“Waton Sulaya”, Dari Durmogati dan Sengkuni hingga Penguasa Pasca Reformasi
DI KALANGAN wartawan pada masa era Orde Baru, singkatan WTS pernah menjadi bahan guyonan yang populer. WTS diplesetkan menjadi Wartawan Tanpa Surat Kabar, sindiran bagi mereka yang mengaku wartawan tetapi tidak memiliki media yang jelas sebagai tempat bernaung. Namun dalam percakapan politik, WTS pada era itu juga dimaknai lain yang lebih menarik. WTS dipelesetkan menjadi Waton Sulaya, istilah Jawa yang berarti "asal menyalahkan", "asal mengkritik", atau "pokoknya menentang".
Istilah itu pernah digunakan untuk menyindir mereka yang dianggap hanya mampu mencari kekurangan dalam berbagai proyek pembangunan tanpa memahami tujuan besarnya. Salah satu yang saya ingat adalah sindiran bagi orang yang mengkritik dan menentang pembangunan waduk di Wonogiri. Bagi sebagian kalangan pada masa itu, para pengkritik sering dipandang sekadar melihat sisi gelas yang kosong.
Senyatanya, tidak semua kritik lahir dari niat yang mulia. Ada kritik yang memang bertujuan menjatuhkan. Ada pula kritik yang lebih didorong kepentingan politik daripada kepentingan publik. Tetapi tidak sedikit kritik yang memang didasri niat baik, dengan dasar pemikiran positif.
Namun sebelum kita buru-buru memberi cap Waton Sulaya kepada para pengkritik, mungkin ada baiknya kita menyimak kearifan dari dunia wayang.
Dalam pewayangan Jawa, ada wayang Durmogati, adik Prabu Duryudana Raja Hastina. Durmogati bukan Pandawa dan jelas bukan musuh Kerajaan Astina. Namun karena kecintaannya kepada kerajaan, ia tidak segan mengingatkan kakaknya ketika melihat kebijakan yang menurutnya dapat membawa Astina ke arah yang berbahaya. Namun memang Durmogati tidak menyampaikan kritiknya langsung kepada kakaknya. Ia sering berbicara saat berhadapan dengan Patih Sengkuni. Sebagai Patih atau Maha
Menteri Astina, Sengkuni dikenal julig yakni pintar berpolitik dan lihai membaca situasi, serta piawai memainkan kata-kata. Ketika Durmogati mengingatkan bahaya kesombongan, ambisi, dan ketidakadilan serta ambisi menghabisi Pandawa dengan berbagai upaya, Sengkuni tidak menjawab substansi peringatannya. Sebaliknya, ia membangun kesan bahwa Durmogatihanya mencari-cari kesalahan keputusan Duryudana. Sengkuni memberi label pada Durmogati sebagai WTS, Waton Sulaya..
Apa yang dilakukan Durmogati, serta sikap dan perilaku Sengkuni sesungguhnya punya makna dan ternyata tidak pernah kehilangan relevansinya dengan kehidupan manusia dan negara.
Mungkin kita masih ingat A Study of History karya sejarawan Inggris Arnold J. Toynbee. Ia menjelaskan bahwa kemunduran peradaban sering bermula ketika kelompok elite kehilangan kemampuan melakukan koreksi terhadap dirinya sendiri. Ketika kritik tidak lagi didengar dan evaluasi diri mulai dianggap ancaman, saat itulah proses kemunduran perlahan dimulai.
Setelah lebih dari seperempat abad Reformasi berjalan, istilah WTS tampaknya mengalami perubahan makna dilihat dari subyeknya. Jika dahulu WTS diarahkan kepada para pengkritik yang dianggap Waton Sulaya, kini publik sesekali menyaksikan gejala yang berlawanan.
WTS tidak lagi berada di pihak pengkritik tetapi kesan Waton Sulaya justru muncul pada sebagian pihak yang merespons kritik. Waton Sulaya dapat menjelma menjadi Waton Sanggah. Pokoknya dibantah. Pokoknya ditanggapi dengan tanggapan walau miskin substansi. Pokoknya dijawab jika perlu dengan merendahkan kredibilitas dan kompetensi si pengkritik.
Dalam beberapa peristiwa publik belakangan ini, kita menyaksikan bagaimana kritik yang sesungguhnya dapat dijadikan bahan refleksi justru dibalas dengan nada yang terkesan defensif. Yang diperdebatkan bukan lagi isi kritiknya, melainkan siapa yang mengkritik.
Padahal kritik yang datang dari mantan pejabat, diplomat senior, akademisi, tokoh masyarakat, atau bahkan rakyat biasa tidak selalu dimaksudkan sebagai serangan. Sering kali kritik lahir dari pengalaman. Dari kepedulian. Dan dari kecintaan terhadap negeri.
Dalam tradisi kepemimpinan yang sehat, kritik bukan musuh kekuasaan tetapi ibarat cermin. Dan seperti cermin, ia memang tidak selalu menampilkan wajah yang ingin kita lihat. Karena itu, mungkin sudah saatnya makna plesetan WTS diperbarui.
Bukan lagi Waton Sulaya. Bukan pula Waton Sanggah. Melainkan Wani Tompo Saran atau berani menerima masukan. Sebab sejarah, baik dalam pewayangan maupun dalam kehidupan bernegara, selalu mengajarkan pelajaran yang sama. Kerajaan, organisasi, dan pemerintahan besar jarang runtuh karena terlalu banyak kritik. Mereka lebih sering tergelincir dan mendapatkan masalah karena tidak berbesar hati dan membuka pikiran serta meninjau kebijaksanaan, lantaran anti kritik. Pun Allah menegaskan bahwa "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui." (QS 2: 216).*
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar