Esai

TikTok di antara Fakta dan Simulakra

SW60Plus.com, 05 Juni 2026, 13:41 WIB
Amang Mawardi
Amang Mawardi
· 22x dilihat

TikTok adalah salah satu media sosial yang belakangan penggunanya terus meningkat di Indonesia. Per Januari 2024, jumlah pengguna aktif TikTok di Indonesia mencapai 157,6 juta — tertinggi di dunia, mengalahkan Amerika Serikat dengan 120,5 juta, Brazil 105,2 juta, Vietnam 65,4 juta, dan Filipina 56,14 juta.

Yang mengherankan, China Tiongkok, negara asal TikTok, justru tak punya pengguna TikTok sama sekali. Negeri dengan penduduk terbanyak kedua di dunia — sekarang nomor satu India — memakai “versi lain” bernama Douyin. Penggunanya tercatat 750 juta, menjadikannya platform media sosial paling banyak digunakan di sana, namun dalam pengawasan dan sensor ketat oleh pemerintah.

Sekarang coba tonton TikTok di Indonesia: isinya membeludak, mulai dari promosi dagang, human interest, pendidikan, tutorial, drama, aksi “amal”, olahraga, dan macam-macam lagi. 
Dalam kaitan dagang misalnya, banyak orang memanfaatkan TikTok untuk menjual baju, celana, jaket, sepatu, jilbab, gamis, bahkan tisu. Belum lagi bahan makanan: kacang kupas, mente, emping, kerupuk, cokelat kemasan bermerek, kurma, dan lain-lain.

Bagaimana TikTok bisa paling banyak disuka? TikTok punya strategi spesifik yang mengubah cara warganet mengonsumsi konten. Beda dengan Facebook, YouTube, dan IG. Kekuatan TikTok ada pada algoritma “For You Page” atau FYP yang bikin nyandu. Begitu aplikasi dibuka, langsung disuguhi video yang diprediksi kita suka, berdasarkan berapa lama kita nge-like, nonton, atau ekstremnya nonton ulang. Hasilnya, 10 menit buka TikTok rasanya seperti 1 menit. Sementara Facebook dan IG masih agak bergantung pada jejaring pertemanan.

Formatnya juga pas dengan kebiasaan sekarang. Video pendek satu menit atau kurang jadi sweet spot buat otak. Tak perlu komitmen nonton lama seperti YouTube. Capek, nunggu, bosan? Geser saja. Barrier buat bikin konten pun rendah. Tak perlu kamera bagus atau jago editing. Template, musik, filter, efek, sudah disediakan di aplikasi. Siapa saja bisa viral, walau modal HP “kentang” plus ide lucu. Di YouTube butuh effort lebih besar untuk berproduksi.

Ditambah lagi, musik dan tren jadi bahan bakar. Satu lagu bisa jadi soundtrack ribuan video berbeda. Challenge, dance, POV, semua muter di ekosistem yang sama. Rasanya seperti ikut gerakan bareng, bukan cuma nonton. TikTok juga lebih ke hiburan murni, bukan pamer hidup. Facebook banyak drama keluarga atau teman. IG banyak pamer gaya hidup. TikTok lebih ke: “kasih gue sesuatu yang lucu, unik, atau nambah ilmu 30 detik”. Lebih ringan, mengurangi tekanan sosial.

Kekurangannya, jadi susah berhenti scroll, dan kontennya kadang dangkal. Tapi buat hiburan cepat, TikTok memang paling pas dengan kebiasaan orang sekarang.

Ranah Abu-abu

Bisa dibilang TikTok main di area abu-abu antara “fakta” dan “simulakra” — istilah dari Jean Baudrillard, visualisasi yang sudah lepas dari realitas aslinya. Banyak konten TikTok mendaku “real life”, “day in my life”, “jujur aja…”. Tetapi semua sudah lewat filter, musik, teks, dan penyuntingan 15 detik. Jadi bukan kejadian apa adanya, melainkan simulasi dari kejadian yang dibikin supaya bergairah dan menarik. Realitasnya ada, namun sudah direkayasa sesuai kehendak algoritma.
Juga, tren bikin realitas baru. Orang menangis di TikTok karena sedih, atau karena lagi ikut tren “sad audio”? Kadang kedua-duanya. Ekspresi asli bisa jadi ikut template yang sudah ada. Di sinilah simulakra bekerja: isyarat atau simbol kesedihan lebih penting dari kesedihan itu sendiri. Fakta bisa muncul, tapi lewat hiperbola. Edukasi, berita, tutorial banyak dijumpai di TikTok. Tetapi biar masuk FYP, fakta itu mesti dibungkus sesuatu yang dramatis, cepat, dan gampang dicerna. Fakta aslinya masih ada. Namun bentuknya sudah terkonversi ke simulasi fakta — disederhanakan, dipotong, diberi backsound.

Singkatnya, TikTok tidak sepenuhnya bohong, tetapi juga tidak benar-benar jujur. Hasilnya adalah “realitas versi TikTok” — dunia yang terasa nyata, padahal sudah disusun ulang buat menahan perhatian kita setidaknya selama 30 detik. 

Ya, begitulah. TikTok bisa digolongkan sebagai media sosial, tetapi agak beda dari medsos “klasik” seperti Facebook atau X. Oleh sebab itu, banyak orang menyebut TikTok sebagai social media plus entertainment platform: medsos yang mesin rekomendasi hiburannya jauh lebih kuat daripada aspek sosial. Dan di dunia itu, kita bukan cuma penonton — kita juga bahan bakarnya.(*) 

Sumber:
•⁠  ⁠DataReportal. Digital 2024: Indonesia. Januari 2024. https://datareportal.com/reports/digital-2024-indonesia
•⁠  ⁠DataReportal. Digital 2024: China. Januari 2024. https://datareportal.com/reports/digital-2024-china
•⁠  ⁠Analisis strategi TikTok: Wawancara dengan Meta AI, September 2025

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000