Ancaman Rudal Houthi di Langit Kota Suci
DEBU berputar di antara dinding-dinding bata lumpur kuno yang menyerupai jahe raksasa. Di bawah langit Sana'a di kota tua Yaman yang dipanggang matahari, sebuah nyanyian, mungkin juga jeritan, berirama sarkha membahana dari corong-corong pengeras suara masjid. Memantul di antara labirin batu dan masuk ke dalam sanubari para pemuda berkalung senapan panggul.
Mereka menggunakan retorika perlawanan memanfaatkan sentimen keagamaan yang agresif. Mereka selalu memekikkan teriakan lantang: Allahu Akbar, al-Maut li-Amrika, al-Maut li-Israil, al-La’nah ala al-Yahud, an-Nashr lil Islam.." Artinya, kematian bagi Amerika, kematian bagi Israel, kutukan bagi Yahudi, kemenangan bagi Islam.
Slogan ini dicetuskan pendiri gerakan Houthi, Hussein Badreddin al-Houthi, pada awal tahun 2000-an, sebagai manifesto perang yang membakar para petempur di garis depan terhadap imperialisme Barat dan proyek neo-kolonialisme di Timur Tengah. Di mata para pemimpin Houthi, dinasti Saud yang menguasai Arab Saudi, dipandang sebagai perpanjangan tangan imperialisme Barat yang harus dilawan.
Di balik bait-bait yang menggelegar ke arah ufuk barat itu, ada sebuah ancaman yang jauh lebih dekat belakangan ini. Apalagi bagi milisi Houthi, tabung besi panjang yang perlahan terangkat ke angkasa itu bukanlah sekadar senjata, melainkan kepak sayap takdir. Bayang-bayang gelap peluru kendali atau rudal itu menusuk langsung ke jantung iman milyaran umat manusia: kota suci Mekah.
Kelompok Ansar Allah, yang lebih dikenal sebagai Houthi, bukanlah sekadar milisi gurun berpakaian tradisional thobe dengan belati jambiya terselip di pinggang. Mereka adalah anak-anak gunung dari wilayah Sa'dah yang bertransformasi menjadi kekuatan geopolitik yang menakutkan di Laut Merah.
Gerakan ini awalnya lahir pada tahun 1990-an. Semula dianggap sebagai proyek kebangkitan teologis dan kultural kaum Zaidiyah—sebuah sekte dalam Syiah. Tapi kini menjelma menjadi proksi bersenjata canggih dengan pasokan teknologi tanpa awak dan rudal balistik. Di bawah komando Adul-Malik al-Houthi, mereka tak hanya menantang pemerintah Yaman yang sah. Tapi juga melompati batas wilayah, sehingga menabrak murka sang tetangga kaya, Arab Saudi.
Bagi Arab Saudi, dan dunia Islam pada umumnya, ancaman Houthi terhadap wilayah barat daya kerajaan bukan sekadar masalah pertahanan perbatasan. Pertikaian ini memang bukan lagi sekadar perebutan pengaruh kekuasaan antara Riyadh dan Teheran, melainkan sebuah ancaman eksistensial terhadap sumbu spiritual dunia Islam.
Apalagi ketika target-target itu mulai bergeser dari ladang minyak Aramco menuju wilayah suci Hijaz. Narasi perang ini berubah sepenuhnya. Garis imajiner yang ditarik dari peluncur rudal di pegunungan Yaman utara menuju Mekah dipenuhi dengan kecemasan geopolitik dan teologis yang akut.
Sejarah sudah kuat mencatat. Sepanjang konflik berkepanjangan yang membakar Yaman, ingatan kolektif dunia terhentak ketika beberapa kali sistem pertahanan udara Patriot milik Saudi harus siaga penuh mencegat proyektil-proyektil Houthi yang melesat menuju provinsi barat, wilayah tempat Mekah berada.
Ingatan kolektif dunia Islam kerap memutar kembali rekaman menegangkan pada Oktober 2016 dan Juli 2017. Saat itu, militer Arab Saudi mencegat rudal balistik Burqan yang diluncurkan dari dalam wilayah Yaman. Pihak koalisi Saudi menegaskan dengan nada murka bahwa rudal-rudal tersebut diarahkan langsung menuju Mekah, wilayah yang diharamkan pertumpahan darah di dalamnya sejak zaman Nabi.
Houthi punya perhitungan lain. Dalam kalkulasi perang asimetris, mengancam wilayah vital dekat Mekah atau melumpuhkan infrastruktur di sekitarnya adalah cara paling efektif untuk meruntuhkan legitimasi moral Kerajaan Arab Saudi, yang Rajanya berjuluk Pelayan Dua Kota Suci (Khadim al-Haramain ash-Syarifain). Jika Saudi gagal menjamin keamanan langit Mekah, maka runtuhlah pilar utama wibawa mereka di mata dunia internasional.
Geopolitik Timur Tengah memang kerap menjebak kesucian dalam kalkulasi profan. Rudal-rudal jelajah dan drone bunuh diri Qasef atau Samad yang dimiliki Houthi, yang banyak disebut pakar militer mendapat sokongan cetak biru dari Iran, kini memiliki daya jangkau yang kian presisi dan jauh.
Kemampuan ini memaksa sistem keamanan Saudi bekerja dalam siaga tingkat tinggi yang melelahkan. Setiap kali sirene peringatan udara berbunyi di kota-kota perbatasan seperti Jazan atau Najran, getarannya terasa hingga ke lorong-lorong hotel mewah dan pemukiman padat di Makkah. Ketakutan terbesar bukanlah kehancuran fisik bangunan batu Ka'bah. Melainkan hilangnya rasa aman di tempat yang dijanjikan Tuhan sebagai tempat paling aman di muka bumi.
Di bawah temaram lampu-lampu menara Masjidil Haram, ancaman itu terasa seperti bayangan panjang yang enggan pergi. Perang di Yaman, dengan segala kelaparan dan tragedi kemanusiaannya, telah melahirkan monster trauma yang kini balik meneror ketenteraman kawasan. Mekah, yang sepanjang sejarahnya telah menyaksikan berbagai konflik dari genosida kaum Qaramitah, kini berhadapan dengan era baru terorisme udara yang dikendalikan dari jarak ratusan kilometer.
Kelompok Houthi selalu berkilah. Setiap kali sebuah rudal balistik Burkan atau pesawat tanpa awak jarak jauhnya melesat ke arah utara, mereka mengklaim sasarannya adalah Bandara Internasional King Abdulaziz di Jeddah, pintu gerbang utama jamaah haji, atau pangkalan militer di sekitarnya, bukan kota suci Mekah. Menurut mereka, tuduhan menyerang tanah suci adalah propaganda Riyadh untuk memobilisasi sentimen dunia Islam melawan Yaman.
Namun, dalam perang modern tatkala batas antara kesalahan navigasi dan kehancuran total teramat tipis, pembenaran taktis itu tetap saja mengkhawatirkan. Jarak antara bandara komersial Jeddah dan kompleks Masjidil Haram hanya sepelemparan batu bagi sebuah rudal supersonik yang kehilangan kendali atau salah sasaran. Logika Houthi laksana bermain api di atas tumpukan mesiu yang diletakkan tepat di sebelah rumah ibadah terbesar di dunia. Batas antara kesalahan taktis dan penistaan teologis menjadi sangat tipis.
Ancaman Houthi terhadap wilayah Arab Saudi bukan lagi sekadar retorika geopolitik. Sejak konflik Yaman meletus menjadi perang regional pada tahun 2015, perbatasan udara jazirah Arab berubah menjadi kanvas pertempuran yang menegangkan. Apalagi Mekah, dengan menara jam raksasanya yang membelah awan dan jutaan jemaah berpakaian ihram putih, berthawaf, berputar seperti galaksi kecil mengelilingi Ka’bah, adalah titik sumbu emosional yang rapuh.
Bayangkan sebuah fajar yang tenang di kota suci, ketika suara zikir masih menggantung rendah di udara, tiba-tiba dipecahkan oleh raungan sirene udara dan ledakan supersonik di langit malam. Dampak psikologis serangan itu, bahkan meski "hanya" berupa pecahan rudal yang jatuh di pinggiran kota Mekah, akan mengirimkan gelombang kejut yang bisa saja meruntuhkan stabilitas politik Timur Tengah.
Ancaman Houthi ini direspon sengit oleh Arab Saudi. Di koridor-koridor kekuasaan di Riyadh, mereka dipandang sebagai perpanjangan tangan dari ambisi regional Iran. Poros perlawanan yang dibangun Teheran menempatkan Yaman sebagai benteng selatan yang sempurna untuk menjepit Saudi.
Houthi terus meningkatkan kapasitas persenjataan mereka. Drone komersial murah diubah menjadi senjata bunuh diri yang mematikan. Mereka juga memodifikasi roket tua menjadi rudal berpemandu presisi, sehingga Mekah secara tak langsung terseret menjadi sandera dalam bidak catur geopolitik ini.
Bayangkanlah amarah Mekah. Kota yang seharusnya menjadi simbol kedamaian dan pelarian dari keduniawian itu, kini secara ironis harus dilindungi oleh baterai-baterai misil pencegat dan radar-radar canggih yang terus berputar tanpa henti. Benteng pertahanan Saudi terus memindai langit malam dari ancaman yang datang dari arah selatan. Monarki kaya ini mencoba membentengi langitnya dengan sistem pertahanan Patriot buatan Amerika Serikat.
Konflik ini melempar ingatan kita pada sejarah kelam tahun 1979. Saat itu Masjidil Haram dikuasai oleh kelompok ekstremis Juhayman al-Otaybi yang menumpahkan darah di tanah yang diharamkan berbuat kekerasan. Ketakutan akan terulangnya penodaan terhadap kota suci kali ini yang digerakkan oleh proksi regional, membuat Arab Saudi bersikap tanpa kompromi. Setiap jengkal tanah di sekitar Mekah dan Madinah dilindungi dengan paranoia militer yang bisa dimaklumi.
Ketegangan ini justeru menjadi daya tawar politik bagi Houthi. Siasat yang dikobarkan bahwa mereka punya kemampuan menjangkau wilayah barat Saudi, mengirimkan pesan yang jelas kepada dunia: kami bisa menyentuh apa pun yang Anda sayangi, jika Anda terus mengepung kami.
Saat malam turun di perbatasan Yaman-Saudi, ketegangan itu terasa pekat seperti kabut gurun. Para pejuang Houthi yang kurus dan bermata tajam bersiap di bawah bayang-bayang gua pegunungan, memprogram koordinat pada panel digital. Di sisi lain, para tentara Saudi menatap layar radar yang dingin di dalam ruang kontrol yang steril.
Di tengah-tengah benturan teknologi dan ideologi ini, Mekah tetap berdiri. Anggun dan tenang dalam balutan batu hitamnya, Ka’bah, yang terus dikelilingi manusia yang thawaf berdoa larut dalam zikir dan air mata memohon keselamatan.
Bagi para jemaah, kontras ini melahirkan ketegangan yang janggal: bersujud pasrah di hadapan Tuhan, sembari menyadari bahwa di atas langit mereka, perisai rudal sedang bekerja keras menjaga nyawa mereka dari kepulan asap perang Yaman atas nama Tuhan.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar