaya.
Ayo nulis lagi Mas Kabul, banyak yg baca ternyata. Biar negeri ini gak sumpek oleh berita politik doang....