Esai

Belok

SW60Plus.com, 25 September 2026, 07:41 WIB
Edhy Aruman
Edhy Aruman
· 7x dilihat

MARY Barra masuk General Motors ketika berusia 18 tahun sebagai mahasiswa magang teknik. Bertahun-tahun kemudian, kariernya tumbuh di dunia yang sangat dekat dengan mesin, pabrik, dan operasi. Jalurnya terlihat cukup jelas.


Sampai suatu hari ia dipindahkan ke Human Resources.


Bagi seorang eksekutif berlatar belakang teknik dan operasi, HR bisa terasa seperti keluar dari jalur utama. Apalagi di industri otomotif yang keras dan didominasi laki-laki, fungsi seperti HR saat itu mudah dianggap sebagai pekerjaan yang lebih “lunak”.


Barra bisa saja menjalaninya sambil menunggu kesempatan kembali ke jalur yang dianggap lebih menjanjikan. Tetapi ia bertahan dan memilih masuk sepenuhnya ke pekerjaan itu.


Ia punya kebiasaan yang sederhana: mengerjakan pekerjaan yang ada di depannya seolah-olah ia akan berada di sana selamanya. Bukan karena ia tidak punya ambisi, tetapi karena ia tidak ingin pekerjaan hari ini cuma menjadi ruang tunggu menuju pekerjaan berikutnya.


Di situlah paradoksnya. Kita sering terlalu sibuk memikirkan pekerjaan berikutnya, sampai lupa bahwa pekerjaan hari inilah yang sedang membentuk kemampuan kita untuk sampai ke sana.


Barra tidak menjadikan HR sebagai ruang tunggu. Ia masuk ke persoalan talenta, pengembangan kepemimpinan, kompensasi, sampai transformasi organisasi. Dari sana, ia melihat GM bukan hanya sebagai perusahaan yang membuat mobil, tetapi sebagai organisasi yang digerakkan oleh manusia dan keputusan-keputusan mereka.
Lalu ia menemukan sesuatu yang kelihatannya sepele: aturan berpakaian.
GM memiliki panduan dress code sepanjang sepuluh halaman. Barra memangkasnya menjadi dua kata:
Dress appropriately.
Berpakaianlah secara pantas.


Kadang-kadang, jalan yang terasa menjauh justru sedang menyiapkan kita.

Tentu tidak semua orang langsung nyaman. Seorang manajer bahkan mempertanyakan bagaimana ia harus menghadapi karyawan kalau aturannya hanya dua kata. Barra justru melihat itulah pekerjaannya sebagai manajer: menggunakan pertimbangan, berbicara dengan orang, lalu mengambil keputusan.
Tiba-tiba dress code tidak lagi bicara soal pakaian. Ia bicara tentang kepercayaan.
Organisasi menyukai aturan karena aturan memberi rasa aman. Tetapi ketika semua hal dibuatkan petunjuknya, orang bisa berhenti menggunakan penilaian sendiri. Sepuluh halaman mungkin membuat semuanya lebih jelas, tetapi dua kata memaksa orang untuk berpikir.


Pengalaman di HR akhirnya memberi Barra sesuatu yang mungkin tidak ia dapatkan kalau seluruh kariernya tetap berjalan lurus. Teknik dan operasi mengajarinya tentang produk dan proses. HR memperluas pandangannya tentang manusia, budaya, dan bagaimana sebuah organisasi benar-benar bekerja.


Pada 2014, Mary Barra menjadi CEO General Motors dan perempuan pertama yang memimpin salah satu produsen otomotif besar Amerika Serikat. Jalan menuju kursi itu ternyata tidak hanya dibangun dari posisi-posisi yang terlihat seperti kenaikan.
Ada juga sebuah belokan.


Dan mungkin di situlah ceritanya mulai terasa dekat.
Kita menyukai karier yang lurus. Jabatan naik, tanggung jawab bertambah, penghasilan meningkat. Semuanya rapi seperti grafik yang bergerak ke kanan atas.
Sayangnya, hidup kadang tidak membaca presentasi kita.
Ada saat ketika kita mendapat pekerjaan yang tidak diinginkan, proyek yang terasa kecil, atau posisi yang membuat kita bertanya apakah kita sedang maju atau malah mundur. Sementara itu, orang lain terlihat melaju dan kita seperti berjalan ke samping.


Kita lalu buru-buru menyebutnya kemunduran.
Padahal kita belum tahu.


Bisa jadi pekerjaan yang sekarang terasa tidak penting sedang mengajarkan sesuatu yang kelak sangat kita butuhkan. Bisa jadi jalan memutar mempertemukan kita dengan kemampuan yang tidak akan pernah ditemukan kalau semuanya berjalan sesuai rencana.


Tentu tidak setiap belokan akan berakhir indah. Tetapi kita tetap bisa memilih bagaimana menjalaninya.
Kita memang tidak selalu bisa memilih ke mana hidup membelokkan jalan. Tetapi kita masih bisa memilih siapa diri kita ketika melewatinya.


Sebab bisa jadi, jalan yang hari ini paling ingin kita tinggalkan adalah jalan yang suatu hari membuat kita siap ketika akhirnya tiba di tempat yang kita inginkan.

Edhy Aruman
JAM 6 TENG—enam menit untuk membaca, seharian untuk merenung.

RUJUKAN
Dewar, C., Keller, S., Malhotra, V., & Strovink, K. (2025). A CEO for all seasons: Mastering the cycles of leadership. Scribner.

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

0 / 2000