Esai

Wisanggeni dan Mahasiswa di Kampus

SW60Plus.com, 21 Juni 2026, 21:03 WIB
Kabul Budiono
Kabul Budiono
· 21x dilihat

SEORANG teman  memberi tahu saya bahwa ia menamai putranya Wisanggeni. Pengakuan itu memantik rasa penasaran saya. Mengapa? Teman saya ini bukan dalang, bukan seniman, apalagi budayawan karatan. Ia adalah seorang tokoh pers  sekaligus doktor filsafat yang sehari-hari akrab dengan diskursus internet dan media baru, dan kini penjaga gawang TVRI.

Di era sekarang, nama seperti Arjuna, Bima, atau Gatotkaca tentu jauh lebih populer. Memilih nama "Wisanggeni" jelas bukan pilihan biasa. Ketika saya tanya apa alasannya, ia hanya menjawab santai, "Saya suka wayang, dan Wisanggeni adalah tokoh favorit saya." Jawaban yang sederhana, namun menyimpan makna yang dalam.

Siapa Wisanggeni ?

Wisanggeni adalah putra Arjuna. Menariknya, ia tidak akan Anda temukan dalam kitab Mahabharata versi asli India. Wisanggeni adalah "anak kandung" kreativitas Wali dan  pujangga Jawa.  

Kelahiran Wisanggeni adalah visualisasi dari kata "tragis". Ketika masih jabang  bayi, ia disia-siakan  para dewa. Kakeknya sendiri, Batara Brama, tega memisahkan bayi mungil itu dari ibunya, Dewi Dresanala. Atas hasutan jahat Batari Durga, Wisanggeni harus dimusnahkan agar ibunya bisa dikawinkan dengan anak Durga yaitu Dewa Srani.

Bayi Wisanggeni pun dilempar ke dalam kawah Candradimuka yang panas luar biasa, membara.

Namun, takdir dunia pewayangan punya kehandak lain. Bukannya hancur, berkat intervensi Kyai Semar justru membuat keajaiban terjadi. Mak jegagik! Bayi itu keluar dari kawah langsung tumbuh menjadi pemuda yang tampan, cakap, dan sakti mandraguna. Bak  Superman yang tubuh kryptoniannya menyerap sinar kuning matahari.

Prinsip hidup Wisanggeni pun terbentuk sejak lahir.  Semakin ditekan, Wisanggeni semakin menguat. Semakin dihalangi, ia justru semakin berani. Ia tidak pandai berbasa basi, pun tidak pernah menggunakan bahasa halus, kepada siapapun.

Mahasiswa: Wisanggeni dalam Dunia Nyata ?

Di dunia nyata, kita mengenal entitas yang memiliki DNA serupa Wisanggeni dalam wujud  Gerakan Mahasiswa. Dalam bentang sejarah Indonesia, mahasiswa kerap kali menjelma sebagai Wisanggeni. Mereka adalah kekuatan moral yang lahir dari kegelisahan nurani. Mulai dari era Boedi Oetomo, Sumpah Pemuda, pergolakan menjelang Proklamasi, hingga gerakan reformasi—mahasiswa selalu berdiri di garis depan.

Mereka bersuara ketika banyak orang memilih aman dalam diam. Mereka hadir sebagai alarm pengingat ketika kekuasaan mulai mabuk arah dan keluar dari jalur. Fenomena ini universal. Di belahan dunia mana pun, mahasiswa sering kali menjadi katalis perubahan sosial dan politik karena mereka memiliki satu hal yang mulai luntur pada orang dewasa: kegelisahan moral.

Ketakutan Para Dewa dan Skenario yang terancam

Ada satu fragmen hidup Wisanggeni yang boleh direnungkan. Dengan segala kecerdasan, keberanian, dan kesaktiannya, Wisanggeni tidak pernah menjadi raja. Ia tidak pernah mencicipi takhta adipati, menteri, atau  hidup kenyamanan istana.

Tragisnya, menjelang Perang Bharatayuda, Wisanggeni justru harus "dilenyapkan".

Para dewa khawatir. Wisanggeni dianggap terlalu kuat, terlalu berani, dan terlalu sulit diprediksi. Kehadirannya ditakuti bakal merusak skenario perang yang sudah dirancang rapi oleh para dewa. Ia disingkirkan bukan karena ia lemah atau bersalah, melainkan karena ia terlalu kuat dan berpotensi merusak status quo. Ia dimatikan agar tidak menghalangi Abimanyu atau turunannya menjadi raja.

Lalu, bagaimana di dunia nyata?

Sejarah mencatat, banyak "Wisanggeni" dalam gerakan mahasiswa pada akhirnya masuk—atau dimasukkan—ke dalam lingkaran kekuasaan. Fenomena ini terjadi sejak Angkatan '66 hingga era reformasi, di mana mantan aktivis mahasiswa bertransformasi menjadi menteri, anggota dewan, atau bagian dari birokrasi.

Apakah itu salah? Tidak ada jawaban hitam-putih untuk itu.

Menolak Dikooptasi

Namun ada satu hal yang pasti: dalam jagat pewayangan, Wisanggeni adalah tokoh yang mustahil dikooptasi. Ia adalah personifikasi dari independensi. Ia menyuarakan kebenaran dengan bahasa yang lugas, tanpa basa-basi birokrasi. Kepada siapa pun termasuk kepada tokoh berwibawa seperti Arjuna, Bima, Puntadewa, bahkan Kresna, Wisanggeni tidak pernah menggunakan bahasa Krama Inggil (bahasa halus). Ia selalu menggunakan bahasa Ngoko (bahasa lugas/rakyat).

Meski bicaranya blak-blakan, setiap kata yang keluar dari mulutnya didasari oleh niat tulus untuk koreksi dan perbaikan, bukan makian kosong atau kebencian.

Di usia bangsa yang semakin menua ini, kita justru semakin membutuhkan orang-orang dengan karakter seperti Wisanggeni. Mungkin itulah alasan mengapa para pujangga Jawa menciptakan tokoh ini ratusan tahun lalu, sebuah kearifan lokal yang melampaui zamannya.

Pertanyaannya kini, ketika roda kekuasaan terus berputar dan sebagian aktivis mulai nyaman di dalam istana, siapakah—selain elemen mahasiswa yang masih murni—yang hari ini masih berani menjadi Wisanggeni untuk negeri ini?

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000