Tren Novel Online: Menantu versus Mertua
TIGA empat tahun lalu, saat menunggu panggilan di poliklinik salah satu rumah sakit di Surabaya, secara tidak sengaja saya mengklik novel (bersambung) yang terpampang di Facebook. Saya lupa judulnya, namun ceritanya cukup menarik: seorang suami telah berselingkuh di saat luang, sementara istrinya terus membangun rumah hasil jerih payahnya. Ketika sang suami menikah lagi, ternyata rumah itu kemudian diambil oleh istri kedua. Lucu sekaligus menyebalkan. Saya pun terus membaca hingga tamat.
Untuk melunasinya, saya harus membayar dengan sejumlah koin. Supaya murah, saya membelinya melalui aplikasi B yang menawarkan berbagai promo.
Sejak saat itu saya mulai memperoleh banyak iklan novel. Belakangan saya menyadari, cerita-cerita yang ditawarkan memiliki pola yang hampir sama. Selain itu, jumlahnya sangat banyak. Saya pun sulit melepaskan diri. Meski sering kesal terhadap jalan ceritanya, saya tetap membaca hingga tamat. Dalam hati saya sering bertanya, mengapa saya begitu tertarik mengikuti kisah-kisah yang sebenarnya mudah ditebak.
Lama-kelamaan saya menyadari bahwa novel-novel online di Facebook yang jumlahnya ribuan itu umumnya menggunakan tema yang mirip. Judul-judulnya dibuat sangat menarik di bagian awal, namun setelah dibaca, pola ceritanya hampir sama.
Salah satu contoh judul yang pernah saya baca adalah “Pacarku Tak Setia”, yang kemudian berubah menjadi “Istri Tak Setia”.
Saya juga pernah membaca novel berjudul “Suamiku yang Menyakitkan”, lalu berlanjut dengan “Istri yang Menyakitkan”. Versinya berbeda, tetapi pola dan jalan ceritanya hampir sama.
Novel-novel seperti itu biasanya dibangun di atas tema pengkhianatan, perebutan harta, pernikahan yang tidak harmonis, hingga persaingan antarkerabat. Konflik keluarga menjadi bahan utama yang terus diulang dalam berbagai variasi.
Setiap judul novel yang diposting di Facebook umumnya memiliki panjang sekitar 25–30 bab. Sebagian besar dapat diselesaikan dalam waktu sekitar satu minggu.
Rupanya kini dari novel-novel di Facebook itulah saya memperoleh hiburan.
Mungkin saya hanya penasaran, atau mungkin juga terbawa oleh alur cerita yang dirancang untuk membuat pembaca terus mengikuti kisah hingga akhir. Saya jadi teringat pada karya-karya Kho Ping Hoo yang dulu banyak saya baca. Bedanya, jika cerita Kho Ping Hoo kaya dengan nilai dan petualangan, novel-novel Facebook lebih mengandalkan konflik emosional dan rasa penasaran. Namun keduanya sama-sama memiliki kemampuan membuat pembaca ingin terus membuka halaman berikutnya.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar