Xiaomi
Jun Lei pernah bangkrut, kelelahan, lalu membangun Xiaomi dengan filosofi babi terbang.
Jun Lei sebenarnya sudah hidup nyaman. Ia pernah bangkrut, bekerja 16 jam sehari, membawa Kingsoft ke bursa, lalu menjadi investor yang sukses. Namun, menjelang usia 40 tahun, ketika banyak orang mati-matian ingin berada di posisinya, ia justru memilih memulai lagi dari nol.
Masalahnya sederhana sekaligus menyakitkan: Jun Lei sudah sukses, tetapi belum pada mimpi yang paling ia inginkan. Kita pun bisa mengalami hal serupa: sibuk menaiki tangga, lalu terlambat bertanya apakah tangga itu bersandar pada tembok yang benar.
Mimpi Jun Lei lahir di perpustakaan Universitas Wuhan. Setelah membaca kisah Silicon Valley dan terpesona oleh Steve Jobs serta Steve Wozniak, ia menyimpan satu ambisi: membangun perusahaan teknologi kelas dunia (Qi et al., 2020).
Ia pernah mencoba. Bersama beberapa teman, Jun Lei mendirikan perusahaan perangkat lunak Tri-color. Enam bulan kemudian, bisnis itu bangkrut setelah teknologinya ditiru oleh perusahaan lebih besar dan dijual lebih murah. Yang tersisa hanya komputer 286 dan sebuah printer. Investor mungkin menyebutnya aset; Jun Lei mungkin lebih suka menyebutnya sebagai pelajaran mahal.
Kegagalan membawanya ke Kingsoft pada 1992. Jun Lei bekerja nyaris brutal: sekitar 16 jam sehari, tujuh hari seminggu. Work-life balance tampaknya belum masuk dalam agenda. Kerja keras itu akhirnya membawa Kingsoft melantai di Bursa Hong Kong pada 2007.
Seharusnya cerita selesai dengan bahagia. Namun, ketika melihat Alibaba dan Baidu tumbuh jauh lebih besar, Jun Lei menemukan paradoks yang kelak membentuk Xiaomi: kerja keras bisa membawa kita sangat jauh, tetapi belum tentu ke tempat yang tepat. Kita bisa berlari paling cepat, tetapi jika arahnya keliru, kita hanya akan tersesat meski stamina kita mengagumkan.
Pada usia 38 tahun, Jun Lei mundur sebagai CEO Kingsoft dan menjadi investor angel. Uangnya bertambah, pengetahuannya bertambah, tetapi kepuasannya tidak. Semua perusahaan itu berhasil, tetapi bukan perusahaan yang ia bangun sendiri.
Menjelang usia 40 tahun, mimpi lama mengetuk lagi. Pada 6 April 2010, ketika sebenarnya ia tidak perlu membuktikan apa pun lagi, Jun Lei mendirikan Xiaomi bersama tujuh mitra. Kadang risiko terbesar bukan meninggalkan kegagalan, melainkan berani meninggalkan kenyamanan yang sudah tidak membawa kita ke mana-mana.
Jun Lei membawa filosofi yang terdengar seperti lelucon: “Bahkan seekor babi bisa terbang jika berada di tengah pusaran angin.” Bagi Jun Lei, keberhasilan bukan hanya soal bekerja keras, tetapi membaca arah zaman. “Angin” yang dilihatnya adalah internet seluler dan smartphone.
Telepon sedang berubah menjadi kamera, bank, toko, media, peta, dan komputer dalam genggaman. Jun Lei tidak menciptakan gelombang itu; ia menempatkan Xiaomi tepat di jalurnya. Tetapi teori babi terbang punya catatan kaki: angin tidak menciptakan sayap. Yang tidak siap mungkin bukan terbang, melainkan terguling.
Itulah Xiaomi. Kegagalan Tri-color mengajari Jun Lei tentang kompetisi, Kingsoft tentang eksekusi, dan pengalaman sebagai investor tentang momentum. Xiaomi adalah pengalaman puluhan tahun yang dipadatkan menjadi sebuah perusahaan.
Menariknya, Xiaomi tidak memulai dari ponsel. Perusahaan itu meluncurkan MIUI pada 2010, lalu Mi 1 pada 2011 dengan spesifikasi tinggi dan harga sekitar 2.000 RMB. Filosofinya sederhana: produk hebat, harga jujur. Xiaomi juga mengajak Mi Fans untuk memberi masukan, mencoba pembaruan, dan ikut menyebarkan cerita produk melalui Sense of Participation. Pelanggan memberi ide, mencoba produk, lalu ikut mempromosikannya. Bagian pemasaran tentu tidak keberatan. Hasilnya meledak. Pada 2014, Xiaomi menjual sekitar 61 juta smartphone. Tetapi keberhasilan membawa jebakannya sendiri: semakin berhasil sebuah formula, semakin sulit kita percaya bahwa suatu hari formula itu harus ditinggalkan.
Xiaomi mengalaminya. Masalah rantai pasokan, keterlambatan R&D, persaingan Huawei, OPPO, dan VIVO, serta melemahnya hunger marketing membuat penjualan turun menjadi sekitar 55 juta unit pada 2016. Perusahaan yang sedang terbang mendadak kehilangan angin.
Jun Lei kembali masuk ke ruang mesin. Ia menangani rantai pasokan, memperkuat R&D, memperbaiki hubungan dengan pemasok, dan menggeser Xiaomi dari sekadar “murah” menjadi “berkualitas”. Mi MIX kemudian menjadi simbol kebangkitannya.
Perjalanan itu sejalan dengan Spiral Growth Model: tujuan, membaca konteks, menciptakan gagasan, merealisasikan, berefleksi, lalu memulai siklus baru. Pesannya tajam: kegagalan tidak otomatis membuat kita lebih bijak. Tanpa refleksi, kegagalan hanyalah biaya.
Jun Lei kemudian memperluas Xiaomi menjadi Hardware + New Retail + Internet Services, membangun ekosistem IoT, dan menjanjikan margin laba bersih perangkat keras tidak melebihi sekitar 5%. Paradoksnya menarik: Xiaomi ingin menjadi lebih besar dengan mengambil keuntungan yang lebih kecil.
Harga yang menarik mendatangkan pengguna; pengguna memperkuat ekosistem; ekosistem menciptakan pembelian berulang. Pada 2017, pengiriman smartphone Xiaomi meningkat menjadi sekitar 91 juta unit. Setahun kemudian, Xiaomi IPO di Hong Kong dan berkembang menjadi salah satu produsen smartphone terbesar di dunia.
Namun, Xiaomi bukan sekadar tentang smartphone. Ia adalah cerita tentang bagaimana Jun Lei berubah—dan bagaimana perubahan itu menjelma menjadi sebuah perusahaan.
Jun Lei pernah percaya bahwa kerja keras adalah jawaban, lalu belajar bahwa kerja keras membutuhkan arah. Ia membutuhkan hampir dua dekade kegagalan, keberhasilan, dan kelelahan untuk menemukan pusaran anginnya. Usaha membangunkan sayap; zaman menyediakan angin.
Mungkin rahasia “babi terbang” bukanlah babinya, bahkan bukan anginnya. Rahasianya adalah mengetahui kapan membangun sayap, kapan mencari angin, dan kapan berani meninggalkan tempat yang sudah tak berangin.
Pertanyaan paling mengganggu dari Xiaomi bukan tentang bagaimana Jun Lei berhasil.
Bagaimana jika kita sudah bekerja sangat keras selama bertahun-tahun—tetapi ternyata sedang menunggu angin di tempat yang salah?
DAFTAR PUSTAKA
Qi, Q., Cheng, L., & Wang, J. (2020). Jun Lei and Xiaomi—Build amazing products with honest prices and let everyone enjoy the fun of technology. In J. Wang, M. Kosaka, K. Xing, & H. Bai (Eds.), Entrepreneurship in the Asia-Pacific: Case studies (pp. 47–70). Springer. https://doi.org/10.1007/978-981-32-9362-5_3
Wang, J., Kosaka, M., Xing, K., & Bai, H. (Eds.). (2020). Entrepreneurship in the Asia-Pacific: Case studies. Springer. https://doi.org/10.1007/978-981-32-9362-5
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar