Terlambat
JANUARI 2014. Sarah Wynn-Williams sedang mengikuti rapat di Facebook ketika air ketubannya pecah. Mantan diplomat Selandia Baru yang kemudian menjadi Direktur Kebijakan Publik Global Facebook itu mendapat notifikasi yang kali ini tidak datang dari ponsel: anak pertamanya mau lahir.
Sekarang.
Sarah meninggalkan rapat, memesan Uber, lalu bergegas ke rumah sakit. Tak lama kemudian ia sudah berada di ranjang bersalin, menunggu kelahiran putrinya, ketika ponselnya berbunyi. Rupanya persalinan pun belum cukup sakral untuk mengaktifkan Do Not Disturb.
Pesan datang dari tim Sheryl Sandberg. Sang COO sedang berada di World Economic Forum di Davos dan membutuhkan talking points untuk pertemuan dengan Presiden Brasil.
Sarah meraih laptop.
Tom, suaminya, menatap tak percaya. “Apa yang kamu lakukan?” Sarah menjawab bahwa ia “hanya” perlu menyiapkan beberapa poin untuk Sheryl. Kata hanya memang sering membuat keputusan yang tidak masuk akal terdengar masuk akal.
Tom meminta Sarah berhenti. Sarah tetap mengetik. Kontraksi datang, tangannya meninggalkan keyboard. Rasa sakit mereda, ia mengetik lagi.
Akhirnya Tom meminta bantuan dokter. Dr. Veca mendekati ranjang, menutup laptop Sarah perlahan, lalu mengatakan bahwa kelahiran anak pertama adalah momen istimewa. Sheryl pasti akan mengerti.
Sarah menggeleng. “Dia tidak akan mengerti. Tolong biarkan saya menekan Send.”
Dokternya menjawab, “Seharusnya Anda mengejan, bukan mengirim email.”
Sarah tetap membuka laptop itu kembali. Ia menyelesaikan pekerjaannya, menekan Send, dan tak lama kemudian Sasha, putri pertamanya, lahir.
Bertahun-tahun kemudian, Sarah mengaku malu mengingat kejadian itu. Anehnya, ia tidak sepenuhnya menyalahkan Facebook. Ia tahu dirinya ambisius. Ia terbiasa bekerja keras dan tidak suka mengecewakan orang. Namun ada bagian dari pengakuannya yang sulit dilupakan: ketika bekerja di Facebook, ia merasa seperti tidak mempunyai pilihan lain.
Di titik itu, cerita ini sebenarnya bukan lagi tentang Sarah. Juga bukan semata-mata tentang Facebook.
Kita mengenalnya dalam bentuk yang lebih biasa. Membuka WhatsApp ketika makan malam. Menjawab email saat anak meminta ditemani. Membawa laptop ketika liburan. Berkata, “Sebentar, ya,” kepada orang yang kita sayangi karena ada pekerjaan yang katanya cuma lima menit.
Kita menyebutnya profesionalisme. Sering kali memang begitu. Tetapi sesekali, yang kita sebut profesionalisme hanyalah rasa takut mengecewakan orang lain yang datang ke kantor dengan pakaian rapi.
Dan di situlah paradoksnya: kita bekerja keras untuk membangun kehidupan yang lebih baik, sampai pekerjaan mulai mengambil kehidupan yang sedang kita bangun.
Beberapa bulan setelah melahirkan, Sarah berada di Amanjiwo, dekat Borobudur, bersama lingkaran dalam Facebook. Suatu sore Mark Zuckerberg mengajak rombongan berenang di kolam pribadinya.
Bagi yang lain, itu mungkin cuma berenang. Bagi Sarah, urusannya sedikit lebih rumit.
Kita sibuk mengejar masa depan, sampai lupa hadir dalam hidup hari ini.
Ia masih menyusui. Tubuhnya berubah setelah melahirkan dan bikini yang dibawanya sudah tidak pas. Ada pula sesuatu yang selama bertahun-tahun ia sembunyikan dari rekan kerjanya: bekas luka besar di perut akibat serangan hiu yang hampir membunuhnya ketika berusia 13 tahun.
Sarah akhirnya kabur ke toko suvenir hotel dan menemukan one-piece swimsuit yang bisa membuatnya merasa lebih nyaman. Harganya luar biasa mahal. Tetapi hari itu, rupanya rasa aman juga dijual di toko suvenir.
Ketika Sarah kembali ke kolam, percakapan beralih ke keluarga. Mark bercerita bahwa istrinya sedang hamil, tetapi mungkin saja ia tidak hadir ketika anak mereka lahir. Bisa jadi, katanya, ada sesuatu yang lebih penting yang muncul.
Sarah tercengang.
Beberapa bulan sebelumnya ia bekerja ketika dirinya sendiri sedang melahirkan. Sekarang ia mendengar atasannya membayangkan kemungkinan bekerja ketika istrinya melahirkan.
Dua kejadian yang berbeda, tetapi meninggalkan pertanyaan yang sama: berapa banyak kehidupan yang rela kita lewatkan karena pada saat itu ada sesuatu yang terasa lebih penting?
Ironisnya, Sarah datang ke Facebook karena percaya teknologi bisa membuat dunia lebih baik. Sebagai mantan diplomat, ia pernah melihat diplomasi internasional bergerak sangat lambat, sementara Facebook mampu menjangkau ratusan juta manusia hampir seketika.
Dan ia benar. Teknologi membebaskan pekerjaan dari gedung kantor.
Hanya saja kita terlambat membaca tulisan kecil di bawahnya.
Begitu pekerjaan tidak lagi membutuhkan kantor, ia bisa ikut pulang bersama kita. Ke meja makan, kamar tidur, pantai, akhir pekan—bahkan ke ranjang bersalin.
Kita mendapatkan apa yang dahulu kita inginkan: kemampuan bekerja dari mana saja. Belakangan kita baru menyadari sisi lainnya: pekerjaan juga bisa menemukan kita di mana saja.
Tetapi persoalannya bukan ambisi. Dunia membutuhkan orang-orang yang ambisius, orang yang mau mencoba sekali lagi ketika orang lain berhenti, yang bersedia bekerja lebih keras untuk menciptakan sesuatu yang sebelumnya tidak ada.
Yang sering tidak kita pelajari adalah menentukan apa yang tidak boleh dibayar dengan ambisi itu.
Ada email yang boleh menunggu. Ada rapat yang boleh kita lewatkan. Ada kesempatan yang boleh jatuh ke tangan orang lain. Bahkan ada orang yang sesekali boleh kecewa kepada kita.
Sebab tidak semua yang mendesak itu penting. Dan anehnya, banyak hal yang paling penting justru tidak pernah mendesak kita.
Anak yang ingin ditemani tidak mengirim calendar invite. Orang tua yang semakin menua tidak memasang deadline. Tubuh yang kelelahan biasanya hanya berbisik, sampai suatu hari ia berhenti berbisik dan memaksa kita mendengarkan.
Hidup memang buruk sekali dalam urusan mengirim notifikasi.
Sarah berhasil mengirim talking points itu ke Davos. Mungkin dokumen tersebut penting hari itu. Mungkin membantu sebuah pertemuan besar. Mungkin ada orang yang sangat membutuhkannya.
Tetapi hari ini hampir tak seorang pun mengingat apa yang Sarah tulis.
Yang justru bertahan adalah cerita tentang sebuah laptop di ranjang bersalin. Tentang seorang dokter yang menutupnya, seorang ibu yang membukanya kembali, dan seorang bayi yang sebentar lagi datang ke dunia.
Mungkin itu pertanyaan yang perlu sesekali kita ajukan ketika kalender mulai penuh dan semuanya terasa penting: sepuluh tahun dari sekarang, bagian mana dari hari ini yang masih ingin saya ingat?
Bukan supaya kita berhenti mengejar sesuatu. Bukan pula supaya kita merasa bersalah karena bekerja keras. Ambisi tetap perlu, tetapi ambisi seharusnya membawa kita menuju kehidupan—bukan membuat kita terus menundanya.
Sebab kita biasanya takut pada kegagalan. Takut tidak mendapat jabatan, kehilangan kesempatan, kalah cepat, atau melihat orang lain sampai lebih dahulu.
Padahal ada kemungkinan lain yang lebih sunyi.
Kita justru berhasil.
Jabatan itu akhirnya kita dapatkan. Target tercapai. Pendapatan naik. Kalender semakin penuh. Orang-orang melihat kita dan berkata, “Hebat. Kamu sukses.”
Lalu, entah kapan, kita menoleh.
Anak-anak sudah tumbuh. Orang tua semakin menua. Orang yang dahulu selalu menunggu kita mungkin sudah berhenti menunggu. Sebagian orang berubah. Sebagian pergi.
Dan saat itulah kita mungkin baru memahami sesuatu yang seharusnya sederhana sejak awal: kehidupan yang selama ini mati-matian kita perjuangkan ternyata tidak pernah meminta kita untuk memenangkan semuanya.
Ia hanya meminta kita hadir.
Edhy Aruman
JAM 6 TENG—enam menit untuk membaca, seharian untuk merenung.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar