Esai

Penakluk Agung Mati Muda

SW60Plus.com, 08 November 2026, 12:16 WIB
Ahmadie Thaha
Ahmadie Thaha
· 9x dilihat

Sungguh ironi. Donald Trump menghadapi pukulan besar dalam pemilu sela Amerika Serikat, sementara sebuah buku tentang penakluk dunia dari 2.300 tahun silam justru meraih penghargaan bergengsi.

Buku itu berjudul Alexander: God, King, Man, karya Edmund Richardson. Pengarangnya mengajak kita melihat seorang manusia yang pernah merasa sanggup mengubah dunia, tetapi akhirnya meninggalkan dunia dalam reruntuhan.

Kalimat Richardson dalam wawancaranya dengan Lisa Allardice di The Guardian (6/11/2026) terasa melampaui zaman: “Alexander wants to transform the world – and he leaves it in ruins.” Iskandar ingin mengubah dunia, tetapi justru meninggalkannya dalam kehancuran.

Richardson menyampaikan refleksi tajam. Menurutnya, manusia sekarang mulai menyadari batas kekayaan dan kekuasaan yang seolah tidak terbatas. Pada suatu titik, kemanusiaan akan mengejar dan menagih semua tindakan penguasa, suka atau tidak suka. Orang kadang menyebutnya karma.

Kalimat itu seperti cermin yang sengaja diletakkan di depan para pemimpin zaman sekarang. Kekuasaan bisa membuat seseorang merasa tidak tersentuh. Kekayaan bisa membeli istana, media, pasukan, bahkan kesetiaan sementara.

Namun, sejarah mempunyai cara sendiri untuk mengirimkan tagihan. Iskandar Agung menyediakan contoh yang luar biasa.

-000-

Dalam sejarah Barat, dia dikenal sebagai Alexander the Great, raja Macedonia yang membangun salah satu imperium terbesar dalam sejarah dunia kuno.

Dia lahir pada 356 SM. Ayahnya, Raja Philip II, membangun kekuatan militer Macedonia dan mempersiapkan fondasi ekspansi ke wilayah Persia. Ibunya bernama Olympias.

Iskandar memperoleh pendidikan dari sejumlah guru terkemuka, termasuk Aristoteles, filsuf terbesar Yunani pada zamannya.

Ketika Philip II terbunuh pada 336 SM, Iskandar naik takhta dalam usia sekitar 20 tahun. Saat itu, dia belum dikenal sebagai penakluk besar. Dia masih seorang pemuda kurus yang kemampuannya diragukan banyak orang.

Takhta yang diwarisinya juga menyimpan intrik dan ancaman. Dia harus membuktikan bahwa dirinya layak menggantikan sang ayah.

Setelah mengamankan kekuasaannya di Yunani, dia memimpin ekspedisi besar melawan Imperium Persia. Pada 334 SM, pasukannya menyeberangi Hellespont dan memasuki Asia. Dia mengalahkan pasukan Persia dalam sejumlah pertempuran besar, termasuk Granicus, Issus, dan Gaugamela.

Ketika menghadapi Darius III, penguasa Persia yang memimpin lebih dari 50 juta penduduk, Iskandar sebenarnya berada dalam posisi sulit. Pasukannya kalah jumlah.

Dia baru saja mengalami demam yang membuat tubuhnya gemetar dan tak berdaya. Keraguan bahkan mulai menyebar di antara tentaranya.

Sebaliknya, Darius begitu yakin akan kemenangan sampai membawa keluarganya menyaksikan pertempuran. Richardson menulis dengan dramatis: Iskandar belum mengetahui bahwa dirinya sedang berada di ambang legenda.

Raja Darius III akhirnya kehilangan kekuasaannya. Iskandar kemudian menguasai Babilonia, Persia, Mesir, dan wilayah luas hingga Asia Tengah.

Namun, dia belum puas. Pasukannya terus bergerak ke timur, menyeberangi kawasan yang kini menjadi Afghanistan dan Pakistan, sampai mencapai wilayah Sungai Indus.

Ketika tentaranya menolak melanjutkan perjalanan setelah bertahun-tahun berperang, Iskandar terpaksa menghentikan ekspedisi.

Dia meninggal di Babilonia pada 323 SM, ketika berusia 32 tahun. Ia mati muda. Imperium yang dibangunnya kemudian pecah menjadi wilayah-wilayah kekuasaan para jenderalnya.

Inilah salah satu paradoks terbesar dalam sejarah. Seorang manusia menghabiskan hidupnya untuk menyatukan dunia. Namun, sebelum jasadnya dimakamkan, para pengikutnya sudah mulai memperebutkan warisannya.

-000-

Edmund Richardson, pengarang buku ini, merupakan profesor bidang Classics di Durham University, Inggris. Bidang kajian ini mencakup peradaban, bahasa, sastra, dan sejarah Yunani-Romawi kuno.

Richardson memiliki reputasi sebagai penulis sejarah yang gemar menggali tokoh-tokoh dan kisah yang terlupakan.

Buku sebelumnya, Classical Victorians: Scholars, Scoundrels and Generals in Pursuit of Antiquity (2013), membahas para sarjana dan petualang era Victoria yang memburu peninggalan klasik.

Kemudian dia menulis Alexandria: The Quest for the Lost City (2021), tentang Charles Masson, seorang penjelajah dan peneliti peninggalan kuno.

Menariknya, Richardson pertama kali mengenal Iskandar ketika masih anak-anak melalui novel trilogi Alexander karya Mary Renault, terbitan 1969.

Dia juga tumbuh dalam keluarga akademisi. Ayahnya seorang matematikawan Amerika, sedangkan ibunya sejarawan seni berdarah Inggris-Irlandia. Rumah mereka penuh buku.

Richardson sempat mempertimbangkan menjadi ahli matematika seperti ayahnya. Namun, ketertarikannya terhadap dunia kuno membawanya ke Cambridge untuk mempelajari Classics. Di sana, dia pernah belajar di bawah bimbingan Mary Beard, sejarawan klasik terkemuka.

Menulis biografi Iskandar Agung sebenarnya membuat Richardson ketakutan. Bagaimana tidak? Ribuan buku sudah membahas tokoh itu.

Sejumlah sejarawan besar, arkeolog, novelis, bahkan pembuat film telah mengolah kisahnya. Dia merasa seperti hendak memasuki arena yang sudah dipenuhi para raksasa.

Namun, justru di situlah tantangannya. Richardson ingin menemukan manusia di balik legenda. Dia ingin bertemu Iskandar sebelum dunia memberinya gelar Agung.

Untuk itu, dia menghabiskan lebih dari sepuluh tahun melakukan penelitian. Perjalanannya membawanya dari ruang penyimpanan British Museum di London ke katakomba Mesir, hingga kaki pegunungan Himalaya.

Perjalanan tersebut tidak selalu berlangsung mulus. Di Kairo, dia pernah berhadapan dengan barikade ban terbakar ketika demonstrasi berlangsung.

Kunjungannya ke Afghanistan bahkan terpaksa dibatalkan setelah Taliban menjarah hotel tempatnya menginap.

Richardson berseloroh bahwa orang-orang yang mengambil papirus atau laptop untuk menulis kisah Iskandar cenderung mengalami kejadian buruk.

Dia mengingat Callisthenes, sejarawan yang mengikuti ekspedisi Iskandar dan merupakan keponakan Aristoteles. Menurut sejumlah sumber kuno, Callisthenes mengalami kematian setelah berselisih dengan Iskandar.

Tradisi sejarah menyebut berbagai versi akhir hidupnya, termasuk kematian dalam tahanan dan penyaliban.

Pengalaman itu membuat Richardson merasakan betapa sejarah Iskandar seperti cerita yang menelan orang-orang yang berusaha mengungkapnya. Dia juga semakin sadar akan keterbatasannya sendiri sebagai penulis dan sejarawan.

Salah satu keistimewaan buku ini terletak pada penggunaan sumber sejarah dari 12 bahasa kuno. Richardson menerjemahkan sendiri berbagai sumber, termasuk tulisan hieroglif Mesir dan aksara paku atau cuneiform.

Dia memanfaatkan teknologi baru, simulasi komputer, penemuan arkeologi, dan catatan astronomi Babilonia yang baru berhasil diuraikan untuk menguji kembali cerita yang selama berabad-abad beredar tentang Iskandar.

Penerbit Bloomsbury menerbitkan edisi Inggris buku ini pada 4 Juni 2026. Tebalnya 480 halaman, dengan harga sampul £25. Pada 4 November 2026, buku ini memenangkan Baillie Gifford Prize for Non-Fiction, penghargaan senilai £50.000.

Kemenangan itu memiliki arti tersendiri. Sejak penghargaan tersebut berdiri pada 1999, inilah buku sejarah kuno pertama yang memenangkannya.

Ketua dewan juri, Kirsty Lang, menyebutnya sebagai sejarah bergaya blockbuster dengan daya tarik naratif yang luar biasa. Dia memuji perpaduan penelitian, teknologi baru, penemuan arkeologi, dan keterampilan bercerita Richardson.

-000-

Apa yang membedakan buku Richardson dari puluhan biografi Iskandar sebelumnya?

Banyak buku terdahulu menonjolkan kejayaan militer, strategi pertempuran, kecerdasan seorang panglima, dan luasnya wilayah yang berhasil dia taklukkan.

Richardson tetap membahas semua itu, tetapi dia juga mengajak pembaca menyaksikan perubahan psikologis seorang manusia ketika kekuasaan terus membesar.

Dia menggambarkan Iskandar sebagai manusia dengan dua sisi yang sangat kontras.

Tokoh ini mampu memperlihatkan keberanian, kecerdasan, rasa ingin tahu, kemurahan hati, dan kasih sayang yang luar biasa. Pada saat bersamaan, dia juga mampu melakukan kekejaman dan kekerasan yang mengerikan.

Richardson membuat peperangan terasa hidup melalui detail teknis yang jarang mendapat tempat dalam biografi populer.

Dalam Pertempuran Issus, misalnya, dia menjelaskan formasi phalanx, mesin perang yang terdiri atas barisan prajurit sedalam 16 orang dengan tombak sepanjang sekitar 19 kaki atau hampir enam meter.

Bayangkan pagar berjalan yang ujung-ujungnya mengancam siapa saja yang mendekat.

Pengepungan Tirus tampil melalui sudut pandang seorang insinyur militer.

Richardson menguraikan penggunaan katapel, mesin pengebor, trisula, dan alat raksasa yang mampu mencengkeram tentara musuh lalu membanting mereka ke bebatuan.

Dia juga mengajukan kemungkinan bahwa Darius dapat memenangkan Pertempuran Gaugamela jika mengetahui satu kelemahan tak terduga: kuda-kuda sulit menoleransi bau gajah.

Detail itu membuat sejarah militer terasa seperti adegan film. Namun, film ini menyimpan kekejaman yang nyata.

Setiap kemenangan membawa pembantaian baru, setiap pengepungan meninggalkan korban, dan setiap perluasan wilayah menuntut harga manusia yang mahal.

Iskandar mengagumi Homer, terutama Iliad, dan menjadikan Achilles sebagai model kepahlawanan. Konon, dia selalu tidur dengan salinan karya Homer di bawah bantalnya.

Dia juga mengagumi Aristoteles, gurunya sendiri. Namun, kemenangan demi kemenangan membuat ambisinya semakin sulit dikendalikan.

Dalam ekspedisi ke Mesir, misalnya, dia mengunjungi oasis Siwa. Di sana, para pendeta Mesir menghubungkannya dengan dewa Amun. Iskandar kemudian membiarkan dirinya dipandang sebagai putra dewa tersebut.

Dalam sebuah surat kepada ibunya, Olympias, dia konon memperkenalkan diri sebagai Alexander, putra Zeus-Amun.

Ibunya menanggapi dengan humor seorang ibu yang mengenal anaknya. Dia meminta Iskandar agar jangan lagi menyebut dirinya demikian.

Kisah ini mungkin terdengar ringan, tetapi memperlihatkan jarak antara seorang raja yang mulai menganggap dirinya ilahi dan seorang ibu yang tetap melihatnya sebagai anak sendiri.

Perjalanan menuju keilahian itu terus berlanjut. Iskandar semakin sulit membedakan kedudukannya sebagai raja Babilonia, penguasa Mesir, putra Philip, dan putra Amun. Kekuasaan mulai mengubah cara dia memahami dirinya sendiri.

Richardson juga menghadirkan adegan yang lebih manusiawi sekaligus menggelikan.

Di Susa, Iskandar pernah mabuk dan berjanji melunasi utang para prajurit serta menyediakan mas kawin bagi mereka. Janji itu terdengar mulia ketika pesta masih berlangsung.

Ketika kerajaan harus membayar seluruh tagihan, Richardson menyebutnya sebagai “mabuk paling mahal dalam sejarah”. Seorang raja ternyata bisa membuat keputusan fiskal dengan kepala pening.

Humor semacam itu menjadi salah satu kekuatan buku Richardson.

Ketika membahas pandangan orang Yunani terhadap Persia, dia menyelipkan komentar bahwa bangsa Persia dianggap lemah dan tidak beradab, antara lain karena sebagian dari mereka mengenakan celana panjang.

Dia juga mengangkat kisah para penyintas Perang Troya yang konon meninggalkan tempat asal mereka karena pantat mereka mulai membusuk. Mereka kemudian mendirikan kota bernama Pygela, yang secara jenaka diterjemahkan sebagai “Kota Pantat”.

Richardson menyelipkan keanehan dan kelucuan manusia di tengah kisah yang penuh darah.

Sejarah pun terasa lebih dekat dengan kehidupan nyata: manusia bisa sangat agung dalam satu hal, sangat konyol dalam hal lain, dan tetap berbahaya ketika memegang kekuasaan.

Buku ini juga mengingatkan pembaca bahwa ekspansi Iskandar membawa korban yang sangat besar.

Ulasan The Guardian menyebut perkiraan bahwa kampanyenya menyebabkan kematian sekitar satu persen penduduk dunia yang dikenal pada masa itu. Angka tersebut merupakan perkiraan historis, bukan hitungan pasti. Namun, skalanya tetap mengerikan.

Richardson memberikan koreksi terhadap cara kita memandang para penakluk.

Sejarah sering mengukur keagungan melalui luas wilayah, jumlah kemenangan, dan banyaknya kerajaan yang tunduk. Ukuran itu kerap mengabaikan harga yang dibayar manusia biasa.

Bayangkan seorang penguasa yang berhasil menaklukkan begitu banyak negeri, tetapi meninggalkan ribuan keluarga kehilangan ayah, anak, suami, dan tempat tinggal.

Peta kekuasaannya semakin luas, sementara kuburan rakyatnya ikut memanjang.

Menariknya, Richardson juga tidak mengabaikan warisan intelektual Iskandar. Ekspedisinya mempertemukan berbagai peradaban yang sebelumnya memiliki hubungan terbatas.

Pengetahuan astronomi Babilonia memasuki tradisi intelektual Yunani. Seni Yunani menyebar hingga kawasan perbatasan Sungai Indus. Tradisi keilmuan Mesir ikut memperkaya dunia Helenistik.

Kota Alexandria di Mesir kemudian berkembang menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan terbesar di dunia kuno. Perpustakaan dan lembaga penelitiannya menjadi simbol pertemuan berbagai tradisi intelektual.

Richardson mengungkap pencapaian luar biasa lingkungan ilmiah itu: rancangan mesin uap awal, perhitungan keliling bumi yang mendekati akurat, burung mekanis yang bernyanyi dengan tenaga udara, dan penyusunan edisi karya Homer yang berusaha menyatukan berbagai naskah.

Bagi Richardson, pencapaian tersebut bahkan lebih menakjubkan daripada keajaiban dunia yang terkenal pada zaman kuno.

Dia menilai warisan Perpustakaan Alexandria sebagai salah satu dampak paling jauh jangkauannya dari kehidupan Iskandar. Pedang sang penakluk membuka wilayah; para ilmuwan yang datang kemudian membuka cakrawala pengetahuan.

Richardson melihat Iskandar sebagai tokoh yang mengubah hubungan antardunia.

Dalam pengertian tertentu, dia menyebut Iskandar sebagai jawaban zaman kuno terhadap internet.

Ekspedisi militernya membuka jalur pertukaran manusia, pengetahuan, teknologi, seni, dan gagasan. Jaringan itu lahir melalui penaklukan dan kekerasan, tetapi dampaknya melampaui kehidupan sang penakluk.

-000-

Pada usia 20 tahun, Alexander belum dianggap siapa-siapa. Beberapa tahun kemudian, dia membuat imperium Persia runtuh. Namun, siapa yang akhirnya menaklukkan sang penakluk?

Kisah Iskandar berakhir jauh dari gemerlap kemenangan. Dia meninggal pada usia 32 tahun di Babilonia, setelah melewati begitu banyak pertempuran dan berkali-kali lolos dari maut.

Dia kehilangan sahabat terdekatnya, Hephaestion, dihantui kecemasan tentang kematian, dan semakin tenggelam dalam paranoia.

Richardson mengajukan kemungkinan bahwa Iskandar meninggal akibat infeksi Salmonella typhi, bakteri penyebab tifus, yang mungkin masuk melalui air sungai tercemar.

Dugaan ini tetap menjadi hipotesis medis. Sejarah belum memberikan kepastian mengenai penyebab kematiannya.

Kontrasnya terasa luar biasa. Orang yang pernah membuat kerajaan-kerajaan gemetar akhirnya terbaring lemah, kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri.

Sang anak telah menjadi raja, sang raja menjadi pahlawan, sang pahlawan menjadi dewa yang hidup. Kini, sang dewa sedang sekarat di Babilonia.

Kisah Richardson sendiri ternyata memiliki sisi dramatis yang hampir menyerupai kisah tokoh yang ditulisnya.

Sekitar tiga tahun sebelum wawancara The Guardian, dia mendapat diagnosis kanker.

Dia pernah mengalami melanoma ketika remaja, dan penyakit itu muncul kembali beberapa kali. Saat menerima diagnosis terbaru, usianya belum genap 40 tahun.

Dia menulis buku tersebut dalam ketidakpastian apakah dirinya masih hidup ketika buku itu terbit. Bahkan, dia sempat meragukan kemampuannya menyelesaikan naskah.

Dunia yang sebelumnya begitu luas menyempit menjadi lorong-lorong rumah sakit dan cahaya lampu neon.

Menulis menjadi semacam perjalanan lain baginya, perjalanan ke dunia gagasan. Buku dan orang-orang yang dicintainya membantu dia menemukan kembali dirinya di tengah ketakutan.

Richardson kemudian dinyatakan bebas dari kanker. Namun, sekitar setahun sebelum wawancara, dia kembali masuk rumah sakit setelah pingsan, kemungkinan akibat tekanan dan stres.

Ketika sadar keesokan harinya, dia melihat dua pasien di bangsal yang sama sedang diborgol oleh polisi.

Dia tertawa mengenang pemandangan itu: dirinya dengan laptop dan hieroglif, sementara dua pasien lain berhadapan dengan petugas polisi.

Pengalaman tersebut menjadi titik balik. Richardson sebelumnya kesulitan menemukan akhir bukunya. Bagaimana mengakhiri kisah seseorang yang akhirnya meninggal dan meninggalkan begitu banyak kehancuran?

Setelah pengalaman di rumah sakit itu, dia kembali menata manuskripnya dengan semangat baru. Dia berusaha menemukan secercah harapan di tengah cerita yang tampaknya hanya menyisakan kegelapan.

Kehidupan pribadinya juga memberi kekuatan. Ketika menjalani program pascadoktoral di Princeton, dia bertemu Yepoka Yeebo, jurnalis dan penulis yang saat itu belajar di Columbia University.

Mereka kemudian tinggal bersama di New York sebelum kembali ke London. Richardson menyebut Yepoka sebagai cinta dalam hidupnya dan mengakui bahwa perempuan itulah yang membuatnya mampu melihat dunia secara utuh.

Kisah berikutnya yang ingin dia tulis juga menarik. Dia berencana mengangkat Flinders Petrie, arkeolog Inggris yang pada 1888 mengembangkan gagasan untuk mengalahkan kematian di gurun Mesir.

Richardson rupanya kembali ingin menulis tentang orang-orang yang jarang dikenal publik.

-000-

Ada pertanyaan menarik bagi pembaca Muslim: apakah Iskandar Agung sama dengan Dzulqarnain dalam Al-Qur’an?

Surah al-Kahfi ayat 83–98 menceritakan seorang penguasa yang Allah beri kekuasaan dan kemampuan menjelajahi berbagai penjuru bumi.

Dia melakukan perjalanan ke arah barat, ke arah timur, dan sampai di suatu kawasan di antara dua gunung. Di sana dia membantu suatu kaum membangun penghalang untuk menghadapi ancaman Ya’juj dan Ma’juj.

Al-Qur’an menyebutnya Dzulqarnain, yang secara harfiah berarti pemilik dua tanduk. Namun, Al-Qur’an tidak menyebut nama pribadinya.

Tradisi tafsir Islam mengenal beberapa pendapat mengenai identitas tokoh tersebut. Sebagian mufasir mengidentifikasikannya dengan Alexander atau Iskandar dari Macedonia.

Sebagian ahli tafsir lainnya mengajukan Cyrus Agung, raja Persia yang mendirikan Imperium Akhemeniyah. Ada pula pendapat yang menghubungkannya dengan penguasa dari Yaman.

Mengapa Iskandar Agung memperoleh tempat dalam perdebatan itu? Salah satu sebabnya ialah tradisi penggambaran Alexander dengan tanduk.

Dalam ikonografi kuno, Iskandar pernah digambarkan dengan atribut tanduk dewa Amun dari Mesir. Sebagian orang kemudian menghubungkan gambaran tersebut dengan gelar Dzulqarnain.

Tradisi sastra yang dikenal sebagai Alexander Romance juga menyebarkan kisah-kisah legendaris tentang perjalanan Iskandar, termasuk cerita mengenai tembok yang menahan bangsa-bangsa perusak.

Kisah tersebut berkembang dalam berbagai bahasa, termasuk versi Suryani yang dikenal sebagai Neṣḥānā d-leh d-Aleksandrōs. Sejumlah peneliti mengkaji hubungan tradisi tersebut dengan kisah Dzulqarnain.

Namun, penyamaan Alexander historis dengan Dzulqarnain menghadapi persoalan serius dari sudut teologis.

Alexander hidup dalam tradisi politeisme Yunani. Dia menghubungkan dirinya dengan dewa-dewa, bahkan pada masa akhir hidupnya memperlihatkan kecenderungan mengagungkan dirinya sebagai sosok ilahi.

Sementara itu, Dzulqarnain dalam Al-Qur’an tampil sebagai penguasa yang mengakui Allah, berlaku adil, dan menghubungkan keberhasilannya dengan rahmat Tuhan.

Perbedaan karakter tersebut membuat sejumlah ulama dan peneliti menolak penyamaan keduanya. Mereka menganggap Cyrus Agung lebih mendekati gambaran penguasa yang beriman dan adil, meskipun identifikasi Cyrus pun masih menjadi perdebatan.

Sebuah kajian Qoriatul Fitriyah dan Muhammad Prihadi Eko Wahyudi yang terbit pada 2026, misalnya, menyimpulkan bahwa karakter Cyrus lebih sesuai dengan deskripsi Dzulqarnain dalam Al-Qur’an.

Kajian Laura Bottini juga memperlihatkan panjang dan kompleksnya perdebatan identitas tokoh tersebut dalam tradisi keagamaan.

Karena itu, kita perlu membedakan tiga hal: Alexander historis, Alexander dalam legenda, dan Dzulqarnain dalam Al-Qur’an.

Ketiganya mempunyai wilayah persinggungan, tetapi sumber dan karakter masing-masing perlu kita kaji secara terpisah.

Buku Richardson terutama membahas Alexander historis beserta warisan legenda yang menyelimutinya. Buku itu tidak menawarkan pembuktian bahwa Alexander adalah Dzulqarnain.

Pembaca Muslim justru memperoleh kesempatan membandingkan kedua figur tersebut secara lebih kritis.

-000-

Kembali kepada Trump. Mengapa Richardson merasa kisah Iskandar Agung sangat relevan dengan politik Amerika sekarang?

Pemilu sela 3 November 2026 memberikan pukulan besar kepada Partai Republik. Demokrat berhasil merebut mayoritas DPR dan Senat, sebagaimana dikonfirmasi Associated Press.

Kemenangan itu menjadi penolakan politik yang kuat terhadap pemerintahan Trump. Pemilih Amerika menunjukkan bahwa mereka masih mempunyai kemampuan membatasi kekuasaan presiden, sekalipun presiden itu menguasai panggung politik dan mempunyai sumber daya sangat besar.

Tentu saja, Trump dan Iskandar hidup dalam zaman, sistem politik, dan lingkungan peradaban yang sangat berbeda. Namun, ada satu pelajaran yang menghubungkan keduanya: kekuasaan selalu menghadapi batas.

Iskandar mempunyai tentara terbaik, jenderal-jenderal tangguh, kekayaan hasil penaklukan, dan reputasi yang membuat kerajaan-kerajaan gemetar.

Namun, dia tidak mampu memaksa tentaranya terus berjalan ketika mereka sudah kelelahan. Dia tidak mampu memastikan kesetiaan para pengikutnya setelah kematiannya.

Bahkan, dia tidak mampu mempertahankan imperium yang susah payah dibangunnya.

Richardson mengingatkan bahwa kekuasaan yang tidak mengenal batas akhirnya berhadapan dengan kemanusiaan.

Seorang penguasa bisa menguasai wilayah, tetapi tidak pernah benar-benar menguasai sejarah. Dia bisa membungkam lawan, tetapi tidak bisa menjamin generasi berikutnya akan mengingatnya dengan hormat.

Iskandar menghabiskan hidupnya mengejar keabadian melalui penaklukan. Dia ingin namanya terus dikenang. Sampai sekarang memang demikian.

Namun, orang mengenangnya melalui dua wajah sekaligus: kejeniusannya sebagai panglima dan kehancuran yang ditinggalkannya.

Barangkali itulah makna terdalam judul buku Richardson: God, King, Man. Tiga identitas dalam satu kehidupan. Manusia menjadi raja, raja ingin menjadi dewa, tetapi kematian mengembalikannya kepada kenyataan bahwa dia tetap manusia.

Kita sering menyaksikan penguasa yang menganggap dirinya terlalu besar untuk dikalahkan. Sejarah berkali-kali membuktikan sebaliknya.

Kekuasaan mempunyai tanggal kedaluwarsa, sementara akibat keserakahan dan kesombongan bisa bertahan jauh lebih lama.

Membaca buku tentang Iskandar Agung ketika Trump menerima pukulan politik terasa sangat tepat.

Buku ini mengajak kita melihat sejarah dari sisi yang jarang memperoleh perhatian: kemenangan terbesar seorang penguasa belum tentu menjadi keberhasilan terbesar umat manusia.

Richardson mungkin telah menghabiskan sepuluh tahun untuk memahami Iskandar. Namun, pelajaran yang dia temukan sesungguhnya berlaku jauh melampaui Macedonia, Persia, atau Babilonia.

Seorang penguasa bisa berusaha mengubah dunia dengan seluruh kekuatan yang dimilikinya. Tetapi dunia juga mempunyai cara untuk membalasnya.

Cak AT - Ahmadie Thaha

Ma'had Tadabbur al-Qur'an, 8/11/2026

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000